Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Semua Telah Berlalu


__ADS_3

Alvin, Kevin, dan Aksara kini sampai di dasar jurang. Mereka melihat spanduk bekas yang masih tergelar dan bekas api unggun. "Sepertinya mereka semua semalam berada di sini."


"Astaga itu apa?" Alvin menunjuk pada bus yang terbalik itu dan pemandangan itu sangat memilukan.


"Apa itu bus yang dinyatakan hilang dua bulan yang lalu?" Tim SAR dan anak buah Kevin mendekat untuk memastikan bus itu.


"Iya, ini bus yang kita cari selama ini." Mereka segera memanggil kawan-kawannya lewat handy talki untuk mengevakuasi korban-korban kecelakaan itu.


"Itu berarti semalam mereka tidur di dekat mayat sebanyak ini. " Alvin menelan salivanya berulang kali, dia tidak bisa membayangkan bagaimana putrinya ketakutan melihat arwah-arwah yang mungkin masih penasaran di sekitar tempat itu. Mungkin saja makhluk itu memang sengaja membawa Airin ke dasar jurang agar tahu keberadaan mereka.


"Kita cari mereka di sekitar sini. Pasti mereka belum jauh!"


"Itu sepertinya mereka!" teriak salah satu tim pencari itu.


Seketika Alvin berlari menghampiri Airin yang sedang terjatuh menahan tubuh Revan. "Airin!!!" teriaknya.


Airin menoleh ke belakang karena suara itu terdengar nyata dan semakin dekat. Sosok yang sangat dia butuhkan saat ini datang menjemputnya. Dia menatap Ayahnya berlari mendekat dengan air mata yang semakin berurai. "Ayah..."


"Airin." Alvin langsung memeluk tubuh Airin dan menciumi pipinya. "Airin, syukurlah kamu selamat. Ayah sangat khawatir sama kamu."


"Revan!" Kevin juga meraih tubuh Revan yang sudah tak berdaya. "Revan apa yang terjadi?"


"Revan digigit ular," kata Airin.


"Astaga Revan. Bawa oksigen ke sini cepat!" teriak Kevin pada tim medis yang membawa berbagai perlengkapan. Mereka segera memasang oxycan di hidung Revan.


Napas Revan berangsur stabil meski dia kini sudah tidak merespon perkataan Papanya.


Revan segera diangkat dengan tandu ke atas jurang karena keadaannya sudah sangat darurat.


Begitu juga dengan Airin yang tiba-tiba pingsan di pelukan Ayahnya.


"Melo!" Aksara melepas Melodi dari gendongan Azka. "Ya Allah Melo. Bangun sayang."


Azka sudah tidak ada tenaga lagi untuk melangkah. Dia kini jatuh terduduk di tanah. Setidaknya semua teman-temannya kini telah di evakuasi dan selamat.


Mereka semua segera dibawa ambulance menuju rumah sakit terdekat.


...***...


Airin kini membuka matanya. Sekarang dia sudah berada di rumah sakit dengan tangan yang telah terpasang infus.


"Sayang, akhirnya kamu sadar." Rili langsung memeluk putrinya. Dia cium kedua pipi Airin dengan air mata yang berurai. Dia sangat bersyukur, Airin bisa kembali dengan selamat.

__ADS_1


"Bunda." Kemudian Airin mengeratkan pelukan Bundanya. "Ini bukan mimpi kan?"


"Bukan sayang, kamu sudah berhasil keluar dari hutan."


"Iya, Airin takut banget Bun. Di tempat itu ada bus kecelakaan dan mayat-mayatnya sudah jadi tulang. Banyak banget arwah penasaran di tempat itu."


Rili mengusap rambut putrinya yang kusut dan memberinya ketenangan.


"Sepertinya hantu itu sengaja bawa kamu ke jurang." kata Alvin yang kini duduk di samping Airin. "Agar keberadaan bus itu ditemukan."


"Iya, sepertinya begitu. Tapi bukan kayak gitu caranya. Keadaan Revan sekarang bagaimana?" tanya Airin.


"Kondisinya kritis di ruang ICU. Tapi untunglah kadar racun dari ular itu tinggal sedikit. Kalau tidak mungkin nyawanya tidak tertolong."


"Ini semua berkat Azka. Azka yang berusaha mati-matian demi keselamatan kita semua," kata Airin. Jasa Azka begitu besar dalam tragedi ini.


