
Revan kini menghentikan mobilnya di depan rumah Airin.
"Mau mampir dulu," tawar Airin. Kebetulan hari juga belum terlalu sore.
"Karena aku masih kangen. Oke deh aku mampir," kata Revan. Seharian itu Revan terus menggoda Airin.
Airin hanya tersenyum. Tentu saja dia juga masih kangen dengan Revan. Kemudian mereka keluar dari mobil lalu berjalan menuju teras rumahnya.
"Dih, enaknya yang habis nge-date," kata Ayla yang baru saja pulang dari kafe bersama Ayahnya. "Aku aja habis jadi waitress di kafe. Adik memang terlalu dimanja." Ayla lagi mode iri dan julid karena memang Airin jarang sekali membantu di kafe. Beda dengan dirinya yang sedikit-sedikit di suruh bantu di kafe.
"Yee, apaan sih Kak. Aku baru hari ini aja jalan."
Alvin juga keluar dari mobil lalu menghampiri Revan.
Revan langsung mencium punggung tangan Alvin sebagai calon menantu yang baik tentunya.
"Masuk dulu," suruh Alvin.
"Iya, Om."
Saat mereka akan masuk ke dalam rumah, ada Azka yang menghentikan motornya di halaman.
Airin mengernyitkan dahinya sambil menatap Azka yang sekarang melepas helm dan berjalan ke arahnya. Ada perlu apa kira-kira Azka ke rumahnya?
"Ada lo, Van. Sorry, gue ada perlu sesuatu sama Airin," kata Azka yang kini telah berdiri di dekat Airin.
"Kalau gitu gue pulang dulu aja." Jika memang Azka sedang ada perlu dengan Airin, dia tidak ingin mencampurinya.
"Nggak, nggak, gak papa lo di sini saja."
"Ada apa, Ka? Ya udah kita masuk aja, mengobrol di dalam," ajak Airin.
Mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam rumah Airin dan duduk di sofa ruang tamu.
"Aduh, ada Azka ganteng. Kamu kelamaan ngedeketin Airin nya. Udah ditikung sama Revan jadinya," kata Ayla yang selalu ikut campur dengan urusan adiknya.
Airin menghela napas panjang. Kakaknya selalu saja bikin rusuh. Hubungan mereka sudah mulai membaik mengapa diperkeruh lagi. "Kakak masuk sana, ih! Gak usah ganggu!"
__ADS_1
"Duh, dasar!" Ayla akhirnya masuk ke dalam dan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Sorry, sorry, ada perlu apa, Ka?" tanya Airin lagi.
"Hmm, di kafe Ayah kamu ada lowongan gak untuk kerja sampingan. Beberapa hari ini aku udah mencari tapi kebanyakan harus full day," kata Azka.
Airin tak menjawabnya, dia hanya menatap Azka. Apa saat ini Azka benar-benar sedang membutuhkan uang?
"Azka, kalau butuh apa-apa lo bilang sama gue. Beasiswa lo juga masih panjang," kata Revan.
"Iya, gue butuh uang diluar biaya sekolah."
"Lo butuh berapa? Lo bisa pinjam gue, lo balikin kapan-kapan."
"Gue harus dapatkan uang itu dengan usaha gue sendiri." Azka mengalihkan pandangannya, sangat terlihat kesedihan di mata Azka saat ini.
"Kamu ada masalah apa?" tanya Airin. "Kamu bisa cerita sama kita. Ya siapa tahu kita bisa bantu."
Azka menghela napas panjang. Dari mereka berdua memang hanya dirinya yang kurang beruntung, tapi dia tidak boleh berkecil hati. "Aku mau tes DNA dan butuh biaya sekitar 8-10 juta."
Airin mengernyitkan dahinya. "Tes DNA buat siapa?"
Airin menatap nanar Azka. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia berada di posisi Azka. "Azka, kamu yang sabar ya."
