
"Ayo, kita pulang sekarang." Revan menarik tangan Airin agar segera pergi dari tempat itu. Mereka berdua segera berjalan menuju tempat parkir.
"Ai, lewat jalan memutar ya. Soalnya kamu gak pakai helm," kata Revan sambil memakai helmnya. Kemudian dia menaiki motornya.
"Kamu beneran gak papa pulang duluan?" tanya Airin memastikan lagi.
"Gak papa. Bentar lagi mereka semua juga sudah pulang."
Airin kini naik ke boncengan Revan. Setelah itu, motor Revan segera melaju meninggalkan parkir sekolah.
Sepanjang perjalanan, Revan masih mengingat apa yang dilakukan Pak Diki di lab Biologi. Dia seorang guru, harusnya memberi contoh yang baik bukan malah merusak generasi penerus bangsa. Revan menyesal mengapa dia gagal mendapatkan bukti itu. Jika masalah itu tidak cepat ditangani bagaimana jika banyak korban selanjutnya.
"Van, ke kafe dulu yuk?" ajak Airin tiba-tiba.
Suara Airin membuyarkan lamunan Revan.
"Kafe Ayah kamu?" tanya Revan sedikit menoleh Airin.
Airin menggelengkan kepalanya. "Nggak, yang ada di dekat taman aja."
"Oke." Beberapa saat kemudian Revan membelokkan motornya ke sebuah kafe. Setelah turun dari motor, mereka masuk ke dalam kafe dan duduk di meja dekat jendela.
"Mau apa?" tanya Revan
"Es krim aja," jawab Airin.
Revan memesan dua es krim dan kentang goreng lalu kembali duduk di dekat Airin. "Ada apa tiba-tiba ajak ke kafe?" goda Revan sambil mencubit kecil hidung Airin.
"Emang gak mau?" tanya Airin.
Satu tangan Revan kini menggenggam tangan Airin. "Gak akan nolak. Sebenarnya aku masih kepikiran sama Pak Diki. Aku gak habis pikir aja seorang guru bisa melakukan itu sama murid didiknya."
"Memang kamu tadi lihat apa sampai kepikiran gini?"
"Sudah ke tahap lebih lanjut."
Airin terdiam dan mengerti maksud Revan.
Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Airin segera memakan es krimnya sambil berpikir. "Apa kita tanya sama Nita saja?"
"Kamu dekat sama Nita?" tanya Revan lagi.
"Dulu waktu aku kelas satu aku sempat dekat sama dia. Kita juga satu ekskul."
"Tapi apa nanti Nita tidak tersinggung?"
"Iya sih, tapi tindakan Pak Diki itu gak bisa dibiarkan. Nanti lama-lama semakin banyak korban. Aku juga gak mau Nita terjerat juga. Nanti aku coba tanya nomornya sama Melodi, Nita juga ada di tim paduan suara sama Melodi."
__ADS_1
"Oke, tapi ingat, jangan berurusan dengan Pak Diki secara langsung."
"Iya," jawab Airin sambil tersenyum manis menatap Revan.
"Makan dulu es krimnya, nanti mencair." Revan mengambil sendok es krim Airin lalu menyuapinya.
"Kok disuapi?" Airin mengernyitkan dahinya sambil menerima suapan dari Revan.
"Sekali-kali."
"Malu ih. Nanti ada yang ngerekam terus viral."
"Biarin."
Revan tetap menyuapi es krim untuk Airin, sesekali dia suapi dirinya sendiri juga. Sampai es krim mereka habis, Revan mengambil tisu dan mengusap bibir Airin.
"Aku bisa sendiri."
"Gak papa." Revan kini mendekatkan kentang goreng agar dimakan Airin. "Mau pesan lagi?"
"Nggak, ini aja." Airin mengambil kentang goreng itu lalu memakannya. Pandangannya kini tertuju pada seseorang yang dia kenal duduk di dekat pintu. "Van, itu sepertinya Nita."
