Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Sudah Membaik


__ADS_3

Azka tersenyum kecil membaca tulisan itu.


"Semangat ya. Kamu masih punya Ibu yang selalu menyayangi kamu, dan juga sahabat-sahabat kamu." Airin kembali duduk di samping brangkar Azka.


Azka menganggukkan kepalanya.


"Aku yakin kamu bisa sembuh. Masih ada banyak harapan. Meskipun impian kamu sekarang tidak bisa terwujud tapi aku yakin kamu bisa meraih impian kamu di kesempatan lain." kata Airin lagi. Dia berusaha memberi semangat pada Azka.


"Makasih ya."


"Aku yang harusnya makasih sama kamu. Aku gak tahu harus dengan cara apa aku membalas kebaikan kamu."


"Ayah kamu sudah membayar semua pengobatan aku. Itu sudah cukup."


Airin menggelengkan kepalanya. "Apa yang kamu lakukan sama aku itu gak cukup hanya dibalas dengan materi."


Kemudian Airin berdiri sambil tersenyum. Dia menaikkan brangkar Azka hingga Azka setengah duduk. "Gini aja, selama kamu belum bisa jalan, aku akan jadi suster kamu. Kamu mau apapun, aku akan penuhi."


Azka semakin tersenyum. "Kamu jadi suster? Yakin pasiennya makin sehat?"


"Ih, Azka. Kan suster-susteran, gak suster beneran." Airin kini mengambil makanan yang masih utuh di atas nakas. "Kamu belum makan sama sekali ya. Menghadapi kenyataan hidup juga butuh makanan. Nih, aku suapi. Kapan lagi aku suapi." Airin mulai menyuapi Azka.


"Aku gak nafsu makan."


"Azka, kamu harus makan." Airin terus mendekatkan sendok yang penuh makanan itu ke mulut Azka. Akhirnya Azka mau menerima suapan dari Airin.


"Tiap hari selama kamu dirawat, aku akan datang ke sini. Kira-kira berapa hari kamu dirawat?" tanya Airin sambil terus menyuapi Azka.


"Kayaknya hanya tiga hari. Aku mau cepat pulang dan sekolah."


"Oke, sudah ada kursi roda buat kamu pakai untuk sementara semasa penyembuhan."


Azka masih berat menerima kenyataan bahwa dia harus memakai kursi roda.


"Jangan sedih lagi. Nanti di sekolah biar aku yang dorong. Tiap hari juga akan dijemput sama Ayah. Kita berangkat bareng ke sekolah." Airin terus menyuapi Azka sampai makanannya habis.


"Aku jadi ngerepotin kamu kan."


"Nggak sama sekali." Airin meletakkan tempat makan yang telah kosong lalu mengambil air mineral untuk Azka. "Seandainya kamu gak nolongin aku waktu itu, entah jadi apa aku sekarang."


"Selagi aku bisa, aku pasti akan membantu kamu." Azka kini meletakkan botol minuman yang telah kosong di atas nakas.


"Tapi kamu tahu darimana kalau aku ada di klub itu?" tanya Airin.


"Aku diberi tahu Kak Fani. Untunglah, selalu ada jalan untuk membantu kamu."


"Iya, aku selalu saja dibawah pengaruh makhluk itu. Aku sebenarnya sudah sangat capek menghadapi mereka, belum lagi mereka selalu membahayakan orang yang dekat dengan aku."


"Kamu bilang aku gak boleh sedih, tapi kamu sendiri yang sedih." Azka mengusap pipi Airin dengan jemarinya. "Bukan hanya aku yang sayang sama kamu tapi juga semua orang yang dekat sama kamu. Mereka pasti akan membantu kamu."


Airin tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu ke sini sama Revan?"

__ADS_1


Airin menggelengkan kepalanya. "Revan sudah pulang, nanti aku dijemput sama Ayah."


"Suruh Melodi dan Siska masuk, Ibu juga. Kita makan buah sama-sama." suruh Azka. Wajah Azka kini sudah tidak semuram tadi.


Airin kini berdiri dan keluar dari ruangan Azka untuk memanggil Ibunya Azka, Melodi, dan Siska.


Bu Isti tersenyum melihat makanan Azka yang telah habis.


