
Keesokan harinya, Revan memberikan kotak musik yang dimaksud Airin. Mereka kini duduk berdua di taman belakang sekolah. "Ini kan kotak musik yang kamu maksud?."
Airin menganggukkan kepalanya lalu menerima kotak musik itu. Kemudian dia membukanya dan melihat patung kecil yang berputar dan menari di tengah kotak musik itu. Seketika bayangan-bayangan Rania terlintas di otaknya. Dia pegang kepalanya yang terasa pusing.
"Bantu aku ya, sebentar saja."
"Ai, kamu kenapa? Ai..." Revan menahan bahu Airin.
Airin kini meluruskan pandangannya lalu menatap Revan. "Apa sekarang ada latihan menari?" tanya Airin.
Revan menatap Airin. Apakah jiwa yang berada di dalam tubuh Airin saat ini adalah kakaknya?
"Sepertinya ada, ayo aku antar." Revan dan Airin berdiri lalu berjalan menuju aula. Aula yang sangat luas itu memang cocok digunakan untuk latihan menari.
Setelah sampai di aula, Revan dan Airin menemui Bu Sari.
"Airin, ibu mau lihat dulu kemampuan kamu menari karena lombanya hanya tinggal 3 hari lagi. Kebetulan tema lombanya adalah seni tari daerah. Terserah mau membawakan seni tari daerah mana saja yang kamu bisa."
Airin menganggukkan kepalanya. Dia mengambil ponsel lalu memilih salah satu iringan musik jawa. Dia sambungkan ponselnya pada speaker kemudian dia bersiap untuk menari.
Jadi benar, jiwa yang ada ditubuh Airin saat ini adalah Kak Rania.
Gerakan tubuh yang lemah gemulai itu terlihat sangat indah. Revan dan beberapa orang yang berada di dalam aula itu terpesona menatap Airin.
"Airin, ternyata kamu jago menari ya. Selama ini Ibu tidak tahu kempuan kamu. Semoga saja kamu berhasil menang." kata Bu Sari setelah Airin menyelesaikan tariannya.
Airin hanya menganggukkan kepalanya. Dia kini berjalan bersama Revan menuju kelas.
Revan tak tahu harus bicara apa. Dia hanya terdiam sambil sesekali menatap Airin. Rasanya dia sangat canggung jika memang benar arwah kakaknya berada di dalam tubuh Airin sekarang.
Tiba-tiba Airin menghentikan langkahnya sambil memegang kepalanya.
"Ai..." Revan menahan bahu Airin agar Airin tidak terjatuh. "Kamu gak papa kan?"
"Tubuh aku lemas banget."
Revan menuntun Airin duduk di depan kelas agar rasa lemasnya menghilang. Sepertinya Airin baru tersadar dari pengaruh Rania.
Revan tersenyum sambil menyelipkan rambut Airin yang menutupi pipinya. "Kamu hebat sekali menarinya."
__ADS_1
"Itu bukan aku."
"Nanti aku rekam ya waktu kamu tampil. Agar kamu punya kenang-kenangan."
"Malu ih. Aslinya aku gak bisa menari. Ya udah yuk kita ke kelas aja." Airin berdiri karena rasa pusingnya telah menghilang. Mereka kini berjalan berdua menuju kelas sambil sesekali tertawa.
...***...
Tiga hari telah berlalu. Hari itu adalah hari perlombaan seni tari dan seni suara di sekolah Airin. Kedua orang tua Revan ikut menyaksikan penampilan Airin yang berada di bawah pengaruh Rania itu. Karena Rania begitu ingin menunjukkan bakatnya di depan kedua orang tuanya.
"Ma, Pa, itu Kak Rania yang berada di dalam tubuh Airin."
Seketika Alea meneteskan air matanya. Dulu Rania memang sangat suka menari. Tepat saat dia akan mengikuti sebuah kompetisi menari, penyakitnya semakin parah dan badannya kian melemah. Cita-citanya tak pernah terwujud sampai akhir hayatnya.
Alea semakin mengenggam erat tangan Kevin. Dia bisa melihat bayangan Rania di diri Airin. "Rania, Mama sangat merindukan kamu."
