Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Mencari Airin


__ADS_3

Airin melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah klub malam. Dia berjalan berlenggak-lenggok hingga membuat banyak pria hidung menatapnya. Aura keseksiannya benar-benar terpancar. Kemudian dia duduk di depan bar dan memesan minuman.


"Barang baru? Sepertinya masih tersegel. Body nya masih padat dan seksi natural." kata salah satu pria di dalam klub itu sambil mengamati dari atas sampai bawah tubuh Airin.


"Minggir, itu jatah gue. Meski bayar mahal gue rela sama yang kayak gitu." Dia berjalan mendekati Airin lalu duduk di dekatnya. "Hai, sendirian aja?" tanyanya.


Airin mengangguk sambil tersenyum. "Iya."


"Anak baru di sini?"


Airin yang sekarang, jelas tahu apa maksud dari pertanyaan itu. "Iya, masih baru."


"Perkenalkan nama aku Roy." Roy mengulurkan tangannya mengajak Airin berkenalan.


Airin tersenyum dan membalas uluran tangannya. "Nama aku Kiran."


Roy menganggukkan kepalanya lalu memesan minuman untuknya dan untuk Airin. Mereka bersulam lalu meneguk minuman beralkohol itu.


"Turun yuk! Gabung sama teman-teman aku." ajak Roy sambil mendekatkan bibirnya di telinga Airin agar Airin bisa mendengarnya.


"Oke."


Roy menggandeng tangan Airin dan mengajaknya berjoget di lantai disko. Teman-teman Roy langsung mendekat dan berkenalan dengan Airin yang mengaku bernama Kiran itu.


Roy kini semakin mendekat dan memeluk tubuh Airin sambil menikmati alunan musik disko. "Berapa tarif buka segel?" tanya Roy sambil mendekatkan bibirnya di telinga Airin.


Airin tersenyum sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Roy. "Kamu yakin kalau aku masih bersegel?"


Roy mengendus leher Airin sesaat lalu menatapnya. "Yakin." Kedua tangan Roy bergerak menelusuri pinggang Airin lalu berhenti di pan tat Airin dan me re mas nya. "Masih padat dan menggoda."


Airin tersenyum miring. "Oke, 50 juta."


"50 juta? Wow. Kalau service kamu memuaskan dan buat aku ketagihan aku akan kasih kami lebih." Roy menelusuri leher putih Airin yang membuat Airin semakin mendongak dan melenguh kecil. Tangan Roy sudah berani menjamah tubuh Airin dan menciptakan sensasi. "Bagaimana? Aku sudah on fire sekarang."


Airin justru memeluk tubuh pria itu sambil tersenyum miring. "Oke, mau main dimana?" bisik Airin dengan suara sensualnya. "Tapi sebelum main kamu harus bayar dulu."

__ADS_1


"Oke, nanti aku kasih cash buat kamu." Roy mendekatkan bibirnya tapi di tahan oleh Airin dengan telunjuknya.


"Gak boleh cium sebelum bertransaksi."


"Wow, jadi makin penasaran gimana rasanya. Ayo, sekarang saja. Aku pastikan, kamu gak akan kesakitan meski baru pertama." Roy merengkuh pinggang Airin dan mengajaknya berjalan menuju room.


"Roy, gila lo! Cepet banget dapatnya. Gue juga mau."


"Besok aja lo! Karena hari ini gue mau semalaman sama dia."


Mereka berdua berjalan dengan mesra menuju room yang berada di lantai dua. Setelah mengambil kunci, mereka masuk ke dalam kamar itu. Baru menutup pintu Roy sudah ingin mencumbunya.


"Tahan dulu." Airin mendorong tubuh Roy hingga terduduk di sofa. Dia kini duduk di pangkuan Roy. "Cash dulu, baru aku mulai permainan."


"Aku hanya bawa uang 10 juta." Roy mengeluarkan uang dari saku jaketnya. "Lainnya aku transfer ya."


Airin melihat uang itu lalu memasukkan ke dalam tas kecilnya. "Oke, nanti aku kasih nomor rekening aku."


Roy membelai rambut Airin lalu mendekatkan wajahnya. "Aku baru pertama bbertemu dengan wanita secantik kamu. Kamu umur berapa? Masih muda sekali. Daripada bekerja seperti ini, menikah saja dengan aku." Roy mengendus leher Airin lalu perlahan ke atas dan mengecup cuping telinga Airin.


"Ugh, rasanya udah gak sabar ingin menikmati kamu."


...***...


"Mas, Airin gak ada di kamarnya." teriak Rili setelah keluar dari kamar Airin. Dia mencarinya di kamar Ayla tapi juga tidak ada. "Ayla, kamu tahu adik kamu dimana?"


Ayla yang baru saja tertidur kini membuka matanya. "Gak tahu, Bun. Sejak tadi sore gak ke kamar Ayla."


Alvin juga naik ke lantai dua sambil mencoba menghubungi nomor Airin tapi tidak aktif. "Nomornya gak aktif. Apa Airin sama Revan?"


Rili keluar dari kamar Ayla dan menghampiri suaminya yang mencoba menghubungi beberapa nomor tapi tidak ada yang terhubung. "Biar aku cari info ke rumah Kevin. Jangan sampai Revan membawa kabur Airin. Ini sudah larut malam."


Alvin menuruni tangga dengan cepat lalu mengambil jaket dan juga kunci mobilnya.


"Mas, aku ikut."

__ADS_1


"Kamu di rumah saja, kasihan Ayla di rumah sendirian. Kamu temani dia. Nanti kalau Airin sudah pulang kamu hubungi aku."


"Iya Mas, hati-hati." Rili mengantar suaminya sampai depan pintu rumahnya.


Setelah masuk ke dalam mobil, Alvin segera melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah Kevin. Tak butuh waktu lama dia sampai di depan rumah Kevin. Dia keluar dari mobil dan menekan bel rumah yang berada di dekat pintu gerbang. Beberapa saat kemudian ada satpam yang membukakan pintu gerbang.


"Cari siapa, Pak?"


"Cari Kevin."


"Silakan masuk."


Alvin masuk ke dalam halaman rumah Kevin. Dia melihat Kevin dan Revan sedang duduk di teras rumahnya.


"Revan, aku kira kamu sama Airin."


Mendengar suara itu, Kevin dan Revan mendongak menatap Alvin. "Airin kemana Om? Sedari tadi saya tidak kemana-mana. Airin juga tidak menghubungi saya sejak pulang sekolah."


"Beneran kamu gak sembunyiin Airin?"


Kevin berdiri dan menenangkan Alvin. "Kamu tenang dulu, Revan tidak mungkin bawa kabur Airin. Revan, kamu hubungi teman-teman kamu. Siapa tahu Airin bersama temannya."


"Iya, Pa." Revan berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponselnya. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Sudah jam 10 malam, kemana Airin pergi? Apa sudah terjadi sesuatu dengan Airin?


Dia kini membuka chat whatapp nya. Tidak ada satu pesan pun dari Airin. Orang pertama yang dia hubungi adalah Azka.


Sampai beberapa kali nada sambung Azka baru mengangkatnya.


"Azka, apa kamu tahu keberadaan Airin?"


💕💕💕


.


Waduh, Airin...

__ADS_1


Like dan komen ya..


__ADS_2