Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Semua Telah Terjadi


__ADS_3

Melihat kondisi Airin yang berantakan, bibirnya yang bengkak serta ada tanda merah di lehernya, pikiran Alvin menjurus kemana-mana. "Revan, apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Alvin dengan gurat marahnya.


"Ayah, ini bukan salah Revan. Justru Revan yang menolong Airin," kata Airin sambil mendongak.


"Om, jangan marah sama Airin. Ini bukan salah Airin juga. Airin dan Azka dijebak."


Airin kini beralih memeluk Bundanya saat Ayahnya mulai emosi.


"Dijebak? Lalu siapa yang melakukan ini sama Airin. Azka?" tanya Alvin.


Revan menganggukkan kepalanya. "Airin berniat menolong Azka yang sedang mencari seseorang di klub malam. Tapi Azka justru diberi obat dan dia..." Revan menghentikan perkataannya. Hatinya sendiri saja terasa sangat sakit melihat Azka melakukan itu pada Airin, dia sanggup untuk sekedar bercerita.


"Airin, Azka sudah..." Rili menatap wajah Airin.


Airin menggelengkan kepalanya. "Revan datang tepat waktu sebelum Azka melakukannya."


"Lain kali kamu hati-hati. Jangan pernah pergi ke tempat seperti itu. Tempat itu bahaya." Rili menyugar rambut Airin yang kusut.


"Iya, Bun."


"Ya udah, sekarang kamu bersihkan diri kamu. Ayo Bunda temani." Rili dan putrinya kini berjalan menuju kamar Airin.


Sedangkan Alvin masih mengeraskan rahangnya, dia tidak terima putrinya diperlakukan seperti itu. "Dimana Azka sekarang?"


"Tadi masih di klub."


"Azka, harusnya bisa jaga Airin. Kalau memang dia dikasih obat, harusnya dia tidak melampiaskannya pada Airin." Alvin membuang napas kasar. "Jangan biarkan Airin dekat dengan Azka lagi. Terima kasih kamu sudah menolong Airin."


"Iya Om, sama-sama. Saya permisi dulu."


"Iya, hati-hati."

__ADS_1


Revan kembali berjalan menuju mobilnya. Beberapa saat kemudian mobil Revan sudah melaju meninggalkan rumah Airin.


...***...


Setelah kepergian Airin dan Revan, Azka duduk temenung sambil mengacak rambutnya frustasi. Dia menyesal dengan apa yang telah dilakukannya pada Airin.


"Kalau lo datang ke sini sama Revan, lo pasti aman. Kalau lo ada perlu sama Fani, lo ngobrol aja tapi jangan di dalam klub. Gue gak mau lo nyentuh Fani," kata Rega.


Azka hanya menganggukkan kepalanya. Satu hal yang harus dia tahu, keluarga Revan sangat berkuasa. Jelas saja, dia bisa mengatasi semua ini dengan mudah. Bahkan jika Revan mau, mungkin Azka sudah dihancurkan saat itu juga.


Perlahan Azka berdiri, badannya terasa sangat lemas dan remuk. Pukulan Revan yang penuh amarah itu sangat menyakitkan tapi juga menyadarkannya dari pengaruh obat itu.


Dia berjalan keluar dari klub bersama Fani. Lalu menuju tempat parkir.


"Kenapa kamu tiba-tiba mencari aku?" tanya Fani.


Tapi Azka justru membuka jok motornya. "Ini ada titipan dari Kak Arka yang belum sempat dia kasih ke Kak Fani. Maaf, aku baru tahu setelah lima tahun berlalu." Azka memberikan kotak berpita itu pada Fani.


"Kak, maaf bukan aku mencampuri kehidupan Kak Fani. Kak Fani kenapa tidak pulang ke rumah?" tanya Azka sambil duduk di samping Fani.


Fani menggelengkan kepalanya. "Buat apa aku pulang, kalau aku tidak diterima Mama di rumah."


"Apa Kak Fani seperti ini karena Kak Arka?"


Fani menggelengkan kepalanya. "Inilah takdir hidup aku. Aku memang sangat kehilangan Arka. Tapi bukan Arka yang menyebabkan hidup aku seperti ini."


"Kak Fani sudah kuliah juga, kenapa gak pulang ke rumah? Mungkin Mamanya Kak Fani bisa menerima Kak Fani lagi."


Fani menggelengkan kepalanya sambil menangis. "Dulu aku sudah pulang tapi Mama mengusirku. Aku gak tahu harus kemana, hingga akhirnya aku bertemu Rega dan bekerja di sini. Aku kuliah juga dari hasil bekerja di sini. Aku tutupi semua kehidupan malam aku saat kuliah, berharap nantinya bisa menjadi yang lebih baik. Tapi sepertinya tidak bisa karena Rega tidak akan membiarkan aku lepas begitu saja."


Azka hanya terdiam. Dia juga tidak bisa banyak membantu dalam masalah ini.

__ADS_1


"Makasih, kamu sudah memberikan ini padaku. Semoga Arka tenang di sana. Aku selalu berdoa untuknya, meskipun aku tahu aku wanita kotor dan penuh dosa."


"Iya, sama-sama."


"Maaf ya, kamu jadi terlibat masalah seperti ini dan mungkin kedua teman kamu salah paham sama kamu."


Azka menganggukkan kepalanya. "Iya Kak, tidak apa-apa. Aku mau pulang dulu." Kemudian Azka berdiri dan menaiki motornya.


"Iya, hati-hati."


Beberapa saat kemudian motor Azka sudah melaju menuju rumahnya. Dia masih sangat merasa bersalah pada Airin. Bisa-bisanya dia melakukan itu pada Airin, sepertinya setelah ini dia tidak akan bisa dekat lagi dengan Airin.


Beberapa saat kemudian dia menghentikan motornya di depan rumahnya. Dia turun dari motor dan melepas helmnya lalu masuk ke dalam rumah.


Baru selangkah memasuki rumah, Azka sudah disambut oleh kemarahan Ayahnya.


"Darimana kamu jam segini baru pulang? Kamu habis berantem?"


Azka tak menjawabnya, jujur saja sekarang kepalanya terasa sangat pusing. Dia hanya melewati Ayahnya dan berjalan menuju kamarnya.


"Azka, dasar anak tidak berguna! Mau jadi apa kamu kerjaannya berantem dan main terus!"


Azka masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Dia juga tidak peduli dengan panggilan dari ibunya. Kepalanya terasa semakin pusing.


Dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang lalu dia mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Airin.


Airin maafkan aku...


Azka menunggu Airin membaca pesannya tapi bukan balasan yang dia dapat, tiba-tiba saja foto profil Airin menghilang. Sepertinya dia telah diblokir dari kontaknya. Dia mencoba mengirim pesan lagi, benar saja sekarang hanya centang satu.


Azka memukul ranjangnya karena kesal. "Ini semua memang salah aku..."

__ADS_1


💕💕💕


__ADS_2