
Pagi hari itu, Airin sudah bersiap untuk pergi bersama Azka. Dia menunggu kedatangan Azka di ruang tamu.
"Ai, mau kemana?" tanya Ayahnya.
"Mau jalan-jalan sama Azka. Boleh kan Ayah?"
"Iya boleh. Kamu juga butuh hiburan setelah menyelesaikan skripsi."
Beberapa saat kemudian Azka datang dan masuk ke dalam rumah Airin. Dia berpamitan pada Ayahnya Airin karena akan mengajak Airin keluar seharian penuh sampai malam.
Mereka kini keluar dari rumah kemudian memakai helm mereka masing-masing. Setelah menaiki motor, Azka segera melajukan motornya.
"Kita mau kemana?" tanya Airin sambil mendekatkan dirinya.
"Jalan-jalan ke taman dulu setelah itu nonton bioskop lalu ke pasar malam."
Airin justru tertawa. "Pantas izin sama Ayah bilang pulangnya agak malam. Untung diizinin."
Azka tersenyum kecil lalu menarik tangan Airin agar memeluknya. "Hari ini kan kita kencan. Peluk dong."
Airin menuruti keinginan Azka kali ini. Dia memeluk tubuh Azka dari belakang.
Merasakan pelukan Airin yang berada di belakangnya, dada Azka menjadi berdebar. Andai saja dia bisa merasakan momen seperti ini lagi. Sayangnya, dia tidak akan mungkin bisa mengajak Airin berkencan lagi setelah Revan kembali.
Azka semakin memelankan laju motornya. Dia mengajak Airin berputar-putar mengelilingi kota sebelum berhenti di taman.
Setelah puas berputar-putar, Azka akhirnya menghentikan motornya di tempat parkir taman kota. Mereka kini turun dan masuk ke dalam taman. Hari yang belum terlalu siang itu tidak terlalu panas, bahkan cenderung mendung.
"Ai, mau es krim?" Tanpa menunggu jawaban dari Airin, Azka menghentikan langkahnya di penjual es krim dan membeli dua es krim rasa coklat. "Nih, kamu sukanya rasa coklat kan." Azka memberikan satu es krim itu pada Airin.
"Iya, makasih." Airin langsung menyomot es krim itu sambil duduk di bawah pohon yang rindang.
Mereka menikmati es krim itu tanpa bersuara, hanya satu tangan Azka yang sedari tadi menggenggam tangan Airin. Dia seolah enggan melepaskan tangan itu.
Setelah es krim mereka habis, barulah Azka berbicara. "Ai, ada es krim di pipi kamu." Azka tersenyum kecil, karena memang kebiasaan Airin saat makan es krim selalu cemong.
__ADS_1
"Iyakah?" Airin mengambil tisu yang berada di dalam tasnya tapi Azka justru mendekatkan dirinya dan mencium pipi Airin tepat pada es krim itu.
Seketika Airin terkesiap dan memegang pipinya. Oke, hari ini dia memang berkencan dengan Azka, itu berarti dia harus bersikap selayaknya pacar Azka.
Azka hanya tersenyum lalu mengusap pipi Airin dengan jemarinya. "Aku ingin membuat kenangan manis bersama kamu hari ini. Kamu mau kan?"
Airin semakin menatap Azka, mengapa dia merasa bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan Azka seolah-olah dia akan pergi untuk selamanya. Airin hanya menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan dirinya yang tidak bisa menolak setiap permintaan Azka kali ini.
Mereka mengobrol sambil menikmati udara sejuk di taman. Sampai hari sudah siang, mereka pergi dari taman dan mencari tempat makan.
"Kita makan dulu, setelah itu kita nonton bioskop. Kebetulan aku juga sudah beli tiketnya nanti kita tinggal masuk saja, tidak perlu mengantri lagi."
Airin hanya menganggukkan kepalanya dan menuruti semua keinginan Azka.
...***...
Setelah menonton bioskop, Azka mengajak Airin berjalan-jalan di mall sambil menunggu malam hari. Azka kini mengajak Airin masuk ke dalam toko aksesoris. Dia memilih sebuah kalung titanium berliontin huruf A.
