
"Kamu selingkuhannya Aditya?" tuduh Irene.
Pertanyaan Irene membuat Airin terkejut. "Bukan!" Airin melirik Aditya yang berdiri di dekatnya. Apakah Aditya pernah selingkuh dan membuat Irene sakit hati hingga dengan mudahnya Irene menuduhnya seperti itu.
"Terus, ngapain kamu ke sini?" tanya Irene.
"Aku disuruh Kak Aditya," kata Airin dengan terbata. Dia juga bingung harus berkata apa. Sedangkan Aditya hanya menatap nanar Irene.
"Disuruh Adit? Mana dia sekarang? Aku udah nunggu dia di kafe sampai malam ternyata, dia sedang selingkuh di hotel." Irene semakin menangis. Dia kini melempar bantal dan guling ke arah Airin. "Kamu pergi! Aku gak mau tahu lagi tentang Aditya!!"
"Airin, bilang sama dia kalau aku gak pernah selingkuh." kata Aditya.
"Kak Irene, Kak Aditya gak pernah selingkuh."
Irene mengambil beberapa lembar foto dan ditunjukkan pada Airin. "Lihat ini! Ini namanya apa kalau gak selingkuh!!!"
Airin membulatkan matanya. Disitu terlihat jelas Aditya sedang memeluk seorang wanita tanpa busana di atas ranjang hotel.
"Irene, aku gak pernah ngelakuin itu. Aku sayang sama kamu, aku gak mungkin selingkuh! Irene! Irene dengar aku!" Aditya berusaha menjelaskan pada Irene tapi percuma, Irene tidak mungkin mendengarnya.
Airin melihat foto-foto itu dan mengamatinya.
Sepertinya foto ini memang asli, mungkin saja foto ini diambil waktu Aditya tak sadarkan diri, setelah itu dia dibuang ke sungai. Tapi bagaimana kalau Aditya benar-benar selingkuh? Aku juga tidak tahu bagaimana kehidupan Aditya sebelumnya.
"Kak, sebenarnya Kak Adit itu sudah...."
"Siapa kamu?" Belum selesai Airin berkata, ada Mama Irene yang masuk ke dalam kamar.
"Hmm, maaf saya permisi." Buru-buru Airin keluar dari kamar lalu dia menuruni tangga dan keluar dari rumah itu. Dia segera naik ke boncengan Revan yang sudah stand by di atas motor.
"Van, jalan sekarang!" perintah Airin. Dia masih belum menyiapkan skenario yang pas jika ditanya macam-macam. Dia harus mengorek informasi lagi lewat Aditya atau yang lainnya karena dia tidak mau asal tuduh dan duga.
"Van, besok kamu ikut ya temani aku." Airin mendekatkan dirinya agar Revan bisa mendengar suaranya.
"Iya, aku akan temani kamu sampai masalah ini selesai. Nanti di rumah kita bahas soal ini lewat chat ya. Aku tadi sempat tanya-tanya sama Pak Satpam, sepertinya perusahaan Papanya Irene pernah bekerja sama dengan Papa," kata Revan.
__ADS_1
Airin semakin mendekatkan dirinya agar dia bisa mendengar kalimat Revan dengan jelas. "Makasih ya, kamu udah mau bantu aku."
"Iya, sama-sama." Tiba-tiba saja ada seekor kucing yang melintas di jalan raya, Revan mengerem motornya secara mendadak yang membuat Airin terhuyung ke depan.
"Eh, sorry," kata Revan sambil kembali melajukan motornya. Jantungnya berdetak dengan kencang merasakan tubuh Airin di punggungnya. Jiwa mudanya benar-benar bergejolak. Dia juga lupa sedari tadi tasnya diletakkan di depannya, harusnya tas itu bisa sebagai penghalang antara dirinya dan Airin. Ya, memang lupa atau disengaja?
