
"Buat apa aku bisa lihat kejadian yang akan datang kalau aku tidak bisa mencegahnya!"
Revan berjongkok dan memeluk tubuh Airin. "Ai, udah jangan salahkan diri kamu. Ini semua sudah takdir. Kita tidak bisa mengubahnya."
Semua pengunjung yang tidak terdampak ledakan itu berlari menuju tempat parkir yang berada di bawah tanah. Tiba-tiba Airin mendapat bayangan lagi akan terjadi ledakan di tempat parkir itu. Airin berdiri dan menghalangi mereka.
"Jangan ke tempat parkir, di sana juga ada bom." Tapi Airin justru didorong hingga dia terjatuh.
Revan berusaha menolong Airin tapi dia terhalang oleh lalu lalang orang dan dia semakin jauh dari Airin.
Beberapa saat kemudian apa yang dikatakan Airin terjadi. Tempat parkir itu akhirnya meledak.
Airin berdiri dan menatap tubuh-tubuh orang yang hancur dan terbakar di tempat parkir itu. Kemudian Airin berjalan menjauh dari tempat itu.
"Ai," panggil Revan. Revan bernapas lega saat melihat Airin tidak kenapa-napa. Dia akan mendekati Airin tapi banyaknya orang yang berhamburan dan beberapa wartawan dadakan mengerumuni tempat itu. Bahkan salah satu dari mereka menyenggol Airin hingga membuatnya terjatuh. "Airin!"
Airin jatuh terduduk. Tiba-tiba ada mobil ambulance yang berhenti tepat di belakang Airin. Belakang kepala Airin dan punggung terbentur mobil ambulance itu dengan keras hingga dia jatuh tersungkur.
"Airin!" teriak Revan. Dia mendorong orang yang menghalangi jalannya lalu segera meraih tubuh Airin. "Airin."
Airin masih membuka matanya, dia meringis kesakitan.
"Pak, bawa dia ke rumah sakit sekarang!" pinta Revan sambil mengangkat tubuh Airin mendekati tim medis yang sedang menurunkan brangkar dorong dari ambulance.
"Maaf, kami harus menyelamatkan korban ledakan yang terluka."
"Tapi dia tertabrak mobil ambulance ini."
"Tapi dia tidak mengalami luka yang serius." kata tim medis itu sambil berlalu.
"Kalian! Shits!" Revan sangat emosi karena Airin tidak segera mendapatkan pertolongan dari tim medis padahal dia yakin luka Airin parah meski tidak terlihat.
"Van, sakit sekali." kata Airin. Dia kini sudah memejamkan matanya.
__ADS_1
"Sabar ya, aku akan bawa kamu ke rumah sakit sendiri." Revan tidak mungkin ke tempat parkir, mungkin juga mobilnya sudah ikut terbakar di sana. Dia berlari ke tepi jalan yang sangat macet. Berusaha mencari kendaraan tapi tidak ada yang bisa berjalan karena terjebak macet.
Tiba-tiba Airin muntah di blazer Revan.
Revan menghentikan langkahnya. Dia duduk di pinggir jalan dan semakin mengkhawatirkan kondisi Airin. "Astaga, Ai..."
"Maaf." kata Airin dengan lemah.
"Gak papa." Revan melihat daerah itu. Setahu dia ada rumah sakit yang dekat dengan tempat itu. Airin harus segera mendapatkan pertolongan.
Beberapa saat kemudian Airin muntah lagi tapi kali ini yang keluar darah segar.
"Sakit." kata Airin lagi dengan lirih kemudian dia tak sadarkan diri.
"Airin, kamu kenapa?" Mata Revan sudah berkaca-kaca melihat darah segar yang keluar dari mulut Airin. Dia segera berdiri dan berlari menyeberang jalan dan memecah kemacetan.
Untunglah ada polisi lalu lintas yang berbaik hati menolong Revan. "Ayo, saya antar. Di dekat sini ada rumah sakit."
Revan naik ke atas motor polisi dengan tangan yang tetap menggendong Airin. Polisi itu segera memecah kemacetan dengan suara sirine dari sepeda motornya. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di depan rumah sakit.
Dokter dan suster segera menangani Airin sedangkan Revan kini menunggu diluar. Dia lepas blazernya yang penuh dengan darah. Pikirannya benar-benar tidak tenang. Dia tidak ingin terjadi apa-apa pada Airin.
"Airin pergi bersamaku, tapi aku gak bisa jaga dia." Revan mengusap wajahnya lalu dia berjalan maju mundur tak karuan menunggu hasil pemeriksaan.
Kemudian dia duduk dan menghubungi kedua orang tua Airin dan juga kedua orang tuanya.
...***...
"Pasien harus segera dioperasi karena ada darah yang menggumpal di dekat otak kecilnya. Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi karena gumpalan sangat dekat sekali dengan saraf-saraf penting dan benturan keras di punggungnya juga sudah merusak beberapa saraf. Kemungkinan terburuknya adalah pasien bisa mengalami kelumpuhan total."
Revan sudah tidak sanggup mendengar penjelasan Dokter. Dia tahu luka dalam yang dialami Airin sangat parah. Dia hanya bisa duduk dan menundukkan pandangannya. Air matanya sudah menetes, andai saja dia tidak mengajaknya ke mall itu pasti semua ini tidak akan terjadi.
Airin, kamu berjuang ya. Sebentar lagi kita akan hidup bersama. Aku akan tetap menikahi kamu apapun yang terjadi.
__ADS_1
"Sabar, Van." Kevin merengkuh pundak putranya. "Airin pasti tidak apa-apa. Kalian sudah berhasil selamat dari ledakan itu."
"Tapi tetap saja aku gak bisa jaga Airin, Pa." Revan menangkupkan kedua tangannya di depan dagu. Selangkah lagi dia dan Airin akan hidup bahagia mengapa selalu saja ada hal buruk yang terjadi.
Di kursi lain ada kedua orang tua Airin yang juga sangat bersedih. Baru saja Airin tersenyum bahagia dan bisa melupakan kepergian Azka tapi sekarang dia justru mendapat musibah di saat hari pernikahannya akan segera dilaksanakan.
Sampai beberapa jam mereka menunggu operasi Airin. Bahkan Revan sampai berdiri dan berjalan mondar mandir lalu berhenti di dekat pintu ruang operasi.
Beberapa saat kemudian ruang operasi itu terbuka. Revan dan orang tua Airin segera mendekat.
"Bagaimana keadaan Airin?"
"Pasien dinyatakan koma karena gumpalan darah itu mengenai saraf-saraf penting yang berada di otak kecil. Kami sudah berusaha dengan keras tapi pasien tetap tidak ada respon apapun."
Seketika lutut Revan melemas. Dia kini jatuh terduduk di lantai.
"Sampai berapa lama, Dok?" tanya Rili dengan suara yang bergetar karena tangisnya.
"Kami tidak bisa memastikan. Untuk sementara kehidupan pasien sangat bergantung dengan alat-alat yang terpasang di tubuhnya."
"Airin!" Revan semakin menangis terisak dengan satu tangan yang mengepal dan memukul lantai. Hatinya hancur mendengar kondisi Airin, rasa bersalah dan menyesal juga menyelimutinya.
"Van, tenangkan diri kamu." Kevin memeluk tubuh Revan agar dia lebih tenang. "Kita berdoa untuk kesembuhan Airin. Papa juga akan cari Dokter spesialis untuk kesembuhan Airin."
Airin cepat sadar sayang. Aku akan tetap menikahi kamu apapun kondisi kamu.
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1
.
ðŸ˜