
"Ikut aku!" Revan menarik tangan Airin dengan paksa agar Airin mengikutinya. Revan ingin mencari keberadaan cermin itu lalu menghancurkannya agar Airin tak terpengaruh oleh hal mistis dari cermin itu.
Revan membawa Airin ke atap gedung. Dia ingin segera menuntaskan masalah ini.
"Van, kamu cemburu? Aku gak bermaksud dekat dengan Azka," kata Airin. Selain pintar menggoda sekarang Airin juga mempunyai banyak alasan.
Revan hanya berdiri memunggungi Airin. Dia sedang berpikir bagaimana cara mengambil cemin itu. Dia harus melenyapkan cermin itu. Mungkin saja dengan cara itu Airin bisa kembali seperti semula.
"Van, kok diam aja?" Airin memeluk Revan dari belakang.
"Ai," Revan melepas tautan tangan Airin yang berada di perutnya dan mengajaknya duduk di dekat gudang. "Kamu jangan dekat-dekat sama cowok lain apalagi Azka."
"Iya, iya." Airin kini menyandarkan kepalanya di bahu Revan. "Aku tadi cuma diajari masukin bola basket aja ke dalam ring."
"Lain kali minta ajari aku aja." Revan menggenggam tangan Airin. Kali ini dia akan mengikuti permainan Airin.
Mereka saling mendekat dan ciuman itu kembali berlabuh. Airin mengalungkan kedua tangannya di leher Revan agar Revan semakin memperdalam ciumannya.
Tangan Revan meraba pinggul Airin. Dia ingin mencari cermin itu yang sepertinya ada di saku celana Airin.
Revan mendudukkan Airin di pangkuannya, sedangkan dirinya kini bersandar di tembok.
Airin tersenyum menggoda sambil menggerakkan pinggulnya di atas pangkuan Revan. "Sudah on fire?" Kemudian Airin membungkukkan dirinya. "Kamu mau coba gak?" Airin benar-benar sangat agresif dan tidak tahu malu.
Revan tak menjawab perkataan Airin. Dia meraba pinggul Airin lalu tangannya bergerak ke belakang. Cermin itu memang ada di belakang celananya, saat Revan akan mengambilnya Airin memegang tangan Revan dan menuntunnya ke tempat lain.
Revan menghela napas panjang. Apa dia harus memulai permainan panas agar dia berhasil mengambil cermin itu.
"Aku gak bisa, Ai."
"Nikmati saja secara alami. Biarkan bahasa tubuh yang bergerak."
Untuk sesaat Revan kembali terhipnotis. Dia mendengar bujuk rayu itu. Mereka kembali bergulat dengan ciuman dan sentuhan hingga napas mereka sama-sama berat dipenuhi gairah.
Setelah Airin lengah, Revan akhirnya berhasil mengambil cermin itu dan melemparnya hingga pecah.
Seketika Airin melemas dan memegang kepalanya.
__ADS_1
"Ai," Revan menurunkan tubuh Airin dan merapikan seragam olahraganya. "Kamu gak papa kan?" tanyanya sambil menahan kedua bahu Airin.
Airin merasa kepalanya sangat pusing. "Aku dimana?"
"Kamu ada di atap gedung."
"Atap gedung?" Airin melihat Revan lalu dirinya. Dia merasa ada yang aneh lagi. Apa yang terjadi? Seragam olahraganya dan juga Revan terlihat lusuh. Belum lagi pakaian dalamnya yang bergeser dan tidak pada tempatnya. "Apa yang sudah kita lakukan?" Kemudian Airin berdiri dan membenarkan celananya yang sedikit melorot.
"Kita, hmm, maaf, aku hampir diluar batas lagi," kata Revan. "Tapi aku sekarang tahu penyebabnya, kenapa kamu sampai hilang kendali kayak gini. Semua karena cermin itu." tunjuk Revan pada cermin yang telah hancur itu sambil berdiri.
"Itu cermin Kak Ayla. Gimana bisa ada di aku?"
"Sepertinya itu bukan cermin biasa. Kalau cermin itu tiba-tiba ada di kamu, jangan kamu lihat."
Airin menganggukkan kepalanya.
"Kita sekarang turun dan kembali ke lapangan." Revan menarik tangan Airin agar segera turun dari atap.
Setelah kepergian Revan dan Airin, tiba-tiba cermin itu kembali utuh dan menghilang.
...***...
Beberapa saat kemudian dia memejamkan matanya.
"Airin, kamu harus membantu membalaskan dendamku!"
Mendengar suara itu, seketika Airin membuka matanya. Dia duduk dan melihat ke seluruh penjuru kamarnya. Pandangan matanya kini tertuju pada cermin yang berada di atas meja riasnya.
"Cermin itu lagi!" Seketika Airin beranjak dari ranjangnya dan keluar dari kamar. Dia masuk ke dalam kamar kakaknya.
"Kak Ayla." Airin membangunkan Ayla yang sedang tidur siang. "Kak bangun."
"Apaan sih? Ganggu tidur aja."
"Kak, kenapa cermin Kak Ayla ada di kamar aku lagi."
"Iya, aku gak tahu. Kamu ya yang ambil?" kata Ayla. Dia masih memejamkan matanya tanpa melihat Airin yang sedang ketakutan.
__ADS_1
"Kak, cermin itu tadi sudah dipecahkan sama Revan tapi cermin itu kembali utuh lagi dan sekarang ada di kamar aku."
Ayla kembali tertidur. Dia setengah mendengar cerita adiknya.
"Kak, ambil gih. Aku takut." Airin menarik lengan Ayla agar segera turun dari ranjang.
Ayla akhirnya bangun sambil menguap panjang. "Emang kenapa cerminnya. Mistis?"
"Iya Kak. Cerminnya ngikutin aku terus dan setiap kali aku lihat wajah aku dicermin aku kayak hilang kesadaran."
Ayla antara percaya dan tidak percaya dengan cerita adiknya. Dia kini mengikuti Airin ke kamarnya.
"Kak, ambil itu. Balikin ke pemiliknya."
"Iya, nanti aku balikin ke teman aku. Teman aku memang suka koleksi benda unik gini. Dia juga gak tahu siapa pemilik asli cermin ini." Ayla mengambil cermin itu lalu dia kembali ke kamarnya.
Rasa kantuk itu seketika menghilang. Dia jadi was-was dengan keberadaan cermin yang tiba-tiba muncul begitu saja.
...***...
Saat malam hari telah tiba, Airin bersiap untuk tidur tapi ada yang mengganjal punggungnya saat dia merebahkan dirinya. Kemudian dia mengambil benda itu.
"Cermin ini!" Buru-buru Airin melempar cermin itu. Cermin itu hancur tapi beberapa detik kemudian kembali menyatu.
Airin merasa cermin itu terus memanggil dirinya. Dia seperti terhipnotis lalu mengambil cermin itu dan melihat pantulan dirinya di cermin.
Seketika Airin tersenyum penuh arti lalu dia turun dari ranjang dan mencari gaun yang sexy di dalam lemarinya. Kemudian dia memakai gaun itu lalu merias wajahnya sangat cantik dengan lipstik merah merona. Lalu dia pakai sepatu heelsnya yang menambah kesan sexy dan anggun.
Dia keluar dari rumah mengendap-endap agar kedua orang tuanya tidak tahu. Airin tersenyum miring saat sudah berhasil sampai di tepi jalan raya.
"Malam ini, dendam aku akan terbalaskan."
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1