
"Ai, kamu tadi lihat apa?" tanya Revan. Mereka berdua kini duduk di kantin sambil menikmati semangkok bakso.
Airin terdiam sesaat sambil menuang saos sambal ke dalam baksonya. "Gak ada apa-apa sih."
"Beneran? Kalau ada apa-apa kamu cerita sama aku. Mungkin aku bisa bantu. Aku gak mau kamu dalam bahaya."
"Tapi aku juga gak mau kamu dalam bahaya." sahut Airin.
"Kita makan dulu, nanti kita lanjut ngobrol."
Airin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Setelah bakso mereka habis, Revan kini menggenggam satu tangan Airin agar Airin mau menceritakan apa masalahnya. "Ai, aku tahu, jadi kamu itu gak mudah. Kamu selalu terlibat dengan urusan makhluk-makhluk itu. Kalau ada apa-apa kamu cerita sama aku."
Airin mengangguk pelan. "Tadi aku lihat Noni Belanda dan ada Tentara Belanda juga."
Revan mengernyitkan dahinya. "Sudah lama kamu lihat? Atau baru kali ini?"
"Baru kali ini. Sebelumnya gak pernah. Memang bangunan sekolah ini peninggalan Belanda ya?" tanya Airin dengan suara pelan.
Revan mengangguk pelan. "Ayo, ikut aku." Revan kini menggandeng tangan Airin dan keluar dari kantin. Dia mengajak Airin ke perpustakaan. "Di sini ada buku sejarah sekolah ini."
Revan berjalan menuju rak buku sejarah. Dia mencari buku sejarah sekolahnya di rak paling atas. Setelah menemukannya dia mengambilnya lalu duduk di lantai sambil membuka buku itu. Airin kini juga ikut duduk di lantai.
"Waktu zaman penjajahan dulu, sekolah kita memang markas Belanda dan ada penjara tawanan Belanda juga." Revan menunjukkan beberapa foto hitam putih yang ada di buku itu. "Penjara itu tepatnya ada di aula kita. Seluas itu, di dalam ribuan dan berjubel. Jika ada tawanan yang meninggal mereka akan dibuang begitu saja."
Airin mendengarkan penjelasan Revan sambil membuka halaman buku sejarah itu satu per satu.
"Suatu hari, para tawanan memberontak. Mereka saling bantai dengan tentara Belanda di dalam penjara itu. Ada beberapa yang berhasil keluar tapi banyak yang meninggal di tempat dengan mengenaskan."
Airin menghela napas panjang. "Pantas, aku tadi pagi pas ngikuti Noni Belanda yang masuk ke dalam aula terus lantainya tiba-tiba berdarah. Sudah dua tahun baru kali ini aku lihat. Apa gara-gara ubinnya diganti dan beberapa bagian direnovasi?"
__ADS_1
Revan menggelengkan kepalanya. "Aku gak tahu. Memang sebelumnya ubinnya dilapisi papan. Aku pernah dengar, dulu air rembesan berwarna merah seperti darah selalu keluar dari sela-sela ubin, jadi dilapisi papan. Sekarang direnovasi karena akan ada lomba paduan suara antar sekolah. Udah dekat kan waktu lombanya."
Kemudian Airin menutup buku itu. "Iya, aku lupa. Pantas Melodi akhir-akhir ini sibuk. Tapi kamu tahu banyak ya tentang sejarah."
Revan tersenyum kecil lalu mengambil buku itu dari tangan Airin dan mengembalikan ke tempatnya. "Aku memang suka mempelajari sejarah, di samping itu kakek buyut aku adalah salah satu tawanan yang berhasil kabur. Lalu dia menjadi seorang pahlawan. Ya, begitu yang sering diceritakan kakek. Aku sampai hafal ceritanya."
Revan menggandeng tangan Airin lalu mengajak berjalan berputar di dalam perpustakaan. Dia menarik Airin agar duduk di lantai paling pojok. "Jam masuk kurang 10 menit lagi."
"Terus?"
"Nanti aku berangkat, lalu kita gak ketemu tiga hari." Revan menghela napas panjang. "Kenapa rasanya aku gak tega ninggalin kamu."
"Cuma tiga hari."
"Iya, memang cuma tiga hari. Tapi rasanya makin hari aku makin cinta sama kamu. Aku jadi mikir dua kali untuk kuliah di luar negeri." Jemari Revan kini mengusap lembut pipi Airin.
"Jangan ragu. Itu demi masa depan kamu."
Airin menganggukkan kepalanya.
"Untuk sementara kamu rawat dia. Besok kalau dia sudah masuk sekolah, kamu temani dia."
Airin menganggukkan kepalanya. "Itu pasti."
Kemudian Revan menyentuh dagu Airin dan mendongakkan kepalanya. "Bentar aja satu menit." Dia melirik ke kanan dan ke kiri lalu ke atas untuk memastikan tidak ada cctv. Kemudian dia mendekatkan dirinya dan menyentuh bibir yang sudah menjadi candu itu. Untuk sesaat mereka menikmati manisnya ciuman itu. Saling me lu mat dan menyesap.
Meski rasanya masih kurang lama, tapi Revan kini menjauhkan wajahnya dan tersenyum menatap Airin.
"Van, ih." Airin mengusap bibirnya. "Hmm, kita jangan gini lagi ya. Aku..."
"Iya, aku ngerti." Revan mengusap puncak kepala Airin lalu berdiri. "Aku ngerti, memang seharusnya aku bisa menjaga kamu dan tidak menyentuh kamu. Tapi entahlah, aku sangat kecanduan."
__ADS_1
"Ya sama." Kemudian Airin berjalan mendahului Revan.
Revan semakin merasa gemas dengan Airin. Dia melebarkan langkah kakinya dan berjalan di sampingnya. Lalu mencubit pipi Airin sesaat setelah keluar dari perpustakaan. Mereka berdua kini berjalan menuju kelas melewati koridor kelas.
Tiba-tiba langkah Airin berhenti saat melihat ke arah aula. Di depan aula sangat banyak pasukan Belanda dan penduduk pribumi yang berlalu lalang keluar masuk.
Airin menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya sesaat. Saat dia membuka matanya lagi, semua penampakan itu telah hilang hanya ada beberapa tukang bangunan yang menyelesaikan pekerjaannya.
"Kenapa? Kalau memang ada sesuatu di aula, jangan kamu lihat dan jangan ke sana."
Airin menganggukkan kepalanya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Ketika dia masuk ke dalam kelas, dia dikejutkan dengan Noni Belanda itu lagi. Sosok hantu itu duduk di bangku Airin, hingga membuat langkah Airin terhenti.
"Kenapa kamu tidak ke aula? Saya mau tahu dimana keberadaan Mas Aryo?"
Airin berjalan mundur dan berdiri di samping Revan yang sudah duduk di bangkunya.
"Kenapa?" tanya Revan yang melihat wajah ketakutan Airin.
Airin menggelengkan kepalanya.
"Saya tunggu kamu, sebelum saya marah." Kemudian sosok itu menghilang.
Airin duduk dengan lemas di bangkunya. Dia sebenarnya sudah capek berurusan dengan makhluk-makhluk itu. Mereka dengan sengaja terus menghampiri Airin dan menggunakan Airin sebagai alat untuk membantu mereka menyelesaikan masalah-masalah mereka.
Masalah apalagi ini? Aku gak mau ada yang celaka lagi gara-gara aku.
...💕💕💕💕💕💕💕💕...
Like dan komen ya...
__ADS_1
.