Sedangkan Azka yang berada di satu ruangan dengan Melodi, dia hanya duduk di tepi brangkarnya sambil melihat Melodi yang sudah sadarkan diri.


Ujung matanya beberapa kali mengembun. Hatinya sangat lemah saat di posisi seperti ini. Semua orang tua temannya datang menjemput dan ikut mencari sedangkan Ayahnya, tidak mungkin peduli dengan keadaannya.


"Azka sebentar lagi ibu kamu ke sini diantar adik ipar saya," kata Papanya Melodi.


Azka hanya menganggukkan kepalanya. Ya, tentu saja Ayahnya tidak mungkin mau menemuinya. Meskipun dia mati sekalipun, Ayahnya tidak akan pernah merasa kehilangan.


Azka menganggukkan kepalanya. "Iya, Om. Sama-sama."


...***...


Di ruang ICU, Alea terus menangisi kondisi Revan saat ini. "Revan, cepat sadar ya sayang. Kamu anak yang kuat."


Alat bantu napas dan beberapa peralatan medis terpasang di tubuh Revan. Kondisinya harus benar-benar dipantau selama 24 jam.


"Airin..." guman Revan di bawah kesadarannya. "Ai, tinggalkan aku di sini. Kamu harus pergi. Kamu harus selamat. Airin..."


Alea mengusap rambut Revan, ternyata anak bungsunya sudah merasakan cinta dalam hidupnya. Kini bukan namanya yang disebut tapi justru Airin.


"Airin..."


"Revan, Airin baik-baik saja. Aku panggilkan dia ya tapi kamu harus cepat sadar." Alea menghapus air matanya lalu dia keluar dari ruangan Revan.


"Kenapa?" tanya Kevin yang melihat istrinya keluar dari ruangan Revan. Karena hanya ada satu orang saja yang boleh menunggu Revan di dalam ruangan.


"Revan terus manggil Airin. Airin bisa ke ruangan Revan gak Pa? Siapa tahu Revan cepat sadar."

__ADS_1


"Biar aku panggilkan. Kamu tunggu di sini saja." Kemudian Kevin berjalan menuju ruangan Airin. Setelah dia mengetuk pintu, dia masuk ke dalam ruangan itu.


Terlihat Airin sedang merebahkan dirinya sambil dipijat kakinya oleh Ayahnya.


"Maaf mengganggu," kata Kevin.


"Ada apa, Kev?" tanya Alvin.


"Revan berulang kali panggil nama Airin. Apa bisa Airin menemui Revan?"


Seketika Airin terduduk. "Revan? Ayah, antar aku ke ruangan Revan."


"Airin katanya tadi badannya sakit semua, sekarang jadi semangat gini." Alvin justru menggoda putrinya sambil merapikan rambut Airin yang sangat kusut.


"Ih, Ayah."


"Iya, iya, ayo Ayah antar." Alvin membantu Airin turun dari brangkar lalu memapahnya menuju ruangan Revan.


Alvin mengantar Airin masuk ke dalam ruang ICU itu, lalu membantunya duduk dan meletakkan cairan infus pada tiang penyangga.


"Ayah, tunggu diluar ya." ucap Alvin sambil mengusap lembut puncak kepala Airin.


Airin hanya mengangguk pelan. Setelah Ayahnya keluar, dia kini menggenggam tangan Revan yang masih terasa hangat.


"Airin..."


Satu tangan Airin kini menangkup pipi Revan. "Revan, aku ada di sini. Kamu sadar ya, semua telah berlalu."


Revan masih saja tidak ada respon. Dia masih mengigau seolah dia sedang berjalan bersama Airin seperti terakhir kali sebelum dia pingsan.


"Van, cepat bangun." Airin semakin menggenggam erat tangan Revan. Berharap Revan cepat membuka matanya dan berhasil melewati masa kritis ini.


Airin kini memejamkan matanya dan mengangkat tangan Revan yang lemah itu. Dia simpan tangan Revan diantara telapak tangannya kemudian dia cium dalam tangan itu. Berharap semua kekuatannya bisa tersalur pada Revan.


"Ai..." Beberapa saat kemudian terdengar suara panggilan dari Revan.


Airin membuka matanya, dia kini menatap kedua mata sayu Revan.


Kemudian Airin tersenyum dalam tangisnya, "Akhirnya kamu sadar."


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2