
Airin, kamu dimana nak?
Alvin mengusap wajahnya yang kusut karena semalaman dia tidak tidur dan berkeliling di dalam hutan. Dia kini duduk di dekat pohon menatap matahari yang mulai menampakkan sinarnya.
"Minum dulu." Kevin memberikan sebotol minuman untuk Alvin. "Mereka menghilang kemana? Jejaknya benar-benar gak ada. Biar aku tambah anak buah aku untuk mencari mereka."
Alvin meletakkan botol minuman yang tinggal setengah itu. "Airin sebenarnya anak indigo, aku takut mereka dalam bahaya karena Airin."
Kevin kembali menepuk bahu Alvin. "Itu berarti putri kamu spesial. Kita positif thinking dulu, masih ada waktu untuk mencari. Ya semoga saja mereka tidak kenapa-napa."
Aksara menghela napas panjang berulang kali. Kemudian dia duduk di sebelah Alvin. "Udah pagi, tapi mereka belum ketemu. Melo punya asam lambung, dia gak boleh sampai telat makan." Dia terus memikirkan keadaan Melodi. Ya, semoga dia selamat dan tidak kenapa-napa, karena jika asam lambung putrinya kambuh, dia akan merasa sesak dan bisa juga pingsan.
"Aksa, kita berusaha cari sama-sama lagi. Kita berdoa saja semoga mereka semua selamat."
Aksara menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian salah satu anak buah Kevin berteriak dan berlari ke arah ketiga Bapak itu. "Pak, kita menemukan sepatu. Apa ini sepatu salah satu dari anak Bapak?"
Seketika Kevin berdiri dan melihat sepatu itu. "Ini sepatu Revan. Kamu menemukan dimana?"
"Di pinggir jurang."
"Pinggi jurang?" Seketika mereka semua berjalan setengah berlari menuju tempat yang dimaksud.
"Apa mereka jatuh ke bawah?" tanya Alvin. Jurang itu cukup curam, bagaimana jadinya kalau mereka jatuh ke bawah.
"Kita akan cek ke bawah."
"Ya Allah, semoga mereka gak kenapa-napa." Lutut Aksara terasa melemas membayangkan jika putrinya jatuh dari jurang yang sangat tinggi itu.
"Aku ikut turun!" kata Alvin. Dia harus memastikan keadaan putrinya sendiri. Dia turun dengan berpegangan tali yang sudah dililitkan pada pohon besar.
"Aku juga!" Kevin dan Aksara tidak tinggal diam. Mereka tidak akan menyerah mencari putra dan putrinya.
...***...
__ADS_1
Airin dan Azka terbangun karena mendengar suara muntahan dari Melodi yang cukup keras.
"Mel, kamu kenapa?" Airin berdiri dan mengusap punggung Melodi.
"Perut aku mual banget. Kayaknya asam lambung aku naik." kata Melodi. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan mata sayunya.
"Kamu minum dulu." Kemudian Azka menyodorkan minuman untuk Melodi.
Akhirnya Melodi mengambilnya tapi baru satu tegukan, dia kembali mual lagi.
Airin kini menatap langit yang sudah mulai terang. "Kita jalan sekarang saja ya." Airin membantu Revan duduk lalu mengambilkan minum untuknya.
"Kalian bertiga saja yang jalan. Biarkan aku di sini." Kaki Revan sudah tidak bisa digerakkan. Panas ditubuhnya juga belum turun, bahkan sekarang dadanya terasa semakin sesak.
"Nggak! Kamu harus tetap ikut kita!"
Mereka semua kini memandang ke arah bus yang terbalik itu. Benar-benar pemandangan yang sangat mengerikan. Terlihat jelas di sekitar bus itu banyak mayat yang sudah menjadi tulang. Ada beberapa tulang yang tercecer jauh dari bus, entah karena ulah dari binatang atau terseret air hujan.
Kemudian Azka memasukkan beberapa minuman ke dalam tas lalu membawanya.
Tiba-tiba saja tubuh Melodi melemas dan dia terjatuh, untung Azka dengan sigap menangkap tubuhnya. "Melodi!" Dia tepuk pipi Melodi. "Mel, ayo bangun Mel. Kita harus cepat keluar dari sini. Melo!"
"Biar Melodi sama kamu, aku akan bantu Revan!" kata Airin.
"Tapi kamu bisa?"
"Bisa. Kamu jalan di depan saja. Cepat naik ke atas."
Azka menurunkan Melodi lalu dia berjongkok dan menggendong Melodi di punggungnya. "Ai, kamu ikat Melodi ke tubuh aku dengan kain itu."
Airin menganggukkan kepalanya lalu mengikat tubuh Melodi di punggung Azka.
Setelah itu Azka berdiri. "Aku akan cepat naik ke atas agar bisa segera bantu kalian." Azka melangkahkan kakinya dan mulai menaiki jalan yang perlahan menanjak itu. Meskipun lelah, dia harus bisa sampai di atas dengan cepat. Agar dia bisa kembali dan membantu Revan.
Airin kini menarik tubuh Revan agar berdiri. Dia sampirkan tangan Revan di bahunya lalu kedua tangan Airin menahan pinggang Revan.
__ADS_1
"Ai, aku berat. Kamu tinggalin aku di sini saja." Tubuh Revan benar-benar sudah tidak bertenaga. Bahkan untuk melangkah saja rasanya sangat sulit.
"Nggak akan. Kita pasti bisa." Airin berusaha menahan tubuh Revan. Kemudian dia langkahkan kakinya perlahan.
Revan semakin lemas, dia kini memejamkan matanya dengan napas yang berat.
"Revan, kamu harus bertahan." Mata Airin terasa memanas. Dia masih berusaha berjalan meski tubuh Revan semakin terasa berat. Dia berjalan perlahan melewati jalan yang kian menanjak itu. Beberapa kali dia terjatuh lalu bangun lagi.
"Ai, tinggalkan aku di sini. Aku sudah tidak sanggup." kata Revan dengan suara lemahnya. Napasnya putus-putus dan sesak.
Air mata sudah membanjiri pipi Airin. Dia tidak ingin kehilangan Revan. Bagaimanapun caranya Revan harus keluar dari tempat itu dengannya. "Aku akan berusaha membawa kamu, selama aku bisa."
"Aku hanya ingin kamu selamat, kamu tinggalkan aku di sini. Kamu cepat naik ke atas."
Airin menggeleng keras. Dia terus berusaha menarik tubuh Revan.
"Ai, aku udah gak sanggup." Napas Revan semakin sesak. Tubuhnya semakin melemas dan membuat mereka jatuh berulang kali.
"Revan kamu harus bertahan." Airin menghapus asal air matanya. Kemudian dia mendongak ke atas. Terlihat Azka sudah setengah perjalanan.
Aku gak boleh nyerah.
Airin bangkit lagi. Dia berusaha sekuat tenaganya membawa Revan berjalan.
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
.
Yang belum baca kisah Papanya Melodi, bisa mampir ya ke Aksara Danendra dan Nada Azalea...
__ADS_1