Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Will Be Mine?


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam toilet, samar-samar Airin mendengar suara tangisan.


"Mel, kamu dengar suara tangisan gak?" tanya Airin sambil mengernyitkan dahinya karena suara tangisan itu semakin jelas dan sangat memilukan.


"Nggak! Aku gak dengar apa-apa."


Beberapa saat kemudian tangisan itu hilang. Airin berusaha tetap tenang lalu membersihkan lututnya dengan tisu yang telah dia basahi dengan air.


"Aduh perih."


"Pelan-pelan Ai. Rok kamu juga kotor gini. Aku pinjamkan rok di ruang kesiswaan ya. Siapa tahu ada," kata Melodi.


"Gak usah. Ini kotornya cuma dikit." Airin juga membersihkan ujung rok abunya tapi air itu malah semakin merembet membasahi roknya.


"Tuh kan malah basah. Tunggu sini ya." Melodi keluar dari toilet dan berjalan menuju ruang kesiswaan.


Airin kembali membersihkan lututnya pelan. Tiba-tiba suara tangisan pilu itu terdengar lagi. Airin kini menegakkan dirinya. Dia membuka bilik-bilik toilet tapi tidak ada siapa-siapa. Saat dia kembali ke dekat washtafel dia dikejutkan dengan kemunculan Siska secara tiba-tiba.


"Eh, Siska."


"Maaf ya, gara-gara aku kaki kamu jadi luka."


"Gak papa. Ria memang kayak gitu. Mereka juga sering bully aku. Kamu lawan aja dia, ya meskipun aku juga gak bisa lawan dia." Airin menertawakan dirinya sendiri. Dia membuang tisu ke tempat sampah lalu menatap Siska.


"Aaaa.." Airin sangat terkejut saat melihat seorang wanita yang sangat menakutkan di belakang Siska.


"Kamu kenapa?" tanya Siska.


Airin semakin berjalan mundur lalu dia keluar dari toilet dan menabrak Revan.


"Ai, kenapa?" Revan menahan lengan Airin.


Airin menarik napas panjang lalu menghembuskannya lagi. Dia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia kini menatap Siska yang baru saja keluar dari toilet. Sosok menakutkan itu sudah tidak ada di belakang Siska.


Siska hanya menatap Airin dan Revan, lalu dia membalikkan badannya.


Andai saja aku bisa seperti mereka.


Airin masih saja menatap punggung Siska yang kian menjauh. Dari raut wajah Siska, Airin bisa merasakan kesedihannya.


"Kaki kamu lecet, diobati dulu di UKS."


Airin menatap Revan sesaat lalu dia melangkahkan kakinya ke UKS.

__ADS_1


"Airin!"


Panggilan itu menghentikan langkah Airin. Dia kini menatap Azka yang memakaikan jaket melingkar di pinggangnya agar menutupi rok abu-abunya yang basah dan kotor. "Pakai ini saja, karena tadi Melodi pinjam rok ganti gak ada."


"Melodi dimana?" tanya Airin.


"Melodi lagi sama Bu Isti, ngomongin soal paduan suara."


Airin hanya menganggukkan kepalanya. Melodi adalah ketua paduan suara, tentu saja suara Melodi sangat merdu dia juga pintar memainkan berbagai alat musik. Itu karena darah pianis hebat dari kedua orang tuanya mengalir di tubuh Melodi, hingga bakat itu menurun.


Lagi-lagi, Azka dan Revan saling bertatap tajam yang membuat Airin seolah merasa dirinya berada di posisi yang salah. Airin melangkahkan kakinya dan mendahului mereka berdua.


"Ai," panggil mereka secara bersamaan.


"Aku bisa sendiri. Kalian ke kelas aja."


Tapi kedua pria itu tetap mengikuti Airin sampai ke dalam UKS. Mereka sibuk menyiapkan obat-obatan, seperti Airin terluka parah saja.


"Ih, ini cuma luka sedikit. Gak usah terlalu berlebihan. Udah kalian keluar saja." Airin mengambil kapas lalu membasahinya dengan cairan rivanol dan membersihkan lukanya agar tidak infeksi.