"Ai, ini bagus gak?" Azka menunjukkan kalung yang dia pilih. "Inisial A, bisa Airin bisa juga Azka." Azka tertawa karena memang huruf awal mereka sama.
Azka semakin tertawa lalu memakaikan kalung itu di leher Airin. "Gak papa, anaknya Ayah Alvin."
Airin hanya menatap kalung perak yang cantik itu yang kini telah menggantung di lehernya
"Dipakai ya, kenang-kenangan dari aku. Hanya bisa beli titanium. Belum bisa beli yang emas asli." Setelah itu, Azka berjalan menuju kasir dan membayar kalung itu terlebih dahulu.
Azka kini menggandeng tangan Airin keluar dari mall karena hari sudah mulai gelap. Setelah menaiki motor, Azka segera melajukan motornya keluar dari tempat parkir mall dan menuju pasar malam. Jalanan yang mereka lalui cukup macet. Hampir satu jam mereka baru sampai di pasar malam. Untunglah pasar malam saat itu tidak terlalu ramai karena bukan hari weekend.
Mereka berjalan mengelilingi pasar malam sambil melihat aneka wahana dan penjual makanan serta minuman.
"Ai, kamu mau beli apa?" tanya Azka karena dia sendiri bingung harus membeli apa saking banyaknya orang jualan di tempat itu.
"Bianglalanya tinggi. Kita naik itu dulu yuk mumpung sepi."
"Oke." Mereka berdua berjalan menuju bianglala itu. Setelah Azka membayar pada loket, mereka berdua masuk ke dalam kapsul bianglala yang dikelilingi jendela tanpa kaca itu.
__ADS_1
Kemudian bianglala itu bergerak secara perlahan.
Azka kini duduk di samping Airin dengan satu tangan yang merengkuh pinggang Airin. Dia terus menatap Airin yang tersenyum melihat pemandangan malam hari itu di atas bianglala.
"Kamu cantik." kata Azka yang membuat Airin kini menatapnya. Mereka saling bertatapan hingga saat kapsul bianglala yang mereka tumpangi sampai di puncak, tiba-tiba lampu padam dan bianglala itu berhenti berputar.
"Kok berhenti?" Airin panik dan berpegangan pada Azka.
"Harap tenang! Diesel terputus sesaat. Sebentar lagi akan menyala kembali."
Mendengar hal itu Airin bernapas lega. Memang kejadian seperti ini sering terjadi tapi tetap saja dia panik.
Perlahan Airin melepas tangannya dari pinggang Azka tapi Azka justru menahan tubuh Airin.
Di bawah sinar temaram itu Airin bisa melihat wajah Azka yang semakin mendekat bahkan dia juga bisa merasakan hangatnya hembusan napas Azka.
Airin menahan dada Azka tapi Azka tidak menghentikan aksinya. Dia seperti mencari kesempatan di dalam kesempitan. Bibir itu akhirnya menyentuh bibir Airin dan mulai menyapunya dengan lembut.
Benarkah apa yang aku lakukan bersama Azka ini? Revan maafkan aku...
Meski awalnya Airin enggan membalas tapi karena dinginnya angin malam dan perlakuan lembut dari Azka membuatnya terhanyut dengan permainan Azka. Mereka saling berbalas cukup lama hingga napas mereka semakin berat. Akhirnya Azka melepas pagutannya dan berbisik di telinga Airin.
"Makasih untuk kenangannya hari ini. Tidak akan aku lupakan sepanjang hidupku. Karena setelah ini aku tidak akan mungkin bisa bersamamu lagi."
"Azka kamu hanya pergi ke Inggris kan? Tidak untuk selamanya." Setiap Azka mengucap kata perpisahan itu, entah mengapa perasaan Airin menjadi cemas.
Azka hanya tersenyum lalu memeluk Airin. Dia sendiri juga tidak mengerti. Dia seolah merasa akan meninggalkan Airin untuk selamanya.
Beberapa saat kemudian bianglala kembali menyala. Azka melepaskan pelukan eratnya dan tersenyum malu. Mereka sama-sama canggung setelah apa yang mereka lakukan barusan.
"Setelah ini kita makan malam terus pulang ya."
Airin hanya menganggukkan kepalanya.
💕💕💕
__ADS_1
Like dan komen ya...