
Satu beban Azka kini telah hilang karena Azka sudah bisa kembali normal seperti dulu. Dia sekarang juga sering bermain basket di kampus dan sudah memiliki teman dengan hobi yang sama.
Hari itu, pelatih tim basket kampus tiba-tiba memanggil Azka. Dia kini duduk di depan Pak Riko.
"Azka, apa kamu mau bergabung dengan tim basket kampus kita?" tanya Pak Riko.
Azka terdiam beberapa saat. Ini kesempatan emas baginya tapi dia masih ragu karena ada Satria yang jelas-jelas tidak suka dengan keberadaannya.
"Saya sudah melihat permainan kamu. Kamu sangat hebat dan saya juga dengar kamu adalah kapten basket di sekolah kamu dulu yang sudah membawa tim kamu menang sampai puluhan kali."
Azka hanya menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya Satria ingin saya keluarkan dari tim basket. Dia tidak pernah serius bahkan tim basket kampus ini tidak pernah menang sejak dia jadi kapten, karena dia tidak bisa membentuk kerjasama yang baik."
"Tapi..."
"Takut sama Satria? Satria sedang terkena masalah yang serius dengan pihak polisi. Untuk sementara dia juga di non-aktifkan dari kampus ini."
Azka tak berkomentar apa-apa. Dia memang sempat dengar dari teman-temannya bahwa Satria ditangkap polisi karena dituduh sebagai pengedar narkoba.
"Bagaimana? Kalau mau besok kita bisa mulai latihan dan menyusun strategi baru."
Azka menganggukkan kepalanya. "Iya Pak. Saya setuju."
"Bagus." Pak Riko menjabat tangan Azka. "Selamat bergabung di tim basket kampus kita."
Azka berdiri dan membalas jabatan tangan itu. "Baik Pak. Terima kasih."
Setelah itu dia keluar dari ruangan Pak Riko. Dia segera menemui Airin yang sedang menunggunya di dekat tangga. "Ai, mulai besok aku akan bergabung dengan tim basket sekolah ini." cerita Azka dengan senyum yang terus merekah di bibirnya.
__ADS_1
"Serius? Wah, hebat."
"Iya." Tiba-tiba Azka memeluk Airin. "Makasih kamu selalu menemani aku sampai aku bisa bangkit lagi."
"Iya, sama-sama, Ka. Aku juga bahagia melihat kamu bahagia seperti ini."
Kemudian Azka melepas pelukannya. Dia masih saja tersenyum menatap Airin. Harapan yang telah dia kubur dalam, seketika kembali muncul. Apakah masih ada kesempatan untuk dia memiliki Airin saat ini?
"Semoga kamu makin sukses ya. Sukses di basket kamu dan sukses di kuliah kamu juga." kata Airin sambil duduk di bawah tangga.
"Iya, amin. Kita kebut materi semester, biar tidak ada 4 tahun kita sudah lulus."
"Oke, siapa takut. Sebentar lagi kita sudah semester dua. Waktu cepat banget berlalu." Airin menatap kosong. Lagi-lagi dia teringat Revan. Rasa rindu itu semakin hari terasa semakin berat.
"Ai, kenapa melamun?" Azka mengibaskan tangannya di depan wajah Airin yang sedang menatap kosong.
Azka tahu, pasti Airin sangat merindukan Revan. Revan telah menitipkan Airin padanya untuk menjaga Airin. Meski sempat terbesit rasa ingin memiliki Airin. "Ai, nanti setelah Revan pulang, kamu kembali pada dia ya. Aku yakin kamu dan Revan masih memiliki perasaan yang sama."
Airin hanya terdiam.
"Kamu sudah berhasil mengembalikan semangat hidup aku. Bahkan aku yang sekarang merasa jauh lebih baik dari aku yang dulu." kata Azka.
"Itu karena usaha kamu sendiri. Aku hanya menemani kamu."
"Ai, apa aku boleh menganggap kamu sebagai pacar aku sebelum Revan kembali?" tanya Azka. Dia ingin meminjam Airin untuk sesaat.
Airin hanya terdiam dan menatap Azka bingung. "Maksudnya gimana?"
Azka menghela napas panjang. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa dia berani bertanya seperti itu pada Airin. "Aku sudah berusaha menghilangkan perasaan aku sama kamu tapi tidak bisa. Beri aku kesempatan untuk aku bisa bersama kamu. Nanti setelah Revan kembali, aku tidak mungkin bersama kamu lagi."
__ADS_1
Airin hanya terdiam. Dia kini berpikir. Haruskah dia mengiyakan keinginan Azka. "Tapi, Ka..."
"Iya, aku tahu. Itu sama aja membohongi perasaanku sendiri. Karena aku juga tahu di hati kamu hanya ada Revan. Kamu tidak perlu menganggap aku pacar kamu, cukup aku saja yang menganggap kamu pacar aku."
Airin semakin mengernyitkan dahinya. Semua itu sama saja seperti ilusi bagi Azka. "Azka, aku gak mau nantinya kamu patah hati."
Azka masih saja tersenyum tulus. "Yang penting aku sudah memilikimu itu sudah cukup, meskipun hanya sesaat."
Airin sangat tersentuh dengan kalimat Azka. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan menyetujui permintaan Azka.
Senyum Azka semakin mengembang. "Makasih, Ai."
"Sama-sama."
Kemudian mereka berdiri, Azka menggandeng tangan Airin dan berjalan menuju tempat parkir.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
.
Waktunya aku percepat ya biar cepat lulus, aku juga udah kangen sama Revan.. 😂😂
.
Yang mau protes tulis di kolom komentar.
__ADS_1