
Setelah sampai di rumah, Revan langsung masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjangnya. Dia mengacak rambutnya sesat dan menyesali apa yang sudah dia lakukan pada Airin.
Beberapa saat kemudian, panggilan dari Airin masuk ke whatsapp nya. Revan menatap layar ponselnya sesaat lalu mengangkat panggilan dari Airin.
"Hallo Ai, aku minta maaf. Aku sudah berani menyentuh kamu." Revan kini menatap tangannya yang sudah berani menyentuh dada dan titik sensitif Airin. Bahkan dia sudah punya niat untuk memasuki Airin.
"Van, aku benar-benar gak sadar apa yang sudah aku lakukan. Aku gak tahu kamu udah lakuin apa aja."
Revan hanya terdiam. Dia memang merasa janggal saat Airin dengan beraninya menggodanya.
"Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan sama aku? Kamu gak lakuin yang diluar batas kan?"
Revan menghela napas panjang. "Maafin aku Ai, aku sudah hampir melakukannya. Aku memang salah. Benar apa kata Ayah kamu, lebih baik kita menjaga jarak. Aku takut, gak bisa tahan diri aku saat dekat dengan kamu."
"Van, jujur sama aku. Apa yang sebenarnya terjadi? Karena kamu gak mungkin berani ngelakuin itu. Apa aku yang memulainya? Aku yang memancing kamu."
Lagi-lagi Revan tak menjawabnya.
"Kalau iya, bilang sama aku."
"Iya, kamu tiba-tiba pakai dress itu dan..." Revan menghentikan perkataannya lagi. "Pokoknya ini salah aku. Aku yang tergoda. Aku yang gak bisa tahan diri."
"Berhenti nyalahin diri kamu sendiri. Kamu sampai ditampar Ayah, padahal aku yang salah."
"Gak papa. Perbuatanku memang salah. Sudah ya. Apapun perkataan orang tua kamu, kamu turuti. Kalau memang orang tua kamu ingin kita putus, kita..."
"Nggak!" Airin memotong kalimat Revan. "Aku gak mau putus sama kamu."
Revan tak bisa berkata apa-apa lagi. Sebenarnya dia juga tidak mau putus dengan Airin.
"Setelah apa yang kamu lakuin sama aku, terus kamu mau mutusin aku?"
"Aku hanya takut suatu saat nanti aku melakukan lebih dari itu. Aku bisa merusak masa depan kamu."
"Ya udahlah, terserah kamu." Airin mematikan panggilannya.
"Ai..." Revan melihat ponselnya. Airin sudah memutuskan panggilannya. Dia pukul ranjangnya dengan keras karena merasa kesal dengan dirinya sendiri.
...***...
Airin melempar ponselnya di ranjang lalu dia menutup wajahnya dengan bantal. "Aku gak mau putus. Kenapa ada aja masalah dalam hidup aku dan semuanya diluar nalar gini. Aku udah capek."
Beberapa saat kemudian Ayla masuk ke dalam kamar Airin tanpa permisi. "Airin!" Dia menarik bantal yang menutupi wajah Airin. "Kenapa nangis?"
__ADS_1
Airin mengusap air matanya asal. "Nggak, ih, siapa yang nangis."
"Jangan bohong deh."
Airin akhirnya duduk dan memeluk bantalnya.
"Emang kamu beneran mau buat proyek di kamar ini sama Revan?" tanya Ayla yang mendengar cerita dari bundanya.
"Buat proyek?"
"Ih, proyek pembuatan anak."
"Gak tahu, Kak. Aku gak sadar."
"Idih, pasti keenakan sampai gak sadar."
"Kakak, aku gak lakuin apa-apa. Aku juga gak tahu kenapa kita berdua sampai hampir kebablasan."
"Makanya hati-hati kalau berduaan. Terpengaruh bisikan setan kan jadinya. Jadi dimarahi Ayah kan."
"Ih."
Ayla beralih ke meja rias Airin. "Ini cermin yang aku cari. Cermin ini kenapa bisa ada di kamu?"
"Cermin ini dikasih teman aku. Antik ya. Kayak cermin zaman kerajaan dulu." Kemudian Ayla berkaca di cermin itu.