Seketika Revan menoleh dan melihat Nita yang sedang menahan lengan Pak Diki, tapi Pak Diki tetap pergi meninggalkannya.
"Nita kenapa?" Airin berdiri lalu menghampiri Nita yang sedang menangis. "Kamu kenapa?"
"Iya, lumayan." Airin kini duduk di dekat Nita. "Hmm, maaf bukannya aku ikut campur, kamu dekat ya sama Pak Diki?"
Nita hanya terdiam sambil mengalihkan pandangannya.
"Gak papa kalau kamu gak mau cerita tapi kamu hati-hati ya sama Pak Diki karena aku pernah lihat Pak Diki juga dekat dengan cewek lain."
Seketika Nita berdiri. "Iya aku tahu." Kemudian dia berjalan jenjang keluar dari kafe itu.
"Nit?" Airin menggigit bibir bawahnya. Kini dia merasa bersalah. Sepertinya dia salah memilih kalimat yang tepat. "Van, aku salah ngomong ya?"
"Ya, sebenarnya gak salah sih. Hanya saja untuk seseorang yang hatinya sensitif dia pasti tersinggung."
Kemudian mereka kembali duduk di tempatnya sambil menghabiskan kentang goreng.
"Aku jadi gak enak."
"Udah, gak papa. Jangan dipikirkan lagi. Yang penting kami harus jaga diri ya."
Airin menganggukkan kepalanya.
...***...
__ADS_1
Malam itu, Airin merasa dirinya berada di tempat yang sangat gelap, dengan suara isak tangis yang menggema.
Tiba-tiba Airin terbangun dari tidurnya setelah melihat sebuah cangkul menancap di tanah.
Airin mengusap pelipisnya yang berkeringat. Ketika dia bermimpi buruk pasti hal buruk juga akan terjadi.
"Semoga gak ada hal buruk lagi yang terjadi."
Dia kini turun dari ranjang dan membasuh dirinya di kamar mandi. Setelah selesai, dia memakai seragamnya dan menyiapkan buku mata pelajaran hari itu.
"Ada pelajaran Biologi?" Mengingat kejadian itu, Airin jadi takut jika harus berhadapan dengan Pak Diki. "Pokoknya aku harus waspada."
Setelah selesai menyiapkan bukunya, dia keluar dari kamar dan menuju dapur untuk membantu Bundanya menyiapkan sarapan di atas meja.
"Airin, rajin sekali."
"Iya Bun, tadi kebangun dan gak bisa tidur lagi."
Setelah selesai menata makanan di atas meja, Airin duduk dan mengambil piringnya. Beberapa saat kemudian Ayahnya dan Ayla ikut duduk dan sarapan bersama.
"Hari pertama ke kampus kenapa cemberut gitu?" tanya Alvin yang melihat putri pertamanya sedang menekuk wajahnya.
"Males aja, Yah. Kemarin pas regristasi dih cowoknya gak ada yang keren. Banyak yang bences yang masuk di tata rias dan tata boga."
Seketika Ayah dan Bundanya tertawa. "Bagus dong, kamu aman di sana."
"Aman? Hati Ayla bisa karatan."
"Sabar, kalau udah waktunya ketemu jodoh nanti juga ketemu. Ayah bolehin kalian menikah setelah lulus kuliah."
"Tuh Dek, setelah lulus kuliah bukan setelah lulus SMA," kata Ayla yang justru menggoda adiknya.
"Kok jadi aku sih, siapa juga yang mau menikah cepat."
"Idih, padahal obrolan tiap malam sama Revan gitu."
"Yee, apaan sih. Kak Ayla fitnah nih."
"Udah, udah makan dulu. Kalau makan gak boleh ribut." kata Rili.
Airin segera menghabiskan sarapannya. Meski jauh di dalam lubuk hatinya dia membenarkan perkataan kakaknya itu.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1
.