
"Airin, kamu cantik banget." Melodi langsung menyambut kedatangan Airin malam hari itu.
Malam hari itu memang malam perpisahan yang diadakan di aula sekolah. Airin terlihat sangat cantik dengan memakai gaun berwarna putih sesuai dress code acara.
"Udah siap berdansa nih sama Revan?" kata Siska yang berjalan di samping Airin.
Airin menggelengkan kepalanya. Di puncak acara malam itu memang ada acara berdansa tapi baik Airin dan Revan memang telah memutuskan untuk tidak berdansa daripada nanti rasanya semakin berat lebih baik seperti ini.
"Kenapa? Nikmati dong saat-saat terakhir gini. Ya gak papa kalau memang kamu break dulu sama Revan, aku ngerti itu memang demi kebaikan kalian berdua. Tapi kan sekarang ada kesempatan, kamu manfaatin gih." kata Melodi. Dia menggandeng lengan Airin sambil berjalan.
Airin menggelengkan kepalanya pelan. "Aku gak mau semakin berat melepas Revan." Dia semakin menahan rasa sesak di dadanya. Sudah kesekian kalinya air mata itu terbendung di pelupuk matanya.
"Iya, iya, aku ngerti. Udah ya. Jangan sedih. Kita happy-happy aja malam ini."
Langkah mereka bertiga berhenti saat berpapasan dengan Revan dan juga teman-temannya. Di belakang Revan juga ada Azka. Tatapan Revan dan juga Azka tertuju pada Airin. Mereka berdua terlihat terpesona dengan kecantikan Airin.
Tanpa berkata apapun, Airin melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam aula. Dia hanya duduk saja sampai acara dimulai dan dibuka oleh host. Airin masih saja melamun sampai serentetan acara selesai. Dia sama sekali tidak mendengar pesan dan kesan yang dsampaikan beberapa teman-temannya di atas panggung.
Sudah beberapa hari dia menyiapkan hatinya agar tidak bersedih tapi tetap saja dadanya terasa sesak, karena mungkin hari itu adalah hari terakhir dia melihat Revan. Setahu dia, Revan akan berangkat lebih cepat ke luar negeri.
"Selamat malam semua..."
Mendengar suara itu barulah Airin meluruskan pandangannya dan menatap ke atas panggung.
Revan! Ternyata Revan benar-benar akan tampil malam ini.
Revan memegang gitarnya dan duduk di tengah panggung dengan mic yang sudah stand di depannya. Tatapan mata Revan kini tertuju pada Airin yang juga sedang menatapnya. Dia tersenyum kecil lalu semakin mendekatkan micnya.
"Spesial malam ini aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang yang sangat spesial dan untuk semua teman yang hadir pada malam hari ini."
"Cieee, Airin. Ciee..." Beberapa temannya justru bersorak pada Airin.
"Sebelumnya aku mau minta maaf pada teman-teman semua jika selama tiga tahun ini aku punya salah sama kalian semua atau aku terlalu keras saat menjadi ketua OSIS dulu."
"Iya, sama-sama..." jawab teman-temannya secara bersamaan.
"Ada pertemuan pasti ada juga perpisahan. Tapi perpisahan kali ini adalah awal dari kesuksesan kita semua. Kita masih bisa bertemu dan berkumpul di lain waktu. Dan..." Revan menghentikan kalimatnya beberapa saat. "Airin semoga kamu selalu bahagia tanpa aku di sisimu. I'll always missing you."
__ADS_1
Beberapa teman mereka bersorak untuk Airin tapi air mata Airin justru semakin terbendung. Dia menahannya sekuat tenaga agar air mata itu tidak terjatuh.
Bila nanti kita berpisah, jangan kau lupakan.
Kenangan yang indah, kisah kita.
Jika memang kau tak tercipta untuk kumiliki
Cobalah mengerti yang terjadi
Bila mungkin memang tak bisa
Jangan pernah coba memaksa
'Tuk tetap bertahan, di tengah kepedihan.
