
Siapa dia?
"Airin kenapa?" tanya Revan lagi saat melihat pandangan mata Airin yang aneh.
Airin kini berdiri dan memberanikan diri untuk mendekat. "Siapa kamu? Ada perlu apa sama Azka?"
Azka kini mendongak menatap Airin. "Kenapa Ai?"
Untunglah teman sekelasnya hanya ada beberapa yang datang karena mereka pasti akan serentak masuk saat bel masuk telah berbunyi.
"Aku Kakaknya Azka, ternyata kamu bisa melihatku. Aku ingin menghibur Azka tapi aku tidak bisa. Katakan pada Azka bahwa ini semua bukan salahnya. Aku rela melakukan apapun karena aku sayang sama dia."
Airin kini menatap nanar Azka. Benarkah penampakan itu adalah Kakaknya Azka?
"Ai, kamu kenapa?" tanya Azka lagi karena Airin hanya terdiam menatapnya.
Ingin Airin bercerita pada Azka tapi bel masuk berbunyi. Semua teman-temannya kini masuk ke dalam kelas. Airin segera kembali ke tempat duduknya.
Sampai pelajaran dimulai, Airin masih saja memikirkan perkataan makhluk itu. Benarkah dia kakaknya Azka? Selama ini dia tidak tahu jika Azka memiliki seorang Kakak.
Hingga jam istirahatpun tiba, Airin berdiri dan menarik Azka keluar kelas. "Azka aku mau tanya sesuatu sama kamu."
"Apa?" tanya Azka.
"Kamu punya Kakak?"
Seketika Azka menghentikan langkahnya dan menatap Airin. "Udah gak ada." Dia melepas tangan Airin lalu berjalan pergi meninggalkan Airin.
"Azka, tunggu!" Airin menyusul langkah Azka. "Tadi ada kakak kamu di dekat kamu."
Seketika Azka menghentikan langkahnya lagi. "Kak Arka?" Tentu saja dia percaya, karena Azka tahu sendiri jika Airin bisa melihat makhluk tak kasat mata itu.
"Namanya Arka? Jadi kamu memang punya seorang kakak."
Azka menganggukkan kepalanya lalu dia berjalan dan duduk di bawah tangga.
"Apa dia udah gak ada?" tanya Airin sambil duduk di samping Azka.
Azka menganggukkan kepalanya. Niat hati tidak mau cerita masalah ini pada Airin, tapi Airin justru melihat penampakan kakaknya. "Sudah lima tahun yang lalu."
__ADS_1
"Lima tahun? Tapi baru kali ini aku melihat penampakan itu."
Azka hanya terdiam. Mungkinkah karena semalam dia datang ke kuburan Arka jadi Arka mengikutinya?
"Azka, tadi kakak kamu bilang, kamu tidak boleh merasa bersalah. Dia melakukan itu semua karena dia sayang sama kamu. Dia juga ingin menghibur kamu tapi tidak bisa," jelas Airin.
"Kakak dimana sekarang?" tanya Azka sambil menoleh ke kanan dan kirinya, berharap dia juga bisa melihat bayangan Kakaknya.
Airin menggelengkan kepalanya.
Azka kembali menundukkan pandangannya dan mengusap wajahnya. Matanya terasa panas karena menahan air mata.
"Azka, sebenarnya ada apa?"
Azka tak menjawab. Dia hanya terdiam dengan gurat otot wajah yang menegang menahan kesedihan.
Beberapa saat kemudian sosok Arka kembali muncul. Airin membulatkan matanya menatapnya.
"Bilang sama Azka, jangan sedih lagi karena aku juga ikut sedih. Dia pasti bisa melalui ini semua."
Airin berusaha untuk tenang dan tidak takut. "Azka, jangan sedih. Kakak kamu gak mau melihat kamu sedih."
"Di sebelah kamu."
Seketika Azka tersenyum tapi dengan mata yang semakin mengembun. "Kak, akhirnya Kak Arka menemui aku. Aku sangat merindukan Kak Arka. Kak, andai saja bisa, aku ingin bertukar posisi saja. Biarkan Kak Arka yang hidup dan menemani Ayah."
Airin menatap kesedihan Azka. Dia sama sekali tidak tahu tentang masalah ini. Selama ini dia kira Azka seorang pria yang kuat dan hebat ternyata dibalik semua itu ada sebuah kerapuhan.
