
Seketika Azka menatap tajam Revan. "Kamu jangan jadikan Airin pelarian!"
"Aku gak..." Perkataan Revan terputus karena ada Alvin yang menghampiri mereka.
Alvin kini duduk di samping putrinya. "Airin, Ayah kan sudah bilang. Jangan lagi mencampuri urusan mereka. Tadi Ayah melihat video di status Malik saat ada penangkapan pelaku pembunuhan itu. Ada kamu dan Revan di sana. Untung kamu gak kenapa-napa. Kalau kamu sampai diancam juga sama pelaku itu gimana? Kamu gak tahu orang yang kamu hadapi itu seperti apa, sangat berbahaya."
"Iya, Ayah. Maaf. Karena makhluk itu terus minta bantuan sama Airin jadi Airin merasa kasihan." Airin menundukkan pandangannya. Sebenarnya dia juga masih merasa bersalah telah membohongi Ayahnya. Tapi bagaimana lagi, dia sudah terlanjur menolong. Dia harus menyelesaikan kasus itu sampai tuntas.
"Maaf Om, tadi saya juga sudah bohong," kata Revan. "Tapi Papa sudah memproses kasus pembunuhan itu ke kantor polisi sebelum kita ke rumahnya. Jadi sudah aman, hanya tinggal menunggu penangkapan saja," jelas Revan.
Alvin menghela napas panjang. "Ya sudah, lain kali kalau ada apa-apa bilang dulu. Tidak usah bohong seperti tadi."
Airin hanya mengangguk pelan. Dia tidak janji untuk tidak mengulanginya lagi. Jika berurusan dengan makhluk tak kasat mata itu, rasanya dia penasaran sebelum masalah benar-benar terungkap.
Alvin menatap Revan dan Azka secara bergantian. "Kalian berdua lebih baik pulang saja. Biarkan Airin istirahat," usir Alvin. Melihat dari wajah mereka saja, Alvin sudah tahu bahwa ada persaingan di antara mereka. Ya, yang namanya darah muda pasti masih belum bisa berpikir jernih dan lebih mendahulukan emosi. Dia juga tidak mau putrinya terlibat masalah percintaan terlalu dalam semasa sekolah.
Revan dan Azka hanya menganggukkan kepalanya, lalu mereka berpamitan pulang.
Airin kini bernapas lega saat kedua lelaki itu akhirnya keluar dari rumahnya dan mengendarai sepeda motor mereka masing-masing.
"Makasih Ayah. Ayah penyelamat." Airin bergelayut manja di lengan Ayahnya lalu mereka berdiri dan berjalan menuju tangga.
"Penyelamat apa?"
"Dari dua cowok."
"Memang Airin suka yang mana?" tanya Alvin pada putrinya sambil menaiki anak tangga karena Airin masih bergelayut di lengannya.
"Hmm, gak ada. Memang menurut Ayah mereka gimana?" tanya Airin.
__ADS_1
Alvin tersenyum sambil mengusap puncak kepala Airin saat menghentikan langkahnya di depan kamar Airin. "Mereka sama-sama baik. Tapi kamu jangan memikirkan soal lelaki dulu, fokus pada sekolah kamu. Jika waktunya telah tiba nanti, kamu pasti akan mendapatkan seorang lelaki yang tepat dalam hidup kamu."
Airin hanya tersenyum kecil. "Iya, Ayah. Tapi tetap, Ayah is my first love."
Alvin hanya tersenyum menatap putrinya yang kini masuk ke dalam kamarnya.
Setelah menutup pintu, Airin menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Badannya terasa sangat penat hari itu, tapi dia kini bisa bernapas lega. Akhirnya masalah Aditya tuntas. Meskipun setelah ini entah misteri apa yang akan menghampiri Airin lagi.
"Mau tidur dulu, capek banget hari ini."
...***...
Malam itu, Revan duduk di dekat meja belajarnya sambil menatap foto Airin dan Della.
"Airin," gumamnya pelan sambil tersenyum kecil, satu kenangan manis muncul dalam ingatannya.
"Eh, maaf aku gak sengaja."
"Ih, maaf ya. Seragam kamu jadi kena es." Dia usap seragam Revan yang tanpa sengaja terkena tumpahan es coklatnya dengan tisu.
"Tidak apa-apa." Kemudian Revan berjalan dan meninggalkan gadis itu.
"Bodoh! Mengapa aku dulu sedingin itu." Revan menghela napas panjang saat mengingat satu kenangan itu. Dia kini beralih ke ranjangnya dan memainkan ponselnya.
Berita penangkapan Pak Richard masih saja memenuhi beranda media sosialnya. Video Airin juga viral di sana.
"Wartawan gak sampai ke rumah Airin kan?" Revan kini beralih pada chat whatsapp nya lalu menghubungi Airin. Beberapa kali nada sambung Airin akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Ai, gak ada wartawan yang ke rumah kan? Karena video kamu viral di medsos." tanya Revan.
__ADS_1
"Ada sih tadi, tapi diusir sama Ayah dan satpam kompleks. Lagian aku juga gak mau nanggapinya. Aku paling takut kalau netizen sudah menyerang." jawab Airin di ujung sana.
Revan kini meminta panggilan video.
"Van, aku mau tidur jangan vc."
"Emang gak boleh?"
"Gak boleh. Malu ih."
Revan tertawa tapi dia tetap meminta video call pada Airin.
Airin akhirnya mau menerimanya. Dia hanya memperlihatkan dahinya saja. "Ih, aku mau tidur."
"Iya, aku mau ngobrol sama kamu sebentar saja."
"Ngobrol apa?"
Revan justru terdiam. Dia juga tidak tahu apa yang akan dia katakan pada Airin. Terkadang, ketika dia dekat dengan Airin ada rasa bersalah pada Della. Della yang mencintainya, tapi tidak bisa dia balas cinta itu sepenuhnya. Dia sudah berusaha untuk bersikap selayaknya pacar tapi nyatanya rasa itu tetap tidak bisa dia ubah.
"Van, kok diam?" Sedangkan Airin kini hanya menatap Revan yang terdiam.
"Gak papa. Ya sudah, met tidur ya. Maaf aku ganggu waktu tidur kamu."
Jelas saja Airin bingung, tapi dia bisa memakluminya mengingat hati yang sedingin es kutub itu berusaha untuk mencair. "Iya. Met tidur juga."
Setelah mematikan panggilan video itu, Revan kini meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. "Belum waktunya membahas tentang perasaan."
💕💕💕
__ADS_1
. Like dan komen ya...