Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Will You Marry Me?


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Hari itu adalah hari pernikahan Ayla yang diselenggarakan cukup meriah di kafe. Banyak tamu undangan yang datang, mulai dari saudara, sahabat Ayla dan pasangannya, para tetangga dan juga beberapa teman Airin.


Airin tersenyum melihat kebahagiaan Kakaknya. Akhirnya Kakaknya mendapatkan jodoh impiannya. Setelah bercerita dan berkumpul bersama teman-temannya, Airin kini duduk seorang diri di kursi VIP sambil menikmati acara hiburan.


Revan benar-benar gak mau menemui aku. Apa dia sudah melupakan semua perasaannya?


Di saat seperti itulah, Airin sangat merindukan Revan. Andai Revan ada di sisinya saat ini pasti dia sangat bahagia dan tidak merasa sendiri lagi.


"Airin sini!" Melodi menarik tangan Airin agar berdiri dan mengikutinya.


"Ngapain? Aku capek." Karena tarikan Melodi sangat kuat akhirnya Airin mengikutinya.


"Kakak kamu mau lempar bunga. Kita tangkap, siapa tahu kamu yang dapat."


Airin menghela napas panjang. Dia memutar langkahnya tapi lagi-lagi tangan Airin di tahan oleh Melodi.


"Di sini aja."


Kini Ayla dan suaminya memunggungi mereka yang menanti lemparan bunga. Ayla bersiap melempar bunga itu.


"Satu, dua, tiga..." Setelah hitungan ketiga semua bersiap menangkap tapi Ayla justru memutar tubuhnya dan turun dari pelaminan. Dia menghampiri Airin yang berdiri di samping Melodi.


"Buat kamu." Ayla menyerahkan buket bunga itu.


"Loh kak, tapi..."


"Ini buat kamu." Ayla tersenyum lalu mencium kedua pipi Airin. "Terima ya."


Airin menatap bunga itu, ada sebuah pesan yang terselip di antara bunga mawar yang berwarna putih itu. Kemudian dia mengambil kertas itu dan membacanya.


Airin, will you marry me?


Seketika seluruh lampu padam. Airin memutar tubuhnya lalu ada sinar yang menyorot tembok dan bertuliskan, Airin, will you marry me? Sangat besar dan jelas, berputar dengan cantik di setiap sisi tembok.


Dada Airin seketika berdebar-debar. Benarkah Revan yang melakukan ini untuknya?


Beberapa saat kemudian ada sebuah lampu yang menyorot langkah kaki seseorang, dia berjalan mendekat dan tersenyum menatap Airin.

__ADS_1


Seketika Airin menjadi patung. Dia hanya bisa menatap Revan yang berjalan ke arahnya.


"Airin, maaf aku baru menemui kamu." Suara Revan terdengar keras di seluruh penjuru kafe karena dia memakai microfon.


Seketika lututnya bergetar, bahkan keringat dingin sampai membasahi pelipis Airin.


"Ai, sampai kapanpun aku tidak mungkin melupakan kamu. Perasaanku sama kamu akan tetap sama bahkan akan bertambah besar seiring berjalannya waktu. Aku masih sangat mencintai kamu. Aku tidak menemuimu karena aku tahu kamu masih butuh ketenangan setelah kehilangan sahabat kita Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk aku mengungkapkan semuanya. Aku tidak mau menunda lagi karena aku tidak mau kehilangan kamu. Cukup selama empat tahun aku menahan rasa rindu yang berat."


Airin hanya terdiam seribu bahasa. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan.


Revan justru tersenyum sambil mengusap pipi Airin yang terlihat menegang. "Kamu tidak perlu mengatakan apapun. Cukup jawab, yes or no."


Kemudian Revan berlutut dan membuka kotak bludru berwarna merah yang ada di tangannya. "Airin, will you marry me?"


Airin menatap nanar cincin yang cantik itu. Benarkah ini nyata? Rasanya ini seperti mimpi baginya.


"Ai?"


Akhirnya Airin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Yes, i will."