"Ai, aku rekamin buat kamu nih. Nanti kalau kamu kangen sama Revan lihat video ini ya." kata Melodi yang sedari tadi sudah merekam Revan sejak Revan naik ke atas panggung.
Air mata itu akhirnya lolos di pipi Airin. Semua kenangannya bersama Revan seolah berputar di dalam ingatannya.
Revan aku pasti juga akan merindukanmu. Jaga diri baik-baik ya di sana.
Jadikan ini perpisahan yang termanis yang indah dalam hidupmu sepanjang waktu.
Semua berakhir tanpa dendam dalam hati.
Maafkan semua salahku yang mungkin menyakitimu
(Lagu dari Lovarian berjudul Perpisahan Termanis. Anak 90an pasti kenal lagu ini. ðŸ¤)
Tepuk tangan meriah mengiringi Revan setelah selesai membawakan lagu itu. Kini Revan turun dari panggung lalu entah menuju kemana.
Airin menyusut air matanya dengan tisu. Hatinya masih terasa sangat sesak. Jujur saja dia begitu ingin menangis di pelukan Revan.
"Ai, jangan sedih." Melodi dan Siska memeluk Airin. "Nih, udah aku rekamin. Nanti kalau kamu kangen bisa lihat video ini."
Airin hanya menganggukkan kepalanya. "Kita bertiga tetap menjadi sahabat kan?"
__ADS_1
Mereka melepas pelukannya. "Iya dong, satu minggu sekali kita kumpul dan cerita-cerita ya."
"Iya." Sesak di hati Airin sedikit menghilang saat mengobrol dengan Melodi dan Siska. Hingga pada puncak acara, beberapa temannya yang memiliki pasangan sudah bersiap di lantai dansa.
Azka berjalan mendekati Melodi lalu membisikkan sesuatu pada Melodi yang langsung dijawab oleh anggukan oleh Melodi. Kemudian Azka kembali berkumpul dengan teman lainnya.
"Ai, kita ke sana yuk." ajak Melodi. Meskipun Airin tidak mau tapi Melodi terus menarik tangan Airin. Saat mereka sampai di lantai dansa. Melodi dan Siska mendorong tubuh Airin hingga dia terjatuh dalam pelukan Revan yang juga didorong oleh Azka dan Tomi.
"Dansa woy! Best couple masak gak dansa." teriak Tomi.
Airin menahan tangannya di dada Revan. Dia menatap Revan beberapa saat lalu dia menggeser kakinya dan akan pergi tapi Revan menahan pinggang Airin.
"Jangan pergi. Kita nikmati malam ini bersama." bisik Revan di dekat telinga Airin.
Akhirnya Airin hanya terdiam dan mengikuti gerakan Revan. Dia pindah kedua tangannya di bahu Revan.
Revan terus menatap Airin meski Airin masih saja menundukkan pandangannya. "Ai, jangan sedih."
Bukannya tersenyum tapi Airin justru semakin menangis. Dia kini menenggelamkan wajahnya di bahu Revan.
Revan tak berkata apa-apa lagi, hatinya juga sama sesaknya dengan Airin. Dia biarkan gadisnya menangis. Mungkin setelah ini hatinya akan lebih tenang. Dia hanya mengusap punggung Airin yang bergetar.
Setelah puas menangis, Airin akhirnya menegakkan kepalanya. "Maaf, jadi basah."
"Gak papa." Revan mengambil sapu tangan yang ada di sakunya lalu menghapus air mata Airin yang ada di pipinya. "Setelah ini jangan menangis lagi ya."
Airin menganggukkan kepalanya.
Kemudian Revan menautkan satu tangannya di tangan Airin. Mereka bergerak berirama seiring alunan musik. Terlihat sangat serasi apalagi saat mereka saling bertatapan penuh cinta.
Dari kejauhan Azka tersenyum kecil melihat mereka berdua.
Meskipun cinta aku buat kamu sangat besar, tapi aku gak mungkin memisahkan kamu dengan Revan, Ai.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...