"Azka, lo gak usah kerja. Nanti gue pinjami uang buat tes itu."
Azka tetap kekeh. "Gue harus tunjukin pada Ayah bawa gue bisa ngelakuin itu sendiri. Gue gak butuh dianggap anak lagi sama Ayah, tapi gue cuma ingin Ayah gak nyalahin Ibu terus."
"Kalau gitu aku tanya ke Ayah dulu ya." Airin berdiri sambil menyusut air matanya yang hampir terjatuh karena tersentuh mendengar cerita Azka. Dia kini memanggil Ayahnya di dalam rumah.
"Gue bersyukur Airin sama lo, karena kebahagiaan Airin pasti akan terjamin sama lo. Lo punya segalanya sedangkan hidup gue sangat rumit dan susah."
Revan menepuk bahu Azka. "Gue yakin lo bisa melewati ini semua dan satu lagi, kebahagiaan seseorang tidak bisa diukur dengan materi."
Beberapa saat kemudian, Airin keluar bersama Ayahnya dan duduk di dekat mereka berdua.
"Ada perlu apa Azka?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Saya mau bekerja paruh waktu di kafe Om, apa ada lowongan?" tanya Azka. Dia sangat mengharapkan pekerjaan itu. Dia tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa.
"Kamu sudah kelas dua belas, apa kamu bisa membagi waktu antara sekolah dan kerja?" Sebelum menerima Azka menjadi karyawan paruh waktubdi kafenya, dia harus memastikan dulu bahwa pekerjaannya tidak mengganggu sekolah Azka.
Azka menganggukkan kepalanya. "Iya, saya bisa. Saya sangat butuh pekerjaan, Om."
"Ya sudah, kamu kerja full hari Sabtu dan Minggu ya. Untuk hari biasa sebisa kamu."
"Saya hari Sabtu ada latihan basket sampai siang."
"Ya sudah, tidak apa-apa setelah latihan basket saja."
Seketika senyum Azka mengembang. "Terima kasih banyak, Om."
"Iya, saya senang melihat anak-anak muda yang mau berjuang demi hidupnya. Kebetulan sekali Raffa juga sudah berhenti bekerja, Raffa kakak kamu kan, Van?"
Revan menganggukkan kepalanya. "Iya, Om."
"Awalnya saya gak tahu kalau Raffa itu kakak kamu. Saya tahu waktu kedua orang tua kamu ke kafe dan bertemu Raffa. Revan, kamu harus berkaca pada Kakak kamu, jangan sampai kamu menuruti hawa nafsu. Gunakan masa muda kamu sebaik-baiknya agar tidak menyesal di kemudian hari. Saya tahu jiwa muda itu selalu saja penasaran dengan hal-hal yang dilarang. Om, beri kamu kepercayaan, jangan pernah dirusak."
Revan menganggukkan kepalanya. "Iya, Om." Revan mengerti, kakaknya memang sedikit bandel, kakaknya menikah di usia dini karena hamil diluar nikah dan akhirnya diusir oleh Papanya sebagai hukuman. Tentu saja dia tidak akan mengikuti jejak yang sama.
"Ya sudah, kalian mengobrol saja, saya mau ke belakang dulu."
Mereka semua hanya mengangguk. Kemudian Alvin meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu.
"Ayah kamu memang baik banget ya. Benar kata Melodi, Ayah kamu pasti mau menerima anak sekolah untuk bekerja paruh waktu. Melodi juga sempat cerita kalau Papanya dulu juga bekerja sampingan di kafe Ayah kamu sampai sukses."
Airin hanya tersenyum. "Iya, Ayah hanya ingin membantu siapa saja yang membutuhkan pekerjaan. Semoga saja berkah bagi kita semua."
Mereka bertiga kembali mengobrol sampai hari mulai gelap.
💕💕💕
.
Komentarnya mana nih... 🙄
__ADS_1
.
Kisah misteri masih berlanjut ya...