Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Modus Terbaru


__ADS_3

"Tapi beneran kan kamu gak selingkuh? Karena zaman sekarang itu banyak cowok yang ngakunya setia tapi ternyata punya selingkuhan." kata Airin pada Aditya.


"Tidak semua cowok seperti itu," sahut Revan.


Seketika Airin menatap Revan. Tidak semua cowok? Ya, semisal Revan, mungkin.


"Iya, benar kata Masnya."


"Revan, aku sedang bahas foto Aditya. Karena tadi Irene nunjukin sebuah foto perselingkuhan," kata Airin.


"Iya, aku tahu. Tapi tolong hilangkan mindset kamu itu," kata Revan lagi. Dia tidak terima dengan pendapat Airin.


"Iya, iya. Udah gak usah bahas itu lagi. Jadi sebenarnya dugaanku juga sama kayak hantu sebelahku ini. Sepertinya setelah Aditya dipukul dan jatuh dari motornya lalu pingsan, dia sengaja dibawa oleh pelaku ke sebuah kamar dan difoto dengan wanita tanpa busana. Dibuat seolah-olah mereka sangat mesra. Jadi Irene salah paham tentang ini, dia beranggapan kalau Aditya meninggalkannya demi wanita lain." terang Airin pada Revan.


Revan kini berpikir dan berusaha menerka si pelaku. "Itu berarti Fajar pelakunya."


"Kita gak ada bukti, jangan asal tuduh dulu. Kita harus mengumpulkan informasi yang akurat dulu," kata Airin, meskipun semua kejadian itu seolah mengarah pada Fajar, tapi sebelum ada bukti, Airin bisa begitu saja menuduh Fajar.


"Boleh aku minta satu permintaan lagi," kata Aditya. "Besok hari terakhir aku di rumah sakit. Jika sampai besok keluarga aku tidak ada yang menemukan, jasad aku akan dimakamkan tanpa identitas."


"Tapi alamat kamu dimana?" tanya Airin.


"Iya, alamat aku memang jauh berada di luar kota, aku di sini kos. Jadi kalian tidak mungkin ke sana sekarang. Aku kasih nomor telepon, kamu coba hubungi."


Airin mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor yang disebutkan Aditya. Tapi nomor itu tidak aktif. "Nomornya sekarang tidak aktif. Nanti aku coba lagi."


Kemudian Revan berdiri dan berjalan ke motornya. Dia mengambil lap lalu mengeringkan joknya yang basah. "Ayo, pulang. Ujannya udah reda."


"Iya." Airin berdiri lalu naik ke boncengan Revan. Beberapa saat kemudian motor Revan mulai melaju menuju rumah Airin.


...***...


Malam itu, Revan duduk di sebelah Papanya yang sedang menatap layar laptopnya. Untungnya tadi siang dia sempat bertanya siapa nama Papanya Irene. Sehingga hal itu membuatnya mudah untuk bertanya pada Papanya. Mungkin saja info keluarga Irene bisa membantu dalam memecahkan kasus ini.


"Ada apa?" tanya Kevin sambil menoleh putra bungsunya.


"Hmm, Papa tahu Pak Richard dari Perusahaan Lingga?" tanya Revan.

__ADS_1


Seketika Kevin menghentikan gerak tangannya di atas keyboardnya. "Kenapa tiba-tiba tanya soal Pak Richard, kamu kenal sama dia?"


Revan menggelengkan kepalanya. "Aku butuh informasi tentang Pak Richard."


Kevin menutup layar laptopnya lalu duduk bersandar. "Pak Richard itu seorang penipu. Sudah bertahun-tahun Papa gak pernah lagi bekerja sama dengan dia."


"Penipu?" Revan mengernyitkan dahinya.


"Iya, dia sering menipu kontrak kerjasama dan masih banyak lagi. Memang kedoknya tidak terlihat, tapi Papa tahu. Terakhir, dia menipu penjualan tanah seluas satu hektar di wilayah perbatasan kota. Sebenarnya setengah dari tanah itu milik negara, dia memalsukan surat-suratnya. Pembeli tanah itu menuntutnya, tapi sampai sekarang masalah itu belum tuntas. Padahal pengacara yang mendampingi korban sudah berhasil membuktikan kepalsuan surat, sudah menemukan kesaksian, dan tuntutan kasus penipuan lainnya juga ikut terseret."


"Kenapa belum tuntas, Pa?" tanya Revan semakin penasaran.


"Pengacara itu tiba-tiba hilang entah kemana, barang bukti yang sudah berada ditangan penyidik juga ikut lenyap."


