Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Bermain Basket Lagi


__ADS_3

Malam hari itu, Airin terus memutar video Revan berulang kali. "Sudah tiga bulan tidak bertemu. Aku kangen."


Airin tidak bisa memejamkan matanya hingga malam telah larut. "Pengen banget telepon kamu."


Entah sampai pukul berapa Airin akhirnya tertidur. Begitulah setiap hari Airin. Hanya dengan belajar dia bisa mengalihkan pikirannya dari Revan. Dia harus bisa mengebut materi semester agar cepat wisuda. Mungkin dengan begitu dia juga akan cepat bertemu Revan, ya mungkin saja.


Setelah kelas Airin selesai siang hari itu, dia berjalan seorang diri di koridor kampus untuk menemui Azka karena hari itu ada jadwal terapi..


"Ai," panggil Satria. Dia kini berjalan di samping Airin.


Meski Airin tidak menghiraukannya tapi Satria selalu mendekatinya. Rasanya dia semakin kesal karena Satria terus menggodanya.


"Ternyata kamu anak dari pemilik kafe Ria ya. Kebetulan sekali aku sering nongkrong di sana sama teman-teman."


"Iya." Hanya itu yang Airin jawab. Kemudian dia menghampiri Azka yang baru saja keluar dari kelasnya. "Ka, hari ini jadwal terapi kan. Ayo aku antar."


"Airin, kamu betah sekali sama dia. Masih banyak cowok yang lebih baik dari dia. Dia aja jalan gak bener, gimana mau jaga kamu." Satria selalu saja menghina Azka.


"Emang kenapa?" Sudah habis kesabaran Airin. "Kamu penasaran kan selama ini aku pacar Azka atau bukan? Iya, aku pacar Azka. Udah mulai sekarang jangan ganggu aku lagi!" Airin menggandeng tangan Azka dan mengajaknya pergi.


"Kamu itu gak pantas sama dia." Satria menahan langkah Airin. "Kamu sama aku aja, aku pasti bisa bahagiain kamu."


"Lepaskan Airin!" Azka menepis tangan Satria dengan kasar. "Beberapa bulan ini gue diam aja saat lo hina, karena gue masih menghargai lo sebagai kating gue."


"Lo berani sekarang!"


"Kalau berani kenapa! Gue gak pernah takut sama lo!" Azka semakin menantang kemarahan Satria.


Satria mengepalkan tangannya dan siap memukul Azka tapi dia tahan. "Gue mau hajar lo, tapi ini masih di kampus. Sekarang lo ikut gue!" Satria menarik paksa Azka agar mengikutinya.


"Apa sih mau dia!" Airin juga mengikuti langkah mereka berdua.


Mereka berdua kini berhenti di lapangan basket.


"Kalau lo bisa kalahin gue, gue gak akan ganggu Airin tapi sebaliknya kalau gue yang menang, Airin akan jadi milik gue!" kata Satria.

__ADS_1


Azka masih terdiam. Dia mengepalkan kedua tangannya. Dia tahu siapa Satria, dia adalah kapten basket kampus itu. Azka tidak pernah takut, hanya saja dia merasa ragu karena sudah lama sekali dia tidak bermain basket.


"Azka, udah jangan ladeni dia." Airin menarik tangan Azka lagi tapi Azka menggelengkan kepalanya.


Azka kini menatap Airin dan mengusap puncak kepalanya. "Kamu tenang saja, aku pasti menang." Kemudian Azka melepas tas dan jaketnya lalu dia berikan pada Airin.


Satria semakin tertawa meremehkan Azka. "Jalan aja gak bener, mau ngalahin gue."


Azka semakin mengeraskan rahangnya. Kali ini emosinya sudah benar-benar terpancing. Dia mengambil bola basket yang ada di pinggir lapangan lalu mendrible nya. Dia tidak akan membiarkan Satria merebut bola itu.


Dia memang sudah bisa berlari meski belum sempurna. Tapi karena teknik bermain basket yang dikuasai Azka sangat bagus, Satria kesulitan merebut bola itu.


