
Kalian semua tidak akan bisa keluar dari hutan ini!
Seketika Airin terbangun, napasnya terengah karena mimpi buruk itu. Dia usap pelipisnya yang berkeringat. Mimpi buruk itu seolah nyata.
"Kenapa perasaanku jadi gak enak gini? Semoga itu semua hanya mimpi." Airin kini menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 3 pagi. Dia sudah tidak bisa tidur lagi. Dia kini mengambil ponselnya dan membaca chat dari Revan semalam yang belum sempat dia balas karena ketiduran.
"Revan..." gumamnya pelan sambil tersenyum kecil.
Kemudian dia beralih pada nomor Azka. Terakhir chat dari Azka yang berisi pemintaan maaf itu masih ada. Dia kini membuka blokir itu. Ya, masalah sudah berlalu, saatnya dia berdamai dengan keadaan. Dia melihat foto profil Azka, tidak ada foto apapun. Hanya background yang berwarna hitam.
"Kasihan Azka, harusnya aku sudah memaafkannya dari dulu." Kemudian Airin turun dari ranjangnya dan duduk di dekat meja belajarnya.
Di atas meja belajarnya ada fotonya bersama Della, Melodi, dan Azka. "Aku kangen kita kayak dulu lagi."
...***...
"Airin, ingat pesan Ayah. Hati-hati di sana. Jangan jalan sendiri di hutan. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Ayah atau Bunda." pesan Alvin setelah menghentikan mobilnya di depan sekolah Airin. Di sana sudah ada lima bus yang berjajar.
"Iya Ayah," jawab Airin sambil mencium punggung tangan Ayahnya.
"Jaga diri baik-baik ya sayang. Dibantuin bawa barangnya gak?" Rili mencium kedua pipi putrinya.
"Gak usah, Bun. Ada Melodi dan Siska." Kemudian Airin turun dari mobil sambil menenteng tas ranselnya yang besar. Di satu tangannya ada totebag yang berisi makanan instant miliknya dan kedua temannya.
Airin mencari keberadaan Melodi dan Siska, tapi belum ketemu. Dia berjalan menuju bus B untuk kelasnya. Baru juga beberapa langkah tali tas totebag nya lepas hingga membuat makanan instant seperti pop mie, dan lainnya berhamburan di tanah.
"Tahu gitu tadi bawa kardus aja sekalian. Ini Melodi sama Siska kemana lagi. Harusnya mereka nih yang bawa makanan. Udah nitip sebanyak ini, aku gak ditungguin." Airin mengambil barang-barangnya sambil mendumel.
Ada satu tangan yang kini membantunya memungut makanan instant itu dan dimasukkan ke dalam kantong plastik.
Airin kini menatapnya. "Azka, makasih."
"Sini aku bawakan tas kamu. Pasti berat," kata Azka sambil membawa tas ransel Airin yang diletakkan di bawah.
"Eh, hmm, gak usah aku bisa."
Tapi Azka tetap membawanya menuju bus kelasnya lalu memasukkan barang-barang Airin dan miliknya ke dalam bagasi.
__ADS_1
Terlihat Revan sedang berdiri di dekat pintu sambil mendaftar kehadiran peserta camping yang ada di bus B.
Airin kini hanya membawa tas kecilnya lalu mendekati Revan. "Airin hadir."
Revan tersenyum sambil memberi tanda centang di dekat nama Airin. "Di kursi deretan nomor lima ya. Udah aku tandai," bisik Revan saat Airin masuk ke dalam bus.
Airin hanya tersenyum dengan pipi yang merona. Kemudian dia melihat Melodi dan Siska yang sudah duduk anteng di kursi deretan nomor 4. "Kalian aku cariin ternyata ada di sini. Gak bantuin aku bawa makanan, sampai jatuh tadi di jalan."
"Ya ampun Airin, maaf ya aku lupa loh. Tadi kita cepat-cepat cari tempat duduk biar gak di belakang."
Airin kini duduk di kursi yang berada di belakang Melodi dan Siska. Lebih tepatnya yang sudah ada name tag Revan dan Airin.
"Udah ditandai kursinya. Airin, Revan, gak ada yang boleh nempatin," kata Siska sambil tertawa.
