Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Wellcome To The World


__ADS_3

"Makasih sudah membawaku kembali..."


Seketika Airin terbangun dari tidurnya. Entah mengapa tiba-tiba dia memimpikan Azka. Dia menjadi takut. Apa memberi nama Azka pada calon putranya itu salah?


Airin menggeser tubuhnya yang sudah terasa sangat berat. Tinggal menunggu hari lagi dia akan bertemu dengan putra pertamanya.


"Sayang, kenapa?" tanya Revan saat merasakan pergerakan Airin. Dia kini membantu Airin mengubah posisi tidurnya lalu dia menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul 3 pagi. "Kamu tidur lagi masih jam tiga." satu tangannya kini mengusap perut Airin yang terasa kencang. "Pasti gak nyaman tidurnya karena perutnya udah kencang gini. Belum terasa mulas kan?"


Airin menggelengkan kepalanya. Dia masih memikirkan mimpinya itu. "Hmm, Mas apa salah ya kita kasih anak kita nama Azka?"


"Memang kenapa? Apa kita ganti saja?"


"Soalnya aku barusan mimpiin Azka dan dia bilang makasih sudah membawanya kembali. Kok aku jadi takut ya Mas."


Revan kini merengkuh bahu Airin dan memeluknya. "Jangan takut. Itu tandanya Azka senang namanya akan dipakai anak kita. Ya mungkin dia bilang seperti itu karena dia bisa merasakan kehidupan lagi lewat namanya."


Airin akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Sudah, jangan terlalu banyak pikiran. Kamu harus fokus pada kondisi kamu. Semoga persalinan kamu lancar. Kamu dan anak kita sehat."


Airin menganggukkan kepalanya lagi. Lalu dia menenggelamkan wajahnya di dada Revan. Ingin dia tertidur tapi tiba-tiba perutnya terasa mengencang lagi dan semakin tidak nyaman.


Airin mengusap perutnya sambil berdesis.


"Kenapa? Sakit?" tanya Revan.


"Iya, tapi gak terlalu. Rasanya gak nyaman banget."


Revan menegakkan dirinya dan mengusap perut besar Airin. "Kita ke rumah sakit saja ya. Siapa tahu sudah waktunya."


"Tunggu beberapa saat lagi. Takutnya cuma kontraksi palsu."

__ADS_1


"Ya udah aku siapkan perlengkapan kamu dulu. Kamu juga harus minum susu dan sarapan."


Airin menganggukkan kepalanya. "Bantu aku ke kamar mandi dulu."


"Iya, ayo." Revan membantu Airin bangun dan turun dari ranjang lalu membantunya berjalan ke kamar mandi. "Keliatan banget kalau udah gak nyaman. Bisa jalan gak?"


"Bisa. Emang rasanya udah di bawah banget ini daripada biasanya, masak iya udah mau lahir." Airin melangkahkan kakinya pelan masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai dari kamar mandi, Revan membantu Airin untuk duduk di tepian ranjang. Dia segera keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan Airin susu dan juga sarapan.


"Tuan, biar saya saja yang buatkan," kata pembantu Revan. Karena mereka memang sampai sekarang lebih memilih tinggal di rumah sendiri. Ada satu pembantu di rumahnya yang membantu dan selalu menemani Airin saat Revan bekerja.


"Gak papa, biar aku aja, Bi. Tolong bangunkan Hadi, suruh siapkan mobil, kita mau ke rumah sakit."


"Baik Tuan."


Setelah selesai membuatkan Airin susu dan roti berisi selai, dia segera kembali ke kamar.


"Sayang, kenapa?" Revan duduk di samping Airin dan mengusap pelipisnya yang berkeringat setelah meletakkan nampannya di atas nakas.


Airin hanya terdiam sambil menggigit bibir bawahnya.


"Mulai terasa mulas ya? Sebentar lagi kita ke rumah sakit saja."


Setelah rasa mulas berangsur hilang, Airin meminum susu yang dibuatkan Revan.


"Kamu makan dulu." Revan menyuapi Airin sampai dua roti selai itu habis. Kemudian dia berdiri dan menghubungi kedua orang tua Airin dan orang tuanya.


Mereka menunggu sampai rasa mulas itu semakin intens, baru mereka berangkat ke rumah sakit.


Airin sangat tenang menghadapi persalinannya begitu juga dengan Revan karena mereka berdua sudah beberapa kali mengikuti kelas hamil dan jelang persalinan.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit sudah pembukaan 6 dan proses pembukaan itu sangat cepat. Seperti ada kekuatan yang membantu Airin melewati ini semua.


Revan juga selalu memberi kekuatan untuk Airin selama proses persalinan itu. Tangannya dengan setia menggenggam tangan Airin saat Airin berusaha mendorong baby Azka terlahir ke dunia.


Tak butuh waktu lama suara tangis bayi laki-laki itu memecah ruang bersalin.


Airin dan Revan tersenyum dalam tangisnya saat melihat putranya berhasil terlahir ke dunia ini.


Kini baby Azka ada dalam dekapan Airin. Baru terlahir saja dia sudah terlihat tampan seperti Papanya.


"Wellcome to the world, Azka."


Tidak ada yang bisa mendengar suara itu bahkan tidak ada lagi yang bisa melihat sosok itu. Dia yang kini berada di antara senyum bahagia Airin dan Revan yang sedang menyambut kelahiran buah hati mereka.


..._SELESAI_...


...💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕...


.


Terima kasih yang sudah setia menemani kisah ini. Nanti pasti ada lanjutannya, gak tahu kapan aku gak janji. 🤭🤭


.


Karena novel ini sampai di level keinginan aku, aku kasih masing2 25rb di tiga gift teratas. Tapi aku umumkan nanti sewaktu gajian ya, doakan gajian besok deh karena udah telat dua minggu.. 🤭


.


Jangan lupa dukung novel aku lainnya..


.

__ADS_1


Thank u.. 🥰😘😘


__ADS_2