Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Pertama di Kampus


__ADS_3

Gak nyangka, hari ini aku udah jadi mahasiswi baru.


Airin tersenyum sambil mengendarai sepeda motornya menuju kampus. Setelah berhasil masuk lima besar di sekolahnya, Ayahnya memberi hadiah sepeda motor untuk Airin agar Airin bisa pulang pergi ke kampus sendiri.


Airin kini berhenti di tempat parkir kampus bersamaan dengan Azka. Meskipun kaki Azka masih belum bisa normal seperti semula tapi dia sudah bisa mengendarai motornya sendiri.


"Wih, motor baru," kata Azka sambil melepas helmnya.


Airin hanya tersenyum dan juga melepas helmnya. Mereka turun dari motor lalu berjalan menuju kelas mereka.


"Untung ya, hanya ada pengenalan kampus aja. Gak usah ribet-ribet pakai atribut dan disuruh-suruh senior." kata Airin.


"Iya kamu benar."


Beberapa mahasiswa di sana menatap Azka dan berbisik. Azka tahu, pasti mereka sedang, membicarakan kakinya yang cacat tapi saat ini Azka sudah bisa berdamai dengan keadaan. Dia tidak peduli dengan omongan orang lain.


"Siska belum datang?" tanya Azka.


"Masih di jalan soalnya kena macet."


"Ya udah aku temani kamu sampai Siska datang." kata Azka.


Airin menganggukkan kepalanya karena dirinya dan Azka memang berbeda jurusan. Airin masuk ke fakultas managemen bisnis karena dia sudah berniat untuk mengembangkan bisnis toko pakaian Bundanya sedangkan Azka masuk di fakultas sains dan teknologi. Ya, mungkin dengan kepintarannya Azka bisa menciptakan sebuah teknologi baru yang bermanfaat.


Beberapa saat kemudian Siska berjalan cepat menghampiri Airin yang masih berjalan di koridor kampus. "Aduh, untung gak sampai telat." Siska menghela napas panjang lalu menggandeng lengan Airin.


"Ya udah, Ai. Aku ke kelas dulu ya." kata Azka. Dia kini berjalan cepat menuju kelasnya.


"Iya." Kemudian Airin berjalan berdua menuju kelasnya sambil bercerita tapi langkah mereka terhenti saat ada yang menghadangnya.


"Hai, mahasiswa baru?" Cowok itu mengulurkan tangannya pada Airin dan mengajaknya berkenalan. "Nama aku Satria."


Airin hanya menganggukkan kepalanya tanpa membalas uluran tangan itu, dilihat dari almamater yang dia pakai sepertinya dia adalah senior. "Aku Airin." Airin segera menarik tangan Siska menjauh dari Satria dan teman-temannya.


"Cantik Sat, sikat langsung." kata teman Satria. Mereka masih melihat Airin berjalan dari belakang.


"Menarik. Sepertinya dia bukan cewek gampangan. Jadi semakin tertantang."

__ADS_1


...***...


"Azka mana sih. Katanya mau ke kantin." Airin kini duduk di kantin kampus bersama Siska. Dia menatap layar ponselnya dan mengirim pesan pada Azka.


"Belum selesai mungkin kelasnya."


"Ya mungkin. Udahlah, biarin." Airin kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya lalu meminum esnya. Tiba-tiba saja dia teringat Revan. Sudah hampir sebulan dia tidak bertemu Revan. Rasanya dia sangat merindukannya.


Revan sedang apa ya di sana?


"Ai, melamun aja. Kangen sama Revan?" tanya Siska.


Airin hanya tersenyum kecil. Tidak bisa dipungkiri, dia memang sudah sangat merindukan Revan.


"Video call aja."


Airin menggelengkan kepalanya. Baik dia maupun Revan sudah memutuskan untuk tidak melakukan komunikasi. Mereka biarkan semua mengalir apa adanya.


"Ya udah, tahan aja kalau gitu kangennya." kata Siska sambil tertawa.


Airin tak menjawabnya. Dia sudah malas berurusan dengan pria lain, apalagi Satria terlihat seorang bad boy meski wajahnya sangat tampan.


"Ai, sorry kamu nungguin ya." Beberapa saat kemudian Azka datang dan berdiri di dekat Airin.


Airin kini mendongak dan menatap Azka. Untunglah penyelamat itu segera datang. Dia ada alasan untuk pergi dari tempat itu.


"Ternyata kamu teman cowok cacat ini?" kata Satria. Kebetulan Satria adalah kating di fakultas Azka.


Seketika Airin menatap tajam Satria lalu dia berdiri dan menggebrak meja. "Apa kamu bilang?! Jangan pernah hina Azka seperti itu."


"Tapi memang kenyataan kan?" Satria begitu meremehkan Azka.


Airin berdengus kesal lalu dia berdiri dan pergi bersama Azka dan juga Siska. "Bisa-bisanya dia bilang seperti itu. Senior itu harusnya memberi contoh yang baik."


"Udahlah, biarin aja. Emang itu kenyataan." Azka sudah tidak ambil pusing dengan omongan orang. Dia masuk ke kampus itu untuk mengemban ilmu bukan meladeni mereka para toxic.


"Tapi aku gak mau kamu dikatain cacat gitu. Aku yakin sebentar lagi kamu akan sembuh."

__ADS_1


Azka hanya tersenyum dan mengusap puncak kepala Airin. "Makasih ya. Sekarang aku sudah bisa lari meski masih belum kencang. Di terapi yang terakhir kemarin Dokter sudah memperbolehkan aku untuk berlari."


Seketika senyum mengembang di bibir Airin. "Benarkah? Pasti sebentar lagi kamu bisa main basket."


"Iya, kapan-kapan aku akan mencoba bermain basket lagi dan satu lagi Ai, aku mau bekerja lagi di kafe Ayah kamu. Keinginan aku untuk tes DNA belum terwujud."


"Kalau kamu sudah merasa mampu ya gak papa. Sudah bilang sama Ayah? Kalau belum nanti aku bilangin ya."


"Tidak perlu, Ai. Nanti aku akan ke sana sendiri."


"Ya udah, semangat ya." Airin menggandeng lengan Siska kemudian mereka berbelok menuju kelas mereka.


Sedangkan Azka kini berjalan menuju toilet. Tiba-tiba saja ada yang membegal kakinya hingga dia terjatuh. Dia meringis kesakitan sambil mengibaskan lututnya.


"Jalan aja gak bener." Satria dan teman-temannya tertawa membully Azka.


Azka menghela napas panjang lalu dia berpegangan tembok dan berdiri. Dia berusaha untuk sabar dan tidak membalas perbuatan mereka. Bagi dia yang penting mereka jangan sampai mengganggu Airin.


"Kamu temannya Airin atau pacarnya Airin? Kalau pacarnya mending lo putusin aja sebelum gue rebut dia dari lo." kata Satria.


Azka tak menjawabnya. Dia justru berlenggang meninggalkan Satria.


"Belagu amat. Udah merasa sok keren dengan kakinya yang pincang gitu."


"Kasih pelajaran Sat. Jangan mau kalah dengan cowok cacat kayak dia."


Satria tersenyum miring. "Gue pasti akan dapatkan Airin."


💕💕💕


.


Mereka gak tahu aja siapa Azka...


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2