"Bukan hanya kursi yang ditandai. Tuh, ada minuman dan makanan juga. Spesial kan? Kita yang jomblo hanya bisa ngiri."
Airin duduk di dekat jendela sambil tersenyum. Dia memang merasa sangat istimewa. Belum berangkat saja hatinya sudah dibuat berbunga-bunga oleh Revan.
Kayaknya Revan berangkatnya pagi banget. Dia itu memang rajin.
Beberapa saat kemudian, bus mereka pun berangkat. Revan kini menyandarkan punggungnya dan satu tangannya menggenggam tangan Airin. "Ada minuman dan cemilan buat kamu. Biar gak bosan, perjalanannya hampir tiga jam."
Airin justru tersenyum kecil. Bagaimana mau bosan kalau duduknya sama pacar. "Kamu berangkat jam berapa? Tadi chat aku gak dibalas."
"Iya, aku berangkat jam 6 kurang," jawab Revan.
"Rajin banget."
"Iya soalnya ikut menyiapkan semua perlengkapan sama panitia, maaf tadi gak sempat balas chat kamu. Aku buru-buru langsung berangkat." Mereka berdua masih mengobrol dan saling menatap dengan satu tangan yang terpaut. Benar-benar terasa bus milik berdua yang lainnya hanya menumpang.
"Ciee, ciee, pak ketos kita makin bucin aja. Bikin iri hati para jomblo," celetuk salah satu temannya.
"Iya loh. Tangannya lihat tuh, menggenggam erat kayak mau nyebrang padahal lagi duduk santai."
"Emang dasar bucin!" Ria ikut bersuara. Ria sekarang sudah bisa mengontrol dirinya. Dia tidak lagi sering membully seperti dulu.
Airin dan Revan hanya tersenyum kecil. Setelah selesai berita miring antara Azka dan Airin, mereka memang sudah go public. Tidak lagi berpacaran secara sembunyi-sembunyi.
__ADS_1
Setalah hampir satu jam perjalanan, Airin merasa sangat mengantuk. Dia menguap beberapa kali dengan mata yang sudah ingin terpejam.
"Kamu ngantuk? Sini." Revan meraih pundak Airin lalu menyandarkan kepala Airin di bahunya.
Dada Airin kembali berdebar-debar tapi posisi itu terasa sangat nyaman. Dia pun akhirnya memejamkan matanya dan tertidur.
Revan tersenyum kecil menatap gadisnya yang kini tertidur di bahunya. Dia ingin selalu bersama Airin hingga nanti, jika memang Tuhan mengizinkannya, karena dia tahu perjalanannya masih panjang. Bisa saja semua terjadi di tengah hubungan mereka.
Baru beberapa menit Airin memejamkan matanya, dia sudah bermimpi ada sebuah bus yang berguncang hebat. Seluruh penumpang bus berteriak hiteris dan minta tolong saat bus itu jatuh ke dalam jurang.
Seketika Airin membuka matanya. Dia menegakkan dirinya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru bus.
"Ai, kenapa?" tanya Revan yang melihat wajah tegang Airin.
Airin menghela napas panjang saat melihat bus yang ditumpanginya berjalan dengan normal. "Aku mimpi buruk."
"Mimpi buruk?"
Airin menganggukkan kepalanya. "Semoga mimpi aku bukan pertanda buruk juga. Aku takut, Van. Tiba-tiba perasaanku gak enak."
"Jangan takut. Itu pasti hanya mimpi." Revan mengusap pelipis Airin yang berkeringat.
Airin menganggukkan kepalanya dan berusaha melupakan mimpi itu. Ya, mungkin saja itu memang hanya mimpi.
💕💕💕
.
Mana sih komennya. Ih..
Kapan ya karya author bisa di like sampai puluhan ribu dan komentar sampai ribuan. Berusaha membuat cerita yg berbeda tapi tetap flat. 😢
Sedangkan author sendiri gak terlalu bisa buat cerita rumah tangga, buat pun selalu gagal karena mikirnya masalah anu terus. ðŸ˜
ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ Maaf Author sedikit curhat lagi gabut.
.
__ADS_1