"Jangan! Kita tidak bisa merubah takdir. Aku yakin dengan kemampuan kamu. Suatu saat nanti, Ayah pasti akan sadar bahwa kamulah yang terbaik. Kamu juga harus ingat, masih ada Ibu yang selalu menyayangi kamu."
Setetes air mata haru menetes di pipi Airin. "Azka, kakak kamu bilang, kita tidak bisa merubah takdir. Suatu saat nanti Ayah kamu pasti sadar bahwa kamulah yang terbaik. Kamu juga harus ingat, masih ada ibu yang akan selalu menyayangi kamu."
Seketika Azka menangis. "Kak, aku..." Dia sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
"Azka, kamu sudah 17 tahun, jangan cengeng. Ayo, kamu bangkit. Kamu pasti bisa." Sosok Arka itu memberi semangat pada Azka meski dia sendiri juga menangis menatap Azka.
"Azka, kakak kamu bilang, kamu jangan cengeng, kamu harus bangkit. Kamu pasti bisa."
Seketika Azka memeluk Airin dan menangis bahunya. "Ai, apa aku bisa memeluk Kak Arka. Aku ingin memeluknya sekali saja."
__ADS_1
"Aku gak tahu caranya." Kemudian Airin melepas pelukan Azka lalu menggenggam tangannya. "Coba kamu pejamkan mata kamu, dan bayangkan jika kakak kamu ada di sini."
Azka mengikuti saran Airin, dia kini memejamkan matanya. Dia seolah bisa merasakan kehadiran Kakaknya dan satu pelukan hangat itu.
"Teruslah bersemangat meraih impian kamu. Aku yakin kamu bisa memberikan yang terbaik untuk kedua orang tua kita. Jangan bersedih karena perkataan Ayah, Ayah memang seperti itu. Jauh di dalam hatinya, dia pasti juga menyayangi kamu."
Kemudian Azka membuka matanya. Dia tersenyum kecil lalu kembali memeluk Airin. "Makasih. Kak Arka benar-benar menemuiku."
"Sebenarnya apa yang terjadi? Saat kamu sedang sedih seperti ini harusnya kamu cerita sama aku, kita kan teman."
Kemudian Azka melepaskan pelukannya. Dia menceritakan semua yang terjadi di hidupnya. Apa yang terjadi dengan Arka hingga Ayahnya yang selalu menyalahkannya.
"Azka, kamu pasti bisa melewati ini semua. Tunjukkan pada Ayah kamu bahwa kamu bisa menjadi yang terbaik."
Azka menganggukkan kepalanya. Dia usap wajahnya agar rasa sedih itu menghilang. "Sekali lagi makasih. Perasaanku sekarang sedikit tenang. Iya, kamu benar, aku harus bisa menunjukkan yang terbaik untuk Ayah."
Airin tersenyum menatap Azka. "Gini dong. Azka yang aku kenal itu kuat, gak gampang nyerah."
"Astaga, kenapa aku nangis di depan kamu. Aku malu."
Airin semakin tertawa. "Meskipun kamu cowok, tapi kamu juga manusia biasa yang bisa sedih. Aku sendiri gak bisa bayangin kalau seandainya ada di posisi kamu. Gak hanya nangis mungkin juga nyerah sama hidup ini."
"Untungnya aku punya teman indigo. Kalau kamu lihat Kak Arka lagi bilang sama aku ya. Kamu juga jangan takut. Semasa hidupnya dia sangat baik."
"Waktu itu dia kelas dua belas? Sampai sekarang dia masih memakai seragam putih abu-abu."
"Iya, waktu kecelakaan Kak Arka masih memakai seragam sekolah. Dia juga sekolah di sini lima tahun yang lalu. Beberapa duplikat pialanya juga masih ada di kantor." kata Azka.
Airin hanya terdiam. Dia kini memikirkan cara agar Azka bisa ikut dalam olimpiade matematika itu. Ya, Azka harus bisa menunjukkan bakatnya.
Di sudut lain, ada Revan yang terus mengamati mereka berdua. Meski dia sudah paham dengan persahabatan mereka, tapi tetap saja setengah hatinya terluka.
Dia melangkahkan kakinya mendekat. "Airin..."
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen yang banyak dong biar author baperan ini semangat.. ðŸ¤