Airin kini baru ingat, sebelum dia lupa semuanya dia bercermin di cermin itu.
Tapi Kak Ayla biasa saja waktu bercermin. Gak ada perubahan apa-apa.
"Ya udah, aku mau mandi dulu. Oiya, kamu disuruh makan sama Bunda." Ayla keluar dari kamar Airin sambil masih bercermin. Kemudian dia letakkan cermin itu di atas meja riasnya lalu Ayla masuk ke dalam kamar mandi. Tiba-tiba saja cermin itu menghilang lagi.
...***...
Keesokan harinya, seperti biasa Airin diantar oleh Ayahnya. Dia masih saja menekuk wajahnya karena sejak semalam Revan sama sekali tidak menghubunginya.
"Ai, ingat pesan Ayah. Jaga jarak dengan Revan." kata Alvin sambil menghentikan mobilnya di depan sekolah Airin.
"Iya, Ayah."
"Nanti sepulang sekolah Ayah jemput."
"Iya." Airin mencium punggung tangan Ayahnya lalu keluar dari mobil. Dia berjalan di koridor kelas dan berpapasan dengan Revan.
__ADS_1
Revan hanya diam saja akhirnya Airin mendahului langkahnya.
"Ai," barulah Revan menahan langkah Airin. Dia menggandeng tangan Airin lalu menuntunnya menuju taman.
Mereka kini duduk di kursi taman. Kebetulan hari masih pagi, setidaknya masih ada waktu 20 menit sebelum bel masuk berbunyi.
"Ai, maaf soal kemarin," kata Revan memulai pembicaraan.
"Iya, aku juga gak tahu apa yang udah aku lakukan. Lupakan saja."
"Kamu memang berbeda kemarin. Kamu sangat agresif, sampai aku gak bisa tahan diri. Iman aku memang lemah. Benar apa kata Ayah kamu, lebih baik kita memang jaga jarak." kata Revan.
"Aku gak mau, Van."
Kemudian mereka sama-sama terdiam. Sebenarnya Revan juga tidak ingin menjauhi Airin.
"Iya, aku ngerti. Aku juga sebenarnya gak mau menjauhi kamu. Tapi, perkataan Ayah kamu kemarin memang benar. Aku bisa merusak masa depan kamu. Aku menyesal dengan apa yang aku lakukan kemarin, gimana kalau seandainya Ayah kamu gak datang, pasti aku sudah melakukan itu sama kamu."
"Tapi kemarin benar-benar diluar kesadaran aku. Aku gak tahu apa yang kamu lakuin. Udahlah, lupakan soal kemarin. Anggap aja gak pernah terjadi apa-apa."
Kemudian Revan memegang kedua bahu Airin dan menatapnya. "Tapi aku gak bisa, Ai. Kamu tahu apa yang udah aku lakuin sama kamu. Aku udah cium kamu sampai bibir kamu bengkak. Aku sudah sentuh tubuh kamu, dari atas sampai bawah. Bahkan aku sudah bersiap untuk melakukan ke adegan inti selanjutnya. Kamu rela aku melakukan itu?"
Airin hanya menatap nanar Revan.
"Jangan berpikir aku akan meninggalkanmu setelah apa yang aku lakukan sama kamu. Aku pasti akan bertanggung jawab. Tapi gak sekarang. Suatu saat nanti ketika kita sudah sukses, kita akan bersama."
"Jadi maksud kamu sekarang kita putus?"
"Bukan putus."
"Lalu?"
Revan tak menjawabnya lagi.
"Masalah kayak gini harusnya gak usah kamu buat rumit. Kamu bilang aku yang dirugikan tapi kamu sendiri yang menjauh. Kamu harusnya bantu aku, kenapa bisa aku diluar kesadaran seperti itu. Apa masalahnya? Apa kamu gak berpikir, bagaimana kalau tiba-tiba aku diluar kesadaran dan bukan sama kamu. Justru itu yang aku takutkan." Air mata yang sedari tadi terbendung akhirnya lolos juga. Airin kini berdiri dan meninggalkan Revan.
"Ai..."
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1