Azka kini melempar bola itu masuk ke dalam ring. Selalu tepat dan tidak pernah meleset.


Beberapa mahasiswa ikut bergerombol melihat pertandingan one by one itu.


"Sial!" Satria mengumpat kesal saat dia ketinggalan satu poin. Kini bola basket sudah dikuasai Satria tapi Azka dengan mudahnya merebut bola itu lalu menembak bola itu dan masuk ke dalam ring.


Semua mahasiswa yang melihat bersorak.


"Hebat juga dia."


"Iya? Wah, permainannya jauh lebih bagus dari Satria. Bisa-bisa gelar kapten basket direbut oleh dia."


"Kakinya masih cidera tapi bisa main basket sebagus itu bagaimana kalau dia sudah pulih."


Mendengar omongan teman-temannya, hati Satria semakin memanas. Dia berusaha merebut bola itu dari Azka tapi lagi-lagi gagal.


Kini score Azka jauh lebih unggul dari Satria. Satria tidak mungkin bisa mengimbangi Azka.


Satria merasa sangat kesal, dia mendorong Azka hingga Azka terjatuh.


"Woy, curang lo!" Semua penonton berteriak apalagi saat Satria akan memukul Azka.


Tapi Azka mendorong tubuh Satria lalu dia bangkit dan mengunci lengan Satria. "Lo gak lebih dari seorang pengecut! Kalau lo kalah, akui aja kekalahan lo! Ingat ya, jangan pernah ganggu Airin lagi!" Kemudian Azka melepas Satria dan mendorongnya dengan keras hingga dia mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Azka, kamu gak papa kan?" Airin mendekat sambil mengusap keringat Azka dengan tisu.


"Aku gak papa." Dada Azka terasa berdebar saat menerima perhatian dari Airin.


"So sweet banget. Bisa-bisanya Satria mau rebut pacar orang."


"Tahu diri dong sama adik tingkatan. Jangan merasa hebat."


Satria berdengus kesal dan akhirnya pergi dari tempat itu. Mahasiswa lain juga sudah bubar.


"Ai, ternyata aku sudah bisa main basket." Senyum di wajah Azka mengembang. Dia menggenggam kedua tangan Airin.


"Iya, aku juga ikut bahagia lihat kamu main basket lagi." Airin juga tersenyum bahkan air mata bahagia itu hampir menetes di pipinya. Setelah satu tahun kecelakaan itu, akhirnya Azka bisa bermain basket lagi.


"Aku seneng banget, Ai." Berulang kali Azka mengungkap rasa bahagianya. Tangannya masih menggenggam tangan Airin saat berjalan.


"Hmm, Ka, sorry soal tadi. Aku udah ngaku-ngaku pacar kamu. Soalnya aku gak mau diganggu Satria terus."


"Gak papa. Aku juga gak mau dia ganggu kamu terus. Dua bulan ini aku diam saja sama ulah dia karena aku menghormati dia sebagai kating tapi ternyata dia gak pantas dihormati."


Airin menganggukkan kepalanya lalu perlahan dia melepas tangan Azka yang masih saja menggenggamnya. "Ka, kita mau ke rumah sakit naik mobil atau apa?"


"Kamu gak bawa motor ya? Kita pakai motor aku aja." Kemudian mereka berdua berhenti di tempat parkir. Azka kini memakai helmnya dan menaiki motornya.


Setelah Airin naik ke boncengan Azka, motor Azka segera melaju meninggalkan kampus.


Airin hanya sedikit berpegangan pada pinggang Azka. Untunglah tas Azka ada di tengah dan menjadi penghalang mereka berdua.


Sudah lama aku gak dibonceng Azka. Sejak jadian sama Revan. Setelah itu, Airin melamun. Dia mengingat semua kenangannya bersama Revan.


Sesekali Azka melihat Airin dari kaca spion lalu dia tersenyum kecil.


Walaupun hanya pura-pura tapi saat mendengar kamu mengakui aku sebagai pacar, aku sangat bahagia, Ai.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2