Senyum di wajah Revan semakin merekah. Dia berdiri dan memakaikan cincin itu di jari manis Airin lalu dia memeluk tubuh yang sudah sangat dia rindukan. "Aku sangat merindukan kamu, Ai."


"Lepas dulu, belum sah."


Mendengar suara Ayahnya seketika Airin melepas pelukannya. Kedua orang tua Airin kini berdiri di dekatnya.


"Selamat ya sayang." Rili memeluk Airin lalu mencium kedua pipinya. "Akhirnya kamu juga mendapatkan kebahagiaan kamu." Kemudian Rili melepas pelukannya dan beralih menggandeng lengan suaminya. "Mas, kedua putri kita cepat banget dewasa. Mereka sudah menemukan pasangan masing-masing." Mata Rili kini berkaca-kaca sambil menatap Ayla yang sedang tersenyum bersama suaminya lalu Airin yang sedang berbahagia dengan Revan.


"Iya Bun, sebentar lagi mereka berdua bukan tanggung jawab Ayah lagi." Alvin menyusut air matanya yang hampir terjatuh. "Kedua putri Ayah, semoga selalu bahagia dengan pasangan kalian."


Seketika Airin dan Ayla memeluk Ayahnya dan juga Bundanya. "Ayah tetap yang terbaik buat kita."


"Gak ada yang bisa menggantikan Ayah dan Bunda di hati kita." Kemudian mereka berdua melepas pelukan mereka.


"Tapi tetap ya kasih uang jajan buat Ayla."


Seketika mereka semua tertawa mendengar candaan Ayla. "Anak Ayah satu ini memang gak mau rugi. Kalau mau, kamu bisa mulai urus kafe ini. Sekarang kamu sudah berhasil menjadi chef."

__ADS_1


Ayla menggelengkan kepalanya. "Ayah masih muda. Ayla gak mau Ayah gabut di rumah. Ayla mau mengabdi dulu sama suami. Jadi chef di rumah suami dulu."


"Sabar ya menghadapi Ayla." kata Alvin pada menantunya sambil tersenyum.


Sedangkan Revan kini meraih tangan Airin dan mengajaknya mengobrol berdua. Mereka berjalan menuju taman kafe yang mulai sepi tamu. Mereka berdua saling bergandengan tangan dan tersenyum malu.


"Aku kira kamu gak akan nemui aku lagi." kata Airin memulai pembicaraan mereka.


Revan tersenyum lalu mengajak Airin duduk di kursi taman. "Iya, awalnya aku ragu untuk menemui kamu. Aku takut kalau ternyata kamu sudah gak cinta sama aku lagi tapi ternyata kamu masih memiliki perasaan yang sama."


Seketika Airin menatap Revan. "Darimana kamu tahu?"


Revan tersenyum penuh arti lalu merengkuh bahu Airin. Dia mengambil ponselnya, dan menunjukkan sebuah rekaman suara.


Ya iya. Aku masih cinta sama Revan. Mana mungkin aku bisa lupakan dia.


Seketika pipi Airin merona. Dia kini tersenyum malu. "Jadi ini ulah Melodi."


"Memang aku yang tanya sama Melo tentang perasaan kamu, karena aku tahu selama 4 tahun kamu selalu bersama Azka. Seandainya Azka masih ada mungkin aku akan membiarkan kamu bersama Azka."


"Kenapa begitu? Aku selalu menanti kamu."


"Karena kamu juga bahagia bersama Azka. Makasih kamu sudah selalu menungguku. Besok keluarga aku akan datang ke rumah kamu. Kita percepat saja hari pernikahan kita."


Membahas pernikahan dada Airin semakin berdebar. Ini seperti mimpi baginya.


"Mau kan?" tanya Revan lagi karena Airin hanya terdiam.


Airin mengangguk malu.


"Akhirnya kita akan segera bersatu, Ai."


Airin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Lalu mereka sama-sama terdiam menatap langit yang indah bertaburkan bintang.


Airin kini menyandarkan kepalanya di bahu Revan untuk menikmati momen yang indah berdua. Meskipun tanpa banyak bicara tapi rasa cinta itu semakin terasa begitu dalam.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2