Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Lepaskan!


__ADS_3

Airin kini melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. Dia duduk di bangkunya dan bersiap menerima pelajaran hari itu.


Airin mengambil bukunya yang berada di dalam tas, tapi dia sangat terkejut saat melihat tangan kecil yang tak sengaja dia sentuh. Seketika dia menjatuhkan tasnya.


"Kenapa?" tanya Revan. Dia berjongkok untuk mengambil tas Airin.


"Kamu lihat ada apa di dalam." Airin menatap tasnya takut.


Revan melihat isi tas Airin, di dalam hanya ada beberapa buku saja dan botol air minum. "Gak ada apa-apa."


"Tadi aku kayak nyentuh tangan binatang. Tangannya kecil warna merah." Airin mengambil tasnya dan mengeceknya lagi. "Iya, gak ada apa-apa."


"Ai," Beberapa saat kemudian ada Azka yang baru datang lalu duduk di tempatnya yang berada di dekat Airin.


"Kenapa, Ka?" tanya Airin.


"Aku gak nyangka, anak buah Ayah kamu semuanya baik. Mereka bukan cuma mengajarkan aku pekerjaan tapi juga memberiku motivasi," cerita Azka dengan antusias. Sangat terlihat di bola matanya jika dia sedang bahagia dan mempunyai harapan baru.


"Iya, syukurlah. Aku ikut senang. Semoga keinginan kamu cepat tercapai ya."


"Iya, amin." Azka kini meluruskan badannya lalu mengambil buku di dalam tasnya.


Revan kembali duduk di tempatnya. Dia juga ikut senang mendengar cerita Azka. Setelah apa yang dilakukan Azka padanya waktu di hutan, sebenarnya dia ingin sekali membantu Azka, tapi Azka menolak jika dibantu secara materi. Mungkin saja suatu saat nanti, dia bisa membalas kebaikan Azka dengan cara lain.


Beberapa saat kemudian bel masuk pun berbunyi. Seluruh murid sudah duduk dengan rapi saat Pak Diki masuk ke dalam kelas. Dia mengucap salam dengan ramah dan memberikan senyuman termanisnya.


Airin dan Revan hanya menatapnya datar, mereka berdua sudah tahu kebusukan guru yang sekarang berdiri di depan kelas itu.


Pak Diki kini memulai pelajaran Biologinya. Dia menerangkan sambil menulis di papan tulis tentang perkembangan dan pertumbuhan pada tumbuhan.


Tiba-tiba Airin melebarkan matanya saat melihat sesuatu di punggung Pak Diki. Airin terus mengamatinya. Warna kulitnya merah dan banyak darah. Tangannya berpegangan di bahu Pak Diki.


Itu apa?


Airin tersadar, bahwa yang dilihatnya itu adalah janin yang berusia sekitar lima bulan. Seketika perut Airin terasa mual. Dia berdiri dan meminta izin ke toilet.


Airin berlari sambil menutup bibirnya. Sepertinya yang dilihatnya itu hanyalah ilusi. Janin itu tidak nyata.


Airin kini berkumur di washtafel agar rasa mualnya mereda. "Itu apa lagi sih! Jijik banget."


Airin mulai menerka keadaan. "Kemarin Nita menangis setelah bertemu Pak Diki. Jangan-jangan..."


Airin menutup mulutnya, benarkah tebakannya itu? Kemudian dia segera keluar dari toilet. Sepertinya dia memang sial hari itu. Dia justru berpapasan dengan Pak Diki di koridor kelas.


"Kebetulan sekali kamu sudah keluar, ayo bantu Bapak ambil alat peraga di ruang Biologi."


Mampus!


Airin tidak bisa menolak, dengan terpaksa Airin mengikuti Pak Diki menuju lab biologi.

__ADS_1


Semoga aja gak terjadi apa-apa.


Pak Diki masuk ke dalam lab biologi dan mengambil beberapa alat peraga perkembangan tanaman. Sedangkan Airin hanya berdiri di ambang pintu.


"Kamu bawa ini."


Sial sekali, Pak Diki justru memanggil Airin agar masuk ke dalam lab.


Airin berjalan ragu masuk ke dalam ruangan itu. Dia kini mengambil alat peraga yang diletakkan di atas meja.