Azka kini menarik Revan agar menjauh dari Airin. Mereka keluar dari UKS agar Airin tidak mendengar suaranya. Sebenarnya dia sudah menahan emosinya dari kemarin. "Masalah Della sudah selesai, mengapa lo masih mendekati Airin?"


"Memang kenapa? Masalah buat lo?"


Revan hanya tersenyun miring lalu dia memutar langkahnya. "Tahu apa lo soal gue? Dulu, gue emang terlalu pengecut mengalah begitu saja, karena gue kira Airin cinta sama lo. Tapi sekarang, gue gak akan mengalah begitu saja. My first love, will be mine."


Azka hanya mengepalkan tangannya menatap langkah kaki Revan yang kian menjauh.


Jadi selama ini yang Revan sukai adalah Airin. Sial!


Kemudian dia melihat Airin yang duduk di brangkar UKS sambil memasang plester. Dia berjalan mendekatinya.


"Ngomong apa sama Revan? Kemarin-kemarin kalian kompak. Kenapa berantem lagi?"


"Kita gak berantem." Azka membantu Airin mengembalikan kotak P3K.


"Hmm, Azka."


Azka membalikkan badannya dan duduk di samping Airin. "Kenapa?"


"Kamu saja yang ikut olimpiade matematika itu sama Revan. Aku gak bisa."


Azka hanya tersenyum kecil. "Kenapa? Kan ada Revan."

__ADS_1


Airin menggelengkan kepalanya. "Waktu itu aku dapat jawaban dari Aditya makanya aku dapat nilai seratus."


"Tidak apa-apa. Aku yakin kamu bisa. Ya udah yuk, ke kelas."


"Hmm, tapi aku tahu kamu juga sedang mengejar beasiswa. Eh, maaf aku gak bermaksud menyinggung."


Azka semakin tersenyum sambil mengusap puncak kepala Airin. "Gak papa, aku memang mengejar beasiswa bahkan aku ingin mendapat beasiswa sampai kuliah karena aku tahu sendiri perekonomian keluarga aku kayak gimana. Masih banyak cara lain, kamu harus tetap ikut olimpiade itu. Aku yakin kamu bisa."


Airin ikut tersenyum mendengar ucapan Azka. Azka memang seorang lelaki yang sangat baik.


Kemudian mereka berdiri dan berjalan bersama menuju kelas.


"Dih, berkedok status sahabat enak banget bisa jalan sama Azka, terus nanti jalan lagi sama Revan. Murahan!"


Lagi-lagi tukang bully itu berbuat ulah. Airin tak mau menimpali perkataannya, dia kini duduk di bangkunya.


"Cupu? Pakai kalung apa ini?" Ria berganti mengganggu Siska dengan menarik kalung yang berliontin hati dari leher Siska. "Ini kalung jadul banget. Punya nyokap lo ya lo pakai. Atau jangan-jangan punya nenek lo."


Ria dan teman-temannya tertawa sambil melempar-lempar kalung itu bergantian.


"Mana? Itu kalung aku." Siska mengikuti lemparan mereka.


Ria dan teman-temannya terus melempar kalung itu hingga kalung itu tersangkut di atas lemari.


"Ops, ambil saja sendiri. Lagian kalung jadul aja disimpan."


Mata Siska memerah, mengapa dia selalu di bully seperti ini. Tapi dia harus mengambil kalung itu, karena kalung itu adalah peninggalan ibunya satu-satunya.


Dia kini mengambil kursi dan mendekatkannya ke lemari, tapi belum juga dia naik, Revan mendahuluinya dan mengambil kalung itu untuknya.


"Ria, kenapa sih lo selalu aja buat masalah! Jangan mentang-mentang bokap lo donatur tetap di sekolah ini, lo jadi seenaknya seperti ini." Revan membuang napas kasar lalu dia kembali duduk di bangkunya. Rasanya dia sudah muak dengan Ria yang terus berulah. Tidak hanya dengan Airin tapi juga dengan lainnya.


Siska kembali duduk di kursinya. Dia kini membuka liontin hati itu, ada foto ibunya yang telah lama tiada.


Ibu, andai ibu masih ada, apa ibu akan melindungiku.


Satu bulir air mata jatuh menetes di foto itu.


Airin kini melihat Siska, dia melebarkan matanya. "Gak mungkin!"


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2