Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Di Perpustakaan Itu...


__ADS_3

"Ai, belum selesai? Sini aku bantuin." Azka masuk ke dalam toilet dan meraih gagang sikat yang dipegang Airin.


Tapi Airin mengelaknya. "Udah selesai kok. Kamu tunggu aja diluar."


"Ai, sorry soal tadi," kata Azka.


Seketika Airin menghentikan pekerjaannya dan mengembalikan peralatan bersih-bersih di tempatnya, lalu dia membersihkan tangannya. Setelah itu dia duduk dengan Azka di depan toilet.


"Sebenarnya apa yang kamu rasain saat dekat dengan Siska?" tanya Airin pada Azka setelah menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan jika tidak ada orang di sekitar tempat itu.


Azka menghela napas panjang. "Aku juga gak tahu. Waktu dekat dengan Siska aku kayak lupa semuanya. Lupa sama kamu juga, kayak aku itu tergila-gila sama Siska. Ya untungnya tiap kali aku dengar suara dan nama kamu aku kembali normal."


Airin juga menghela napas panjang. Sepertinya benar dugaannya, ada kekuatan supranatural di tubuh Siska yang mempengaruhi Azka dan Revan. "Sepertinya ada yang merasuki tubuh Siska. Entah makhluk seperti apa dia, aku gak tahu."


"Kalau gitu, kamu hati-hati. Jangan dekat-dekat sama dia."


"Kamu yang hati-hati. Ya meskipun sebenarnya gak papa juga sih kalau seandainya kamu dekat dengan Siska."


Azka justru mencubit pipi Airin saking gemasnya. "Kenapa gitu? Meskipun aku ini gak berarti di hati kamu tapi tolonglah hargai keberadaanku."


"Aduh, ih, Azka." Airin menepis tangan Azka yang akan mencubitnya lagi. "Iya, iya, aku hargai. Berapa sih emang?"


Azka justru tertawa lalu mengacak puncak kepala Airin. Rasanya sangat sulit menghilangkan perasaannya pada Airin. Semakin hari rasa itu semakin besar dan dia semakin takut jika Airin bersama dengan yang lain.


"Aku mau ambil tas dulu," kata Airin.


"Tas kamu dibawa Revan ke perpustakaan."


"Astaga, aku lupa kalau mau belajar bareng sama Revan." Kemudian Airin mengambil ponselnya yang ada di saku dan menyuruh Ayahnya untuk menjemput satu jam lagi.


Setelah itu dia berdiri dan berjalan menuju perpustakaan bersama Azka.

__ADS_1


...***...


"Van, kamu belum pulang?" tanya Siska sambil duduk di samping Revan yang berada di perpustakaan.


Revan hanya menggelengkan kepalanya. Sudah ada beberapa buku matematika di depannya. Dia kini mencari beberapa materi yang akan dia pelajari bersama Airin dan mencatat contoh-contoh soal.


Siska melirik tas Airin yang ada di samping Revan. Dia semakin mendekatkan kursinya dan mulai menggoda Revan. "Van, aku dengar kamu pintar Matematika. Ajarin aku dong. Banyak banget materi yang gak aku mengerti."


Awalnya Revan tak menanggapinya. Dia masih memikirkan Airin karena Airin tak juga menyusulnya ke perpustakaan.


"Van," satu genggaman dari Siska membuat Revan kini menatapnya.


"Iya."


Siska tersenyum kecil. "Ajarin aku Matematika. Bisa ya?"


"Iya, materi yang mana yang kamu tidak mengerti." Seketika hati dan perasaan Revan berubah drastis. Revan kini justru mengajari Siska yang bertanya beberapa soal padanya.


"Aku ambilin tas kamu ya, kamu pulang saja." Azka akan mendekat tapi dicegah oleh Airin.


"Biarkan dulu, aku mau tahu apa mau Siska sebenarnya."


Airin terus mengamati mereka berdua. Beberapa kali terdengar suara tawa Siska. Sepertinya Siska memang sangat pandai menjerat mangsanya.


Terlihat Siska kini menyentuh pipi Revan. Begitu juga dengan Revan, seolah-olah mereka berdua sedang jatuh cinta. Beberapa detik kemudian wajah Siska kian mendekat.


Airin semakin kesal, akhirnya dia melangkahkan kakinya mendekat dan mengambil tasnya.


Seketika Revan tersadar dan menjauhkan dirinya dari Siska. "Airin, mau kemana?"


Airin memakai tasnya dan berlari keluar dari perpustakaan. Dia tak mendengar lagi panggilan Revan.

__ADS_1


"Van, kamu kan belum selesai ngajarin aku." Siska menyentuh lagi tangan Revan tapi kali ini tidak mempan. Revan tetap mengemasi buku-buku itu dan mengembalikannya pada tempatnya.


"Van," panggil Siska lagi tapi Revan justru memakai tasnya dan berjalan cepat keluar dari perpustakaan. "Revan dan Azka? Cinta mereka gak main-main." Siska menghentikan langkahnya saat melihat Azka dan Revan di depan perpustakaan.


Di depan perpustakaan, Azka menghadang langkah Revan yang akan mengejar Airin. "Mau apa lagi lo ngejar Airin!"


"Minggir!" Revan menggeser langkahnya tapi Azka tetap menghalanginya.


Satu pukulan keras tiba-tiba mendarat di pipi Revan. "Jangan pernah permainkan Airin!"


Revan meraba pipinya sesaat yang terasa panas karena pukulan Azka. Dia juga tidak tahu apa yang sudah dia lakukan barusan bersama Siska. Dia menarik Azka agar menyingkir dari hadapannya. Dia kembali melangkahkan kakinya dan mengejar Airin.


Azka akan mengejarnya tapi langkahnya terhenti saat Pak Satya memanggilnya.


"Azka, tolong Bapak merapikan ruang latihan ya."


"Iya, Pak." Dengan terpaksa Azka melangkahkan kakinya menuju ruang latihan basket


"Pak Satya..." gumam Siska sambil tersenyum kecil. Dia kini juga mengikuti langkah mereka.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...


.


Bingung nih, antara Azka atau Revan.. 🤭🤭


Ceritanya masih sangat panjang ya. . Tapi aku mau warning dari awal nih, apapun keputusan final author tentang Azka dan Revan nanti tolong terima dengan lapang dada ya... xixixi...

__ADS_1


__ADS_2