Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Tak Bisa Menemanimu


__ADS_3

Seketika dada Airin terasa sesak, dia seperti kehabisan oksigen. Bukannya menjawab, dia justru merasakan tangan Revan yang ada di tangannya lalu meninggalkan tangannya agar tetap menempel di perut Revan.


"Ai, Papa aku kemarin udah memproses kasus ini ke kantor polisi. Ternyata benar, Aditya itu seorang pengacara yang terbunuh. Keluarga Aditya juga sudah dalam perjalanan ke rumah sakit." terang Revan.


Airin meloading beberapa saat lalu dia mendekatkan dirinya agar Revan bisa mendengar suaranya. "Sorry, semalam aku ketiduran. Kalau begitu kita tinggal kasih cincin Aditya saja ke Irene. Aditya pesan sama aku, kalau memang Fajar dan Irene bertunangan tanpa ada paksaan, kita tidak perlu membatalkannya."


"Iya, kalau itu terserah mereka. Yang terpenting, pelaku pembunuhan itu harus segera dihukum."


"Iya."


Kemudian mereka sama-sama terdiam. Tangan kiri Airin masih saja memegang perut Revan. Dilepas atau semakin dieratkan saja? Jika perlu ditambah tangan kanannya saja sekalian agar pelukan itu sempurna.


Tapi hal itu belum saatnya. Mengingat status mereka yang hanya sebatas teman saja.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan rumah Irene, tepat saat pihak catering baru menurunkan makanan dan mengusung ke dalam rumah.


Airin dan Revan turun dari motor. Mereka melepas jaketnya agar outfit mereka sama dengan waitress lainnya dan tak lupa juga memakai masker. Kemudian mereka ikut bergabung dengan waitress lainnya.


Beberapa saat kemudian tamu undangan sudah mulai datang, Airin berpura-pura memberi mereka minuman lalu dia menyelinap masuk ke dalam rumah dan menuju kamar Irene. Kebetulan sekali kedua orang tua Irene sedang menyambut tamu di depan.


Airin masuk ke dalam kamar itu. Dia melihat Irene yang sedang menangis di balkon kamarnya. "Kak Irene." Airin menutup pintu lalu menghampiri Irene.


"Kamu lagi?" Irene membalikkan badannya dan menatap Airin.


"Kak, jangan usir aku. Aku hanya ingin menyampaikan pesan Kak Aditya." Airin menahan tangan Irene yang akan mendorongnya. "Kak, Kak Aditya itu sangat mencintai Kak Irene. Malam itu dia memang akan melamar Kak Irene tapi kejadian nahas menimpa Kak Aditya."


"Maksud kamu?"


Airin mengambil cincin yang ada di kantongnya. "Ini cincin dari Kak Aditya yang seharusnya untuk Kak Irene waktu itu." Dia memberikan cincin itu pada Irene.


"Aditya dimana sekarang?"


"Kak Aditya..." Beberapa saat kemudian ada seseorang yang membuka pintu, Airin segera bersembunyi di balik tirai jendela.


"Irene, keluarga Fajar sudah datang, acara juga akan dimulai." Mamanya Irene menjemput Irene di kamar agar segera keluar.


"Ma, aku dan Fajar gak mau tunangan secara bisnis seperti ini. Aku masih mau menunggu Adit," kata Irene, karena perjodohan antara Fajar dan Irene memang berdasarkan sebuah bisnis. Pak Richard mengincar sebuah proyek besar milik perusahaan keluarga Fajar.


"Irene, Adit gak akan mungkin kembali!" Sahut Papa Irene yang baru masuk ke dalam kamar Irene.

__ADS_1


"Kenapa Papa yakin?"


"Sudah, kamu jangan mengharapkan lelaki seperti Aditya lagi. Dia itu hanya lelaki yang tidak berguna. Tidak punya apa-apa." Pak Richard menarik tangan putrinya agar keluar dari kamarnya.


Beberapa saat kemudian setelah semua aman, Airin keluar dari kamar dan menuruni anak tangga lalu kembali menuju tempat acara. Dia kini berdiri di samping Revan.


"Van, cincinnya udah aku kasih." Airin mendekatkan bibirnya di telinga Revan agar Revan bisa mendengar bisikannya. "Tapi aku belum bisa bilang kalau Aditya udah meninggal."


