Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Siapa Dia?


__ADS_3

"Melodi, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Azka sambil menatap Melodi yang sedang menyusut air matanya.


"Kenapa kamu gak pernah cerita masalah ini sama aku atau Airin. Kita itu sahabat."


Azka berjalan mendekati Melodi. "Karena aku gak mau terlihat lemah di depan kalian. Kamu gak takut malam-malam ada di tengah kuburan gini. Ayo pulang!" Azka menarik tangan Melodi agar segera mengikutinya keluar dari pemakaman.


Sebenarnya Melodi juga takut berjalan di tengah kuburan malam-malam, tapi dia sengaja mengikuti Azka. Dia memang sudah tahu tentang kakaknya Azka yang telah meninggal karena kecelakaan tapi dia tidak mengira cerita yang sebenarnya sangat mengenaskan seperti itu.


Mereka kini sampai di depan makam dan berdiri di dekat motor mereka.


"Azka, kalau kamu ada masalah cerita sama aku. Ya meskipun aku gak bisa bantu, tapi setidaknya beban di hati kamu bisa sedikit berkurang," kata Melodi lagi.


Azka akhirnya duduk di kursi dekat penjual kopi. Dia usap wajahnya yang kusut lalu menghela napas panjang agar sesak di dadanya sedikit berkurang. Dia kini menatap jalanan yang ramai malam hari itu.


Melodi kini duduk sampingnya. Dia hanya menemani Azka yang masih terdiam. Dia biarkan sampai Azka mau cerita dengan sendirinya.


"Kamu tahu kan Kak Arka lima tahun yang lalu meninggal karena kecelakaan," kata Azka memulai pembicaraan.


Melodi menganggukkan kepalanya. "Iya, aku ingat. Waktu itu kita baru masuk SMP."


"Sebenarnya akulah penyebab kecelakaan Kak Arka. Waktu itu aku pulang ekskul basket. Aku terlalu senang karena bisa masuk tim basket junior dan mendapat bola basket baru dari pelatih. Aku memainkan bola itu di depan sekolah, tapi ada teman yang menyenggol hingga bola itu menggelinding ke jalan raya. Tanpa melihat kanan dan kiri, aku langsung mengejar bola itu. Aku gak tahu kalau ada truk yang mendekat, dan Kak Arka menarik tubuh aku tapi sayang Kak Arka terjatuh dan dia terlindas truk." Azka kembali menekan ujung matanya agar tidak menangis lagi. Rasanya sangat menyedihkan ketika harus mengingat tragedi itu lagi.


"Kamu pasti trauma banget."


"Iya, bahkan sampai sekarang. Apalagi Ayah terus menyalahkanku. Aku sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik, tapi selalu saja aku dipandang sebelah mata. Prestasi basket aku juga gak berguna. Kalau aku bisa memilih, lebih baik aku saja yang mati daripada Kak Arka." Kali ini Azka sedang berada di ujung lelah dan keputus asaannya.


"Ssttt, Azka kamu gak boleh ngomong gitu. Mungkin Ayah kamu masih sedih, gak ada orang tua yang gak menyayangi anaknya."


"Sudah lima tahun berlalu tapi Ayah semakin menjadi. Bahkan Ayah menjadi kasar sama Ibu karena Ibu selalu membela aku. Kalau kamu di posisi aku, pasti kamu juga merasa salah dan memilih pergi saja dari dunia ini."


"Iya, yang sabar ya. Sekarang lebih baik kamu pulang, temani ibu kamu. Pasti ibu kamu sedang bersedih, sama seperti yang kamu rasakan." Melodi berdiri lalu melihat penjual martabak di sekitar tempat itu. "Aku beliin martabak ya buat ibu kamu."


"Gak usah Mel, kalau kamu mau beli aku temani buat antri."


"Iya, temani sekalian aku beliin buat ibu kamu." Kemudian Melodi dan Azka mengendari motornya masing-masing lalu berhenti di depan penjual martabak. Dia memesan empat martabak telur spesial. Dua untuknya dan dua untuk Azka.