Seketika Kevin merengkuh tubuh Alea dan mengusap lengannya. "Papa juga sangat merindukan Rania."
Setelah pertunjukkan Airin selesai, Airin turun dari panggung dan memeluk kedua orang tua Revan. "Terima kasih sudah melihat Rania, Ma. Meskipun mungkin Rania tidak menang tapi Rania merasa senang karena Mama dan Papa bisa melihat Rania tampil dipanggung." Kemudian Airin melepas pelukannya dan menghapus air mata Alea. "Mama jangan nangis lagi ya. Terima kasih Mama sudah bisa melepas kepergianku. Mama sudah bisa tersenyum tanpa Rania."
"Rania, Mama kangen sama kamu." Alea mengusap pipi Airin sambil menatapnya nanar.
"Iya sayang itu pasti."
"Sampaikan terima kasih Rania sama pacarnya adek ya, Ma. Dia baik sekali, adek jangan sampai menyakiti hatinya."
"Iya."
Beberapa saat kemudian tubuh Airin melemas. Revan segera menahan tubuh Airin dan membawanya duduk di kursi penonton.
"Van, kasih minum dulu." Alea memberikan sebotol air mineral pada Revan.
"Minum dulu." Revan mendekatkan botol minuman itu di bibir Airin. Airin segera menghabiskan minuman itu karena badannya terasa lelah seperti kekurangan cairan. "Kamu ganti baju dulu, lalu aku antar pulang."
Airin menganggukkan kepalanya. "Nanti kalau seandainya Kak Rania menang, biar kedua orang tua kamu yang mengambil piala itu karena apa yang aku lakukan tadi adalah persembahan terakhir Kak Rania."
"Iya." Revan membantu Airin berdiri lalu mengantarnya ke toilet untuk membersihkan wajah dan berganti pakaian.
"Ai, kamu hebat banget." Melodi menyusul langkah Airin dan menggantikan posisi Revan di sampingnya.
__ADS_1
"Itu bukan aku."
"Dih, aku lihatnya kamu, bisa-bisanya bilang bukan kamu. Sini aku bantu bersihin riasan kamu." Kemudian Melodi menarik tangan Airin masuk ke dalam toilet.
Sedangkan Revan kini menunggu Airin di depan toilet. Dia bersandar pada tiang dan menatap langit jingga sore hari itu. banyak sekali peristiwa yang terjadi bersama Airin dan rasanya dia semakin tidak mau kehilangan Airin. Apakah nanti dia akan benar-benar berjodoh dengan Airin?
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Airin keluar dari toilet. Dia kini menghampiri Revan. "Pulang yuk, tapi antar aku balikin kostum dulu ya."
"Oke." tangan kanan Revan mengambil alih bungkusan yang berisi kostum itu dari tangan Airin. Kemudian mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju tempat parkir.
"Van, kapan ya aku bisa hidup normal. Rasanya aku sudah lelah sekali berurusan dengan hantu-hantu itu." kata Airin.
"Kamu berdoa saja ya, semoga setelah ini kamu bisa hidup normal."
"Amin. Aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan hantu-hantu itu.
"Iya, aku akan selalu bantu kamu." Revan menghentikan langkah kakinya di dekat motornya. Kemudian dia memakai helmnya.
"Kostum aku ditaruh tengah aja."
Revan menggelengkan kepalanya dan meletakkan bungkusan itu di depan motornya. "Jangan ada penghalang di antara kita."
Seketika Airin tertawa. Kemudian dia naik ke atas motor Revan dan memeluknya dari belakang.
"Gini kan enak," kata Revan sambil tersenyum lalu dia mulai melajukan motornya.
Sesekali Revan mengusap tangan Airin yang ada di perutnya. "Ai..." panggil Revan cukup keras.
Airin mendekatkan kepalanya di bahu Revan. "Apa?"
"Aku cuma mau bilang, i love you." kata Revan sambil menoleh sesaat.
Airin semakin mengeratkan pelukannya dan tersenyum. "I love you too."
💕💕💕
.
Duh, anak muda... 🙄
__ADS_1