
Beberapa saat kemudian, Revan mengangkat panggilan Airin. "Ada apa, Ai?" tanya Revan dengan suara beratnya karena mengantuk.
"Van, aku takut."
"Takut apa?"
"Ada kakak kamu."
"Hem?" Revan mengalihkan panggilan Airin menjadi panggilan video. "Kakak?"
"Iya, Kak Rania." Airin membuka selimut yang menutupi wajahnya. Dia kini menatap muka bantal Revan karena saat itu masih pukul 03.00.
"Kak Rania? Kemarin kamu lihat Kak Rania di dalam kamarnya?"
Airin menggelengkan kepalanya. "Jadi kemarin itu aku gak sengaja jatuhin kotak musik Kak Rania. Saat aku pegang kotak musik itu, aku dapat bayangan saat Kak Rania sedang menari lalu dia pingsan. Apa Kak Rania memang suka menari?" tanya Airin memastikan.
"Iya, Kak Rania sangat suka menari. Dulu cita-citanya ingin menjadi seorang dancer."
"Barusan aku mimpi dan kayak nyata banget. Kak Rania mau pinjam raga aku untuk mengikuti kompetisi dan menunjukkan pada kedua orang tua kamu."
"Jangan. Sudah cukup kamu terpengaruh dengan makhluk-makhluk itu."
"Tapi Van, itu kakak kamu. Agar kakak kamu tenang di sana aku harus menyelesaikan urusannya di dunia ini."
"Ai, tapi memang kamu gak papa."
Airin menggelengkan kepalanya. "Kali ini tidak menyangkut para pembunuh pasti tidak berbahaya. Nanti kamu bantu aku cari info kompetisi menari itu ya. Sepertinya selain ada lomba seni suara juga ada lomba seni tari di sekolah."
Revan justru tertawa. "Memang kamu bisa menari? Bukannya kamu paling gak suka sama kesenian."
"Revan ih, kan bukan aku yang menari."
"Iya, iya bercanda. Makasih ya."
"Buat?"
"Semuanya, kamu sudah menemukan nenek buyut aku dan sekarang kamu mau mewujudkan keinginan Kak Rania."
__ADS_1
Airin tersenyum. "Iya, sama-sama."
"Aku gak mau kehilangan kamu, Ai."
Airin hanya tersenyum lalu mengambil guling dan memeluknya.
"Ai, mau tidur lagi?" tanya Revan.
Airin menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu mau tidur gak papa."
"Nggak. Aku mau temani kamu."
Akhirnya mereka lanjut mengobrol sampai matahari hampir terbit,
...***...
Hari itu diadakan do'a bersama di sekolah Airin yang dihadiri juga oleh keluarga besar Revan. Pihak sekolah menyambut hangat kehadiran mereka. Baru kali ini Airin tahu jika ternyata Papa Revan adalah donatur tetap di sekolah itu. Pantas saja Revan dengan mudah bisa meminta beasiswa untuk Azka. Setelah do'a bersama selesai, semua murid kembali melanjutkan pelajaran hari itu.
"Ai, aku mau latihan paduan suara dulu, lombanya semakin dekat," kata Melodi saat jam istirahat waktu itu.
Azka menggelengkan kepalanya. "Aku sudah dibuatkan bekal sama Ibu."
"Ya udah, aku temani makan ya." Airin mengambil bekalnya lalu menggeser tempat duduknya di dekat meja Azka.
"Gak sama Revan?" tanya Azka.
Airin menggelengkan kepalanya. "Dia lagi urus sesuatu." Memang sedari tadi Revan terlihat sibuk, entah apa yang dia sibukkan. Airin kini menatap Azka yang terlihat murung dan tidak bersemangat makan. "Kenapa?"
"Gak papa, cuma bosan aja. Baru juga dua minggu gak bisa jalan tapi rasanya kayak udah bertahun-tahun."
"Sabar ya Azka. Maafin aku, ini semua gara-gara aku." Rasa bersalah itu kembali muncul. Dia tahu, masa penyembuhan Azka tidak sebentar, masih harus memakan waktu berbulan-bulan lagi.
"Ai, aku hanya manusia biasa yang pasti suka mengeluh. Tapi aku gak pernah nyalahin kamu."
"Iya aku tahu, tapi tetap saja ini semua salah aku." Kemudian tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Mereka sama-sama menghabiskan makanan mereka secara perlahan.
Beberapa saat kemudian Revan masuk ke dalam kelas dan duduk di dekat Airin. "Ai, aku barusan tanya sama Bu Sari katanya ada satu peserta yang mengundurkan diri dari kompetisi seni tari. Jadi kamu bisa ikut."
__ADS_1
Airin hanya tersenyum kaku. Bagaimana kalau setelah dia ikut kakaknya Revan justru tidak muncul. Dia sama sekali tidak bisa menari.
"Emang kamu bisa menari Ai?" tanya Azka karena dia tahu persis Airin sama sekali tidak bisa menari.
"Sekarang sudah bisa, Ka. Nanti kamu lihat ya," kata Airin lalu dia mengajak Revan duduk di belakang untuk berbicara berdua.
"Kenapa?" tanya Revan.
"Van, tapi sampai sekarang aku gak lihat kakak kamu lagi. Jangan-jangan semalam memang hanya mimpi. Bagaimana kalau aku beneran gak bisa menari?"
Revan terdiam sejenak dan berpikir. "Oiya, kata kamu kemarin kamu bisa melihat bayangan masa lalu Kak Rania dari kotak musik. Mungkin saja lewat kotak musik itu, jiwa Kak Rania bisa terhubung."
"Iya kamu benar. Besok kamu bawa kotak musik itu ya lalu aku akan coba ikut latihan."
"Oke. Semangat ya, semoga kamu menang."
Airin semakin tertawa. "Ih, bukan aku yang menang. Aku mana bisa."
Mendengar suara tawa mereka berdua, membuat Azka menoleh Revan dan Airin. Yeah, i'm fine. Asal aku bisa melihat kamu bahagia.
Airin kini melihat tatapan Azka, seketika dia menghentikan tawanya. "Van, aku kasihan sama Azka," kata Airin setelah Azka kembali meluruskan pandangannya. "Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak sedih lagi."
"Astaga, aku lupa." Revan mendekatkan dirinya buntuk membisikkan sesuatu pada Airin. "Aku sudah belikan alat bantu crutches. Nanti sepulang sekolah kamu bawa Azka ke tempat latihan basket ya. Siapa tahu, dia bisa sedikit terhibur."
Airin menatap bangga pada Revan karena dia adalah seorang pria yang sangat pengertian. "Makasih ya."
Revan hanya menganggukkan kepalanya sambil mengusap puncak kepala Airin sesaat.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
.
Hari raya agak slow up ya..
__ADS_1