Revan kini diam dan berpikir. Apa hantu Aditya itu adalah seorang pengacara yang dihabisi oleh Pak Richard karena semua kasus penipuannya akan terungkap.


"Papa tahu siapa nama pengacara itu?"


Kevin menggelengkan kepalanya. "Papa kurang tahu, yang jelas dia masih muda dan sangat hebat. Dia masih saudara dengan Pak Arya, pengacara keluarga kita."


"Pa, coba Papa tanya sama Pak Arya. Apa nama pengacara itu Aditya? Karena Aditya telah dibunuh dan sekarang mayatnya ada di Rumah Sakit Husada."


"Papa, tolong percaya sama aku. Kasus ini harus segera terungkap, Pa. Karena jasad Aditya besok akan dikubur jika memang tidak ada keluarga yang mencarinya jadi secara otomatis kasus itu juga akan ikut terkubur."


Kevin sebenarnya ragu, benarkah perkataan putranya itu? Tapi kemudian dia menghubungi Arya dan membuat janji untuk bertemu di rumah sakit.


"Ya sudah, Papa akan cek terlebih dahulu bersama Pak Arya. Kalau memang mayat itu adalah pengacara yang dibunuh, dengan cepat proses hukum akan berlangsung."


...***...


Pagi hari itu, Revan menghentikan motornya di depan rumah Airin. Dia turun dari motor dan berjalan menuju pintu. Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam, beberapa saat kemudian Ayahnya Airin membuka pintu itu. "Revan."


Revan bersalaman dengan Alvin dan mencium punggung tangannya. "Saya mau meminta izin untuk mengajak Airin keluar sebentar." Sebenarnya Revan juga tidak tahu, penyelesaian masalah itu apakah akan memakan waktu lama atau sebentar. Biarlah nanti menjadi tanggung jawabnya jika memang lama.


Beberapa saat kemudian, Airin turun dari lantai atas. Dia menghampiri Revan yang berdiri di depan pintu. "Revan, kamu udah datang?" Sebenarnya Airin menyuruhnya untuk menunggu saja di depan gang, dia ingin memberi alasan pada Ayahnya kalau dia akan pergi ke rumah Melodi. Tapi ternyata Revan malah menjemputnya dan berpamitan pada Ayahnya. Jika Ayahnya tidak mengizinkan alamat gagal semua rencananya.


"Kalian mau kemana?" tanya Alvin.

__ADS_1


"Jalan-jalan ke taman, Om. Mumpung weekend," jawab Revan.


"Ya sudah. Tapi jangan lama-lama."


"Makasih, Ayah." Airin mencium punggung tangan Ayahnya lalu berjalan berdampingan bersama Revan menuju motornya.


Alvin masih melihat mereka sampai motor mereka melaju meninggalkan halaman rumahnya.


Putri-putri aku sekarang sudah beranjak dewasa. Semoga kelak mereka mendapatkan seorang lelaki yang bisa membahagiakannya dan menjaganya.


Airin membuka resleting jaketnya yang awalnya tertutup rapat agar Ayahnya tidak tahu kalau dia sedang memakai kemeja berwarna putih.


"Van, kan aku udah bilang, tunggu aja di depan gang," kata Airin.


"Memang kenapa? Aku harus jemput kamu di rumah, agar orang tua kamu tahu kalau kamu keluar sama aku. Kamu menjadi tanggung jawab aku selama keluar sama aku."


Airin tersenyum kecil. Bisakah jika dia menjadi tanggung jawab Revan seumur hidup?


Airin, mikir apa sih? Kejauhan.


Airin sibuk dengan pikirannya sendiri sampai dia tidak mendengar pertanyaan Revan.


"Ai, gimana rencananya? Kemarin aku chat gak kamu balas." Tidak ada jawaban dari Airin. "Ai?" Akhirnya Revan menarik tangan kiri Airin hingga menempel di perutnya. "Ai, kamu masih ada di belakang aku kan?"


Seketika dada Airin terasa sesak, dia seperti kehabisan oksigen. Bukannya menjawab, dia justru merasakan tangan Revan yang ada di tangannya lalu meninggalkan tangannya agar tetap menempel di perut Revan.


Apakah ini modus terbaru?


💕💕💕


.


Like dan komen ya..


.


Jadi ingat masa sekolah dulu.. 🤭

__ADS_1


.


Pegangan gih biar gak jatuh, takutnya nanti tiba-tiba hilang.... 😂


__ADS_2