__ADS_1


"Jangan cerita sama Airin masalah ini," kata Azka.


"Kenapa?"


"Ya gak papa. Dia udah sering diteror hantu, aku gak mau dia ikut kepikiran masalah aku."


Melodi hanya tersenyum kecil. Ya, dia sadar diri, dia tidak mungkin bisa mengganti posisi Airin di hati Azka.


...***...


Keesokan harinya, baru saja Airin masuk ke dalam gerbang, dia sudah disambut oleh Revan. Mereka kini berjalan berdua menuju kelas.


"Ai, kemarin gak dimarahi Ayah kamu kan?" tanya Revan.


"Nggak. Ayah itu pengertian tapi ya gitu, aku harus nurut apa kata Ayah."


"Ya udah. Aku gak antar kamu pulang lagi ya, biar gak kayak kemarin, benar apa kata Ayah kamu, kita belum waktunya berduaan," kata Revan.


"Ya sebenarnya gak papa sih, asal izin dulu sama Ayah," kata Airin. Sebenarnya dia juga sangat senang sekali dibonceng Revan. Rasanya dia ingin mengulanginya lagi.


Mendengar perkataan Airin, Revan mengernyitkan dahinya. "Siapa?"


"Itu di samping Azka, kamu kenal gak? Perawakannya mirip Azka." Kemudian dia mempercepat langkahnya untuk menyusul Azka. "Oo, anak kelas dua belas. Pantas aku gak pernah lihat," kata Airin lagi setelah melihat badge kelas di lengannya.


Mendengar suara Airin di dekatnya, seketika Azka menoleh Airin. "Ada apa Ai?"


"Gak papa, cuma lihat kakak kelas yang ada di sebelah kamu," jawab Airin yang tidak sadar bahwa dia adalah makhluk tak kasat mata.


"Kakak kelas?" Azka juga bingung apa yang dimaksud Airin. Dia menoleh ke kanan dan kiri, tidak ada siapa-siapa.


Kemudian Airin masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya.


"Ai, gak ada siapapun yang jalan di dekat Azka," kata Revan yang duduk di belakang Airin.


Seketika Airin kembali menoleh Azka. Tersadar seseorang yang berada di samping Azka terlihat sangat pucat dengan sorot mata merahnya.

__ADS_1


"Hah!" Airin kini menutup wajahnya dengan tas.


"Ai," Revan berdiri dan mendekati Airin lagi. "Kamu lihat sesuatu?"


"Ai, kamu kenapa?" tanya Azka yang kini duduk di bangkunya.


Airin kini membuka wajahnya, lalu menatap Revan kemudian beralih pada Azka. Sosok yang memakai seragam putih abu-abu itu sudah tidak ada.


Airin hanya menggelengkan kepalanya pada Azka.


"Kamu udah pelajari materi yang aku kasih. Tinggal satu minggu lagi olimpiade itu," kata Revan yang masih berdiri membungkuk di samping Airin.


"Udah. Tapi ada beberapa yang gak aku mengerti. Nanti saja ya sepulang sekolah kita belajar sebentar."


"Oke." Kemudian Revan membuka buku paket yang ada di meja Airin. "Pasti kamu bingung materi yang ini. Agak sulit sih emang."


Azka hanya menatap Airin dan Revan yang sedang membahas beberapa materi.


Olimpiade matematika?


Dia kembali mengingat kejadian nahas itu. Kakaknya meninggal tepat sehari sebelum mengikuti olimpiade matematika tingkat provinsi.


Andai saja kejadian itu tidak terjadi, pasti Kak Arka menang dalam olimpiade itu.


Airin merasakan hawa negatif kembali muncul. Dia melirik Azka yang sedang melamun.


Sosok itu kembali muncul dan berusaha memegang Azka. Airin menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak.


Siapa dia?


💕💕💕


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2