Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Penasaran


__ADS_3

Azka membereskan bola basket yang berada di ruang latihan. Dia melihat Siska yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Pak Satya. Azka merasa penasaran. Kemudian dia mengikutinya dan berdiri di dekat pintu.


Siska kini duduk di depan Pak Satya.


"Ada apa?" tanya Pak Satya sambil menatap Siska.


Siska tersenyum manis sambil menatap Pak Satya. "Aku kangen sama kamu."


Pak Satya hanya terpaku menatap Siska. Kemudian Siska berdiri dan duduk di samping Pak Satya. "Masih ingat dengan kalung ini?" Siska melepas kalungnya dan menunjukkan kalung itu pada Pak Satya.


Seketika Pak Satya menatap Siska lalu mengambil kalung itu. "Kalung ini?" Dia amati kalung itu dengan saksama.


Kemudian Siska mengusap pipi Pak Satya dengan lembut. "Kamu gak lupa kan dengan kalung ini?"


Pak Satya kini menatap Siska. Dia tersenyum saat melihat wajah Siska berubah menjadi seseorang yang pernah dia kenal di masa lalu. "Aku sangat merindukan kamu."


"Aku juga sangat merindukan kamu. Bertahun-tahun aku menunggu kamu di sini." Siska semakin mendekatkan dirinya dan bergelayut manja di lengan Pak Satya.


Merasa ada yang tidak beres Azka masuk ke dalam ruangan itu. "Pak Satya dan Siska ngapain di sini?"


"Pak Satya ngapain pegang-pegang saya." Seketika Siska memutar balik fakta, lalu dia berdiri dan keluar dari ruangan itu.


Pak Satya mengerjapkan matanya seolah dia baru tersadar. Dia hanya menatap bingung Azka.


"Pak, sudah selesai, saya mau pulang dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Pak Satya, Azka keluar dari ruang latihan itu.


Pak Satya kini menatap kalung yang ada di genggamannya. "Ini kan kalung Lisna. Mengapa bisa ada di sini? Bagaimana kabar Lisna sekarang?"

__ADS_1


Azka sangat penasaran dengan Siska. Dia memutuskan untuk mengikutinya. "Aku harus fokus agar aku tidak terperdaya olehnya. Aku harus mencari tahu tentang Siska."


Saat berada di ujung koridor, terlihat Siska tiba-tiba melemas dan jatuh terduduk.


"Kamu kenapa?" tanya Azka sambil membantunya berdiri.


Siska menatap bingung Azka. Lalu dia menundukkan pandangannya. "Aku gak papa." Dia berjalan pelan menuju gerbang sekolah. Kebetulan sekali hujan juga sudah mulai reda.


"Rumah kamu dimana? Ayo, aku antar," kata Azka sambil mempercepat langkah kakinya untuk mengambil motornya.


Azka merasa aneh. Sepertinya, ini Siska yang asli. Dia lebih pemalu dan pendiam. Satu hal lagi, Azka masih bisa menguasai dirinya sendiri tidak terpengaruh tipu daya Siska seperti sebelumnya.


Setelah mengambil motornya, Azka menghentikan motornya di dekat Siska. "Ayo, daripada nanti hujan lagi."


Siska menganggukkan kepalanya lalu naik ke atas motor Azka.


Siska menunjukkan jalan menuju rumahnya. Beberapa saat kemudian, Azka membelokkan motornya menuju gang rumah Siska.


"Hmm, Azka sampai sini saja ya." kata Siska sambil turun dari motor Azka. Dia kelihatan takut.


"Aduh, Siska. Aku numpang ke kamar mandi sebentar saja. Boleh ya?" kata Azka membuat alasan agar dia bisa masuk ke dalam rumah Siska.


"Hmm, ya udah. Gak papa." Terlihat wajah Siska sangat terpaksa memperbolehkan Azka mampir ke rumahnya.


Mereka kini berjalan masuk ke dalam teras kecil rumah Siska. Belum juga Siska mengetuk pintu, neneknya sudah membuka pintu itu.


"Siska, kamu pulang sama siapa?" tanya Nenek Titik, sangat terlihat gurat marah di wajahnya.

__ADS_1


Azka bersalaman dan mencium punggung tangan Nenek Titik. "Saya teman sekelas Siska. Kebetulan saya searah jadi saya sekalian mengantar Siska pulang. Maaf, saya boleh menumpang ke kamar mandi?" Ucapan Azka begitu sopan.


Nenek Titik hanya menganggukkan kepalanya. "Kamu masuk saja, lurus ke belakang. Kamar mandi ada di dekat dapur."


Azka menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam rumah yang sederhana itu. Ada sebuah foto yang menarik perhatiannya saat dia masuk ke dalam rumah itu. Ada sebuah foto Nenek Titik dan seoarang gadis yang mirip sekali dengan Siska.


Apa itu ibunya Siska?


Azka hanya menolehnya dan berlalu ke kamar mandi.


"Siska, berapa kali nenek bilang, jangan dekat dengan laki-laki!" Nenek Titik menarik lengan Siska dan memarahinya.


"Iya Nek, tadi hujan jadi Siska bareng sama Azka. Dia cowok baik-baik."


"Siska, tidak semua laki-laki yang kamu anggap baik itu benar-benar baik. Bisa saja dia hanya pura-pura baik! Dia hanya berniat untuk merusak kamu saja! Mulai besok kamu jangan dandan seperti ini lagi!"


Suara Nenek Titik terdengar hingga dapur. Azka dengan sengaja menguping pembicaraan mereka.


Tiba-tiba saja rambut Siska seolah tertiup angin. Seketika tatapan mata Siska berubah.


"Ibu tenang saja, kejadian 18 tahun yang lalu tidak akan terulang pada Siska."


Nenek Titik membulatkan matanya mendengar kalimat itu. "Lisna!"


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya..


__ADS_2