Revan kini berganti membisikkan sesuatu pada Airin. "Barusan Papa chat aku, polisi akan menuju ke sini sekarang." Belum selesai Revan membisikkan kalimatnya, tiba-tiba ada yang menyenggol punggungnya hingga membuat Revan mencium pipi Airin tanpa sangaja.


Airin segera memalingkan wajahnya. Pipinya terasa memanas dan bersemu merah. Dadanya kembali berdebar tak karuan.


"Eh, maaf."


Mereka sama-sama salah tingkah lalu saling menjauh. Airin berjalan mendekati Irene. Di dekatnya ada Aditya yang tiba-tiba muncul.


"Aku baru tahu kalau ternyata kasus yang sedang aku tangani adalah kasus Papanya Irene. Selama ini aku hanya menemui assistantnya saja. Terima kasih kamu dan pacar kamu menangani kasus ini dengan cepat dan baik."


Airin menganggukkan kepalanya pelan. Tunggu dulu, pacar? Sudahlah, biarkan hantu itu berkata apa.


"Papa, aku tetap gak mau tunangan!" kata Irene lagi. "Aku mau menunggu Adit."


Irene menghela napas panjang. Dia menatap cincin yang sedari tadi dia genggam lalu memakainya. "Dit, apa kamu memang telah pergi meninggalkanku?" Irene menundukkan pandangannya dan terus menatap cincin itu.


Sedetik kemudian, Irene meluruskan pandangannya. Di tengah keramaian itu dan ketika host mulai membuka acara, dia melihat Aditya berdiri di antara mereka semua.


"Adit!!" Seketika Irene berlari dan menghampirinya. "Adit, kamu kemana? Aku nungguin kamu. Jelaskan sama aku, semua foto itu palsu kan?"


Semua mata kini tertuju pada Irene. Mereka jelas tidak melihat apa yang Irene lihat.


"Irene, kalau kamu memang ingin bertunangan dengan Fajar. Aku ikhlas karena dia juga pria yang sangat baik."


"Tapi aku mau sama kamu."


"Irene, aku tidak pernah membagi cintaku dengan wanita lain. Cintaku hanya untuk kamu, tapi raga aku sudah tidak bisa menemani kamu. Aku hanya bisa menitipkan cinta ini untuk kamu. Semoga kamu selalu bahagia."


Irene menatap nanar Aditya. Dia tidak mengerti dengan ucapan Aditya.


"Irene, kamu ngomong sama siapa?" Pak Richard berjalan mendekat dan berdiri di samping putrinya.

__ADS_1


"Adit, Pa. Adit di sini."


"Adit sudah tidak ada."


"Ada." Irene kini berusaha memegang tangan Aditya tapi tangannya menembusnya.


"Adit, gak ada di sini!" kata Pak Richard lagi.


"Kak Adit ada di sini!" kata Airin yang kini sudah berdiri di dekat Aditya.


"Kamu siapa? Adit gak mungkin ada di sini!" kata Pak Richard dengan keras.


"Kenapa gak mungkin?"


"Karena dia sudah mati tenggelam di sungai!"


Seketika Irene melebarkan matanya begitu juga dengan tamu undangan yang lainnya.


"Papa, apa maksudnya?" tanya Irene tidak mengerti.


Pak Richard menghela napas panjang lalu menarik paksa Airin agar menjauh dari Irene. "Siapa kamu? Kenapa kamu ikut campur dengan masalah saya?"


"Lepaskan Airin!" Revan menepis cekalan Pak Richard dari lengan Airin.


"Siapa kalian? Masih kecil sudah berani berurusan dengan saya! Satpam! Usir mereka dari sini!"


Belum sempat satpam mengusir mereka, empat orang polisi menerobos masuk dan menyergap Pak Richard. "Anda kami tangkap atas kasus pembunuhan berencana yang Anda lakukan pada saudara Aditya."


"Pak, saya bisa jelaskan."


"Anda jelaskan di kantor polisi!" Kedua polisi itu menyeret paksa Richard keluar dari rumahnya.


Irene masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Papanya seorang pembunuh dan membunuh Aditya, kekasihnya.


Tiba-tiba saja tubuh Irene limbung dan dia tak sadarkan diri.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya..


__ADS_2