"Ibu, kupasin buah buat mereka sama kasih makanan dan minuman juga. Pasti mereka haus dan lapar." kata Azka.


"Iya, Azka. Kamu mau yang mana? Ibu kupasin sekalian."


Sedangkan Airin, Melodi, dan Siska kini duduk bersebelahan di sofa.


"Memang pawang Azka itu ya Airin. Ibunya padahal gak mempan bujuk Azka makan, eh, Airin yang bujuk mau makan," bisik Siska.


"Kamu gak tahu, Azka itu cinta mati sama Airin."


"Ssttt, jangan ngomongin cinta. Revan mau aku taruh mana."


Siska dan Melodi justru tertawa kecil. "Kalau bisa dapat dua kenapa harus satu."


"Gak boleh, dosa!"


Mereka menyudahi acara berbisiknya saat Bu Isti mendekat. "Makasih ya, sudah ke sini dan hibur Azka. Saya senang akhirnya Azka mau makan."


"Iya, sama-sama tante."


...***...


Dia mengambil ponselnya yang baru saja dibelikan Ayahnya. Untunglah nomor lamanya masih bisa diurus setelah ponselnya hancur di tempat parkir klub kemudian hilang entah kemana.


Dia menghubungi nomor Revan. Beberapa saat kemudian Revan mengangkat panggilannya dan mengalihkan ke panggilan video.


"Akhirnya kamu telepon juga." Terlihat Revan tersenyum sambil merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Iya, baru dibeliin Ayah hp. Untung aja nomor lama aku masih bisa diurus."


"Tapi hp kamu yang lama gak ada data-data penting kan?"


"Gak ada sih. Cuma foto-foto aja dan sudah masuk google semua."


Mereka kini saling bertatapan lewat layar ponsel sambil tersenyum.


"Aku besok sore berangkat ke Jakarta."


"Iya, hati-hati ya. Semoga menang."


"Aku pasti merindukanmu."


"Cuma tiga hari. Masih bisa video call."


"Tiga hari itu lama."

__ADS_1


Airin hanya tersenyum menatap layar ponselnya.


"Gimana Azka? Sudah baikan?"


"Iya, emosinya sudah mulai stabil. Besok dia juga sudah boleh pulang."


"Aku tahu yang dia butuhkan kamu. Kamu rawat dia, selama dia dalam masa penyembuhan."


"Iya, pasti."


"Tapi tetap jaga hati kamu, karena Airin hanya milik Revan."


Seketika Airin tertawa. "Ih, lebay banget."


"Iya, tunggu aku ya. Aku masih mau kuliah di luar negeri. Setelah lulus, aku akan melamar kamu."


Seketika pipi Airin bersemu merah. Melamar? Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya kelak bersama Revan. Ya, semoga saja Revan memang jodoh Airin.


"Aku ingin mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku lakukan sama kamu dan aku juga ingin melanjutkan adegan yang masih bersambung bersama kamu."


"Adegan apa?"


Revan hanya tersenyum.


"Ih, seorang Revan bisa piktor juga ternyata."


"Cowok normal."


"Tapi aku gak ingat apa yang sudah aku lakukan."


"Untungnya kamu gak ingat. Nanti kamu malu."


"Ih, curang." Tiba-tiba Airin melebarkan matanya. "Tunggu dulu jadi kamu udah lihat semuanya?"


"Dikit tapi maaf banget udah aku sentuh semua."


"Revan! Malu ih. Bisa-bisanya aku jadi wanita penggoda."


Revan semakin tertawa. "Kamu memang benar-benar menggoda, sampai aku gak tahan."


"Udah, udah, jangan dibayangin lagi"


"Maaf, tapi aku gak bisa lupain gitu aja. Sekarang aja rasanya aku pengen bayangin kamu lagi. Tuh kan, otak aku kacau lagi." Revan mengusap wajahnya menghilangkan pikiran kotornya.


"Ih, dasar."


"Ai, jangan dimatiin ya sampai kita tidur bareng. Malam ini aja."


"Iya."


Mereka berdua mengobrol sampai larut malam. Sampai tertidur dengan ponsel yang masih terhubung.


💕💕💕

__ADS_1


.


Duh, dasar anak muda..


__ADS_2