
Revan masuk ke dalam toilet dan membasuh wajahnya agar dia tidak terpengaruh dengan Siska. Karena dia juga bisa merasakan energi negatif yang terus mempengaruhinya. Setelah dia keluar dari toilet, dia melihat Airin yang tersenyum ke arahnya lalu mendekatinya.
"Airin."
"Ikut aku..." Airin menggenggam tangan Revan dan mengajaknya ke suatu tempat.
Tanpa ada penolakan, Revan mengikuti Airin berjalan. Dia seolah pasrah dengan tarikan tangan Airin.
...***...
"Siska, kamu kenapa?" tanya Melodi saat melihat Siska yang tiba-tiba melemas.
Seketika Siska kembali ke tempat duduknya. Dia hanya menundukkan kepalanya sambil melihat bukunya.
Airin terus mengamati Siska. Dia tidak merasakan energi negatif yang ada di diri Siska.
Dia Siska yang asli.
Sampai bel masuk berbunyi, Revan belum juga kembali. Airin mulai tidak tenang. Sampai pelajaran dimulai pun, Revan tak juga datang. Tidak biasanya Revan bolos saat jam pelajaran. Apa dia ada tugas lain? Tapi jika ada tugas lain biasanya dia izin dulu. Lalu Revan sebenarnya kemana?
Airin akhirnya berdiri dan meminta izin ke toilet. Dia harus mencari Revan, pasti ada sesuatu yang terjadi pada Revan.
Dia kini berhenti di depan toilet pria. Airin ragu untuk masuk dan memastikan keberadaan Revan. Dia hanya berdiri di dekat pintu, untunglah ada siswa dari kelas lain yang baru saja keluar dari toilet.
"Di dalam ada Revan?" tanya Airin.
"Kak Revan ketos? Gak ada."
"Ya udah. Makasih." Airin kembali mencari Revan menuju ruang OSIS dengan berjalan memutar agar tidak melewati ruang guru. Tapi di dalan ruang OSIS juga tidak ada. Dia ke taman samping, tapi dia juga tidak menemukan Revan.
__ADS_1
"Revan kemana ya? Perasaanku tiba-tiba gak enak gini." Tanpa sengaja dia melihat ke atap gedung. Dia membulatkan matanya saat melihat Revan duduk di atas tembok pembatas.
"Revan!" Airin segera berlari menuju tangga yang berada di samping lalu menaikinya dan sampai di atap gedung sekolah.
Setelah sampai di atap gedung, dia membungkukkan badannya dan mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Dia kini melihat Revan yang sedang mengobrol dengan seseorang. Bukan seseorang melainkan sesosok yang sangat mirip dengannya.
"Revan!" Airin berjalan mendekat dan menatap tajam sosok yang sangat mirip dengannya. "Mau kamu apa! Aku gak pernah mengusik kamu! Kamu pergi! Jangan ganggu Revan!"
"Airin?" Revan menatap bingung Airin dan sosok yang menyerupai Airin.
"Van, ayo kita kembali ke kelas," ajak Airin.
"Jangan mau! Sama aku saja, kan aku sudah membalas cinta kamu."
"Van?" Airin menatap Revan yang nampak kebingungan. Dia juga tidak menyangka, mengapa hantu ini bisa merasuki Siska lalu menyamar menjadi dirinya juga.
Sosok yang menyerupainya itu kini menggandeng tangan Revan. "Ayo kita pergi dari sini."
"Revan!" Airin berusaha menarik Revan, tapi sosok itu justru mendorong Airin hingga membuat dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh melewati pagar pembatas yang hanya 30 cm itu. Untunglah dia berhasil meraih besi besar hingga tubuhnya masih bergelantung dan hanya bertahan dengan kedua tangannya.
"Revan, tolong aku!" teriak Airin. Tangannya sudah terasa sangat sakit. Apakah ini akhir dari semuanya?
"Airin!" Revan akhirnya tersadar dan menahan kedua tangan Airin. Dia tarik Airin dengan sekuat tenaganya sampai tubuh Airin berhasil terangkat ke atas dan mereka sama-sama terjatuh.
Mereka saling bertatapan lekat saat tubuh Airin ada di atas tubuh Revan.
Sosok yang menyerupai Airin itu tersenyum miring lalu menghilang.
Dada mereka sama-sama berdebar, untuk sesaat waktu seolah berhenti berputar. Ya, bisakah momen ini mereka lalui lebih lama lagi?
__ADS_1
Airin duduk di samping Revan sambil menarik roknya yang sempat tersingkap. "Hmm, makasih." Kemudian Airin berdiri dan akan melangkahkan kakinya pergi tapi Revan menarik tangannya hingga dia kembali terduduk.
"Kamu Airin yang asli kan? Bukan hanya ilusi?"
Airin hanya mengangguk kaku.
Beberapa saat kemudian Revan melepaskan tangannya lalu dia berdiri. "Iya, tentu saja kamu yang asli. Karena Airin yang membalas perasaanku itu hanyalah ilusi." Revan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Airin.
"Ilusi?" Airin membalikkan badannya dan menghapus air matanya yang gagal dia tahan. Tapi semakin dia menghapusnya air mata itu seolah tidak bisa berhenti mengalir bahkan dia semakin menangis terisak.
"Airin, jangan menangis."
Punggung Airin terasa hangat, sepasang tangan juga melingkar di perutnya. Meskipun tidak terlalu erat tapi pelukan itu terasa sangat hangat.
"Do you know what i feel?"
Revan menganggukkan kepalanya. "Iya, aku tahu. Gak mudah bagi kamu untuk berkata jujur, karena kamu masih memikirkan Della dan juga Azka." Revan melepas pelukannya lalu berdiri di samping Airin. "Jangan diamkan aku seperti kemarin, aku gak bisa."
Airin menganggukkan kepalanya. "Kamu juga, jangan bersikap dingin seperti tadi."
"Iya." Kemudian mereka terdiam beberapa saat.
"Hmm, apa status kita bisa berubah menjadi pacar?" Meskipun pertanyaan Revan terkesan kaku tapi hal itu sudah mampu membuat Airin gerogi. Dadanya semakin berdebar tak karuan.
"Hm, aku..."
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen dong..