"Van, mendung banget. Macet lagi." Airin menatap langit yang mulai menghitam, sedangkan perjalanan mereka masih cukup jauh. Mereka juga lewat di jalur utama tengah kota, jelas saja macet di jam pulang kerja.
Setelah 15 menit berjalan pelan seperti siput, akhirnya Revan bisa lepas dari kemacetan itu. Namun tiba-tiba hujan turun dengan deras.
"Aduh, aku gak bawa jas hujan." Revan menepikan motornya di depan sebuah ruko yang kosong. Mereka berdua turun dari motor dan duduk di lantai ruko.
"Hubungi orang tua kamu, biar gak khawatir," kata Revan sambil melepas jaketnya lalu dia pakaikan di badan Airin.
Seketika dada Airin terasa sesak. Terkadang, dia tidak percaya si kulkas begitu perhatian dengannya.
Aku gak boleh baper. Gak boleh! Revan gak mungkin suka sama aku.
Airin mengalihkan debaran di dadanya dengan mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Bundanya agar tidak khawatir. Kemudian dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Hmm, kita hanya sahabat," jawab Airin. Karena memang itulah kenyataannya.
Revan tersenyum kecil. "Cowok dan cewek ketika bersahabat itu gak mungkin kalau gak ada rasa."
"Ya, kamu benar. Tapi aku benar-benar gak ada perasaan sama Azka. Dia memang baik, tapi ya gimana lagi, cinta itu tidak bisa dipaksa."
"Apa Melodi sebagai penghalang kamu dan Azka?" Kali ini Revan beralih menatap Airin.
Airin tak menyangka, Revan tahu banyak tentang kisahnya. "Bukan!" Airin kembali mengalihkan pandangannya. "Kamu tahu darimana? Pasti Della yang cerita sama kamu."
Revan hanya tersenyum kecil. Dia kembali meluruskan pandangannya. Ada satu hal yang tersimpan rapi di dada Revan.
Mereka kini sama-sama terdiam. Sampai 30 menit, hujan tak juga reda.
"Ujannya gak reda-reda. Aku capek." Airin meluruskan kakinya dan bersandar di tembok.
__ADS_1
"Sebentar lagi pasti reda. Kalau gak, suruh Ayah kamu jemput pakai mobil saja, biar kamu cepat istirahat di rumah."
Airin menggelengkan kepalanya. "Ayah lagi sibuk di kafe. Gak papa, aku menunggu sebentar lagi."
Tiba-tiba saja hantu Aditya muncul di dekat Airin yang membuatnya terkejut. Seketika dia menyembunyikan wajahnya di lengan Revan.
"Kenapa?"
"Ada hantu," jawab Airin. Meski hantu yang satu ini tidak menakutkan tapi tetap saja dia terkejut saat Aditya tiba-tiba muncul tanpa permisi.
"Maaf aku mengejutkan kamu dan mengganggu kalian berpacaran."
Airin menghela napas panjang lalu dia menegakkan dirinya. "Enak aja, kita gak pacaran."
Revan hanya mengernyitkan dahinya. Lambat laun dia mulai terbiasa dengan tingkah aneh Airin.
"Ketika seorang pria sudah meminjamkan jaketnya, itu tandanya dia ada perasaan sama kamu."
Seketika Airin menatap jaket Revan yang dia pakai. Benarkah demikian? Pipinya kini memerah.
Ah, gak mungkin. Aku gak boleh baper.
"Sepertinya foto yang ada di Irene itu diambil saat aku pingsan, sebelum aku di buang ke sungai." kata Aditya.
"Tapi beneran kan kamu gak selingkuh? Karena zaman sekarang itu banyak cowok yang ngakunya setia tapi ternyata punya selingkuhan." kata Airin.
"Tidak semua cowok seperti itu," sahut Revan.
Seketika Airin menatap Revan. Tidak semua cowok? Ya, semisal Revan, mungkin.
💕💕💕
.
Like dan komen ya ..
__ADS_1