"Kamu pacarnya Revan?" tanya Pak Diki.


Airin hanya menganggukkan kepalanya.


"Hebat ya kamu bisa dapatkan Revan."


Airin tak menimpali perkataan Pak Diki, dia mengambil peralatan itu tapi Pak Diki justru semakin menghimpitnya dari belakang.


"Kamu sudah ngapain aja sama Revan?" tanya Pak Diki di dekat telinga Airin.


Airin melebarkan matanya, dia membalikkan badannya dan mendorong Pak Diki. Airin berancang akan pergi tapi langkahnya dihalangi.


"Gak usah takut, aku tahu anak pacaran zaman sekarang itu kayak gimana." Dia semakin mendekati Airin lalu me re mas pan tat Airin.


Plak!


Airin melihat pintu yang tiba-tiba menutup sendiri. Dia mulai merasa ketakutan.


"Sini aja, cuma lima menit. Kamu kemarin ngapain sama Revan?"


Airin hanya menggelengkan kepalanya. Apa Pak Diki tahu kalau dia dan Revan sudah mengintipnya?


"Apa kamu juga mau merasakan seperti yang dirasakan teman-teman kamu. Mereka semua ketagihan?"


Teman-teman? Itu berarti sudah banyak korban Pak Diki?


Pak Diki membungkam bibir Airin saat Airin akan berteriak.


Airin berusaha mendorong Pak Diki, tapi sangat berat. Tiba-tiba ada bayangan yang terasa nyata yang melintas di kepalanya.


"Pokoknya Pak Diki harus tanggung jawab!" teriak Nita pada Pak Diki.


"Aku kan sudah bilang, kamu gugurkan kandungan kamu sebelum makin besar."


"Aku gak mau, itu sama saja dengan membunuh! Anak ini sudah lima bulan, bahkan aku sudah bisa merasakan gerakannya."


"Sekarang kamu minum obat ini!"


"Gak mau!"

__ADS_1


"Cepat!" Pak Diki memaksa Nita untuk meminum sebuah obat.


Beberapa saat kemudian Nita meringis kesakitan sambil memegang perutnya. "Sakit!"


"Kamu tenang aja. Aku akan urus kamu di kos aku."


Airin melebarkan matanya, bahkan dia bisa melihat dimana Pak Diki mengubur janin yang tidak bersalah itu.


"Lepaskan!" Airin semakin ketakutan, sedangkan tangan nakal Pak Diki semakin ingin menyentuh Airin.


Airin mengambil alat peraga yang ada di dekatnya dan dengan keras memukul kepala Pak Diki hingga membuat cekalan tangannya terlepas.


Airin segera berlari keluar dari ruangan itu. Di koridor kelas dia berpapasan dengan Revan.


"Ai, kamu lama sekali." Revan memegang bahu Airin yang bergetar.


Napas Airin tidak beraturan, bahkan dia merasa sulit bersuara.


"Ai, kamu kenapa?" tanya Revan.


"Itu..." Airin menunjuk ke belakang, ada Pak Diki yang baru keluar dari lab.


"Apa yang sudah dia lakukan?"


Airin masih saja mengatur napasnya tanpa menjawab Revan.


Revan mengepalkan tangannya. Pasti sudah terjadi sesuatu pada Airin. Dia berjalan mendekati Pak Diki. Dia tidak peduli dengan status Pak Diki di sekolah sebagai guru. Siapa yang mengganggu Airin, akan berhadapan dengannya.


"Ada apa, Van?" tanya Pak Diki, seolah tidak terjadi apa-apa.


Revan langsung menyergap krah Pak Diki dan membawanya masuk ke dalam lab. Dia pukul pipi Pak Dika dengan keras. "Apa yang sudah Bapak lakukan pada Airin?"


"Berani sekali kamu sama guru."


"Aku berani karena Bapak tidak pantas menjadi seorang guru." Revan kembali melayangkan pukulan di perut Pak Diki.


Pak Diki mendorong Revan hingga sergapannya terlepas.


"Kamu jangan ikut campur urusan aku!" Pak Diki kini berganti menyergap Revan dan bersiap memukulnya.


"Berhenti!"


💕💕💕


.


Like dan komen ya..


.

__ADS_1


__ADS_2