
Mereka kini duduk di bangku masing-masing sesuai nomor urutan dan sudah bersiap menyelesaikan soal-soal Matematika itu.
Setelah selesai, nanti aku akan coba cari Fani di kampus ini. Apa dia memang hanya mirip atau memang dia itu Fani?
Azka kembali fokus membaca soal-soal Matematika itu. Tentu saja, dia bisa mengerjakan soal itu dengan mudah. Begitu juga dengan Revan.
Tapi tidak dengan Airin. Dia gelisah karena perutnya terasa sakit, sampai keringat dingin membasahi pelipisnya.
Tumben banget perut aku sakit gini. Astaga, aku lupa hari ini kan jadwal merah aku. Aduh, aku lupa gak bawa pem ba lut lagi.
Sampai 90 menit berlalu, Airin hanya mengerjakan setengahnya. Kali ini Airin pasrah. Dia tidak akan menang. Sepuluh menit sebelum berakhir, dia akhirnya menjawab asal soal-soal itu.
Semoga saja Azka dan Revan jadi juara. Aku gak bisa mikir kalau perut aku sakit begini.
Waktu mengerjakan pun selesai, tapi Airin masih saja duduk hingga Revan menghampirinya.
"Revan, Airin, aku duluan ya." Azka keluar dari ruangan karena dia sedang buru-buru mencari Fani.
"Iya," jawab Revan. Dia kini berdiri di samping Airin. "Kamu kenapa? Kok pucat?"
"Perut aku sakit," jawab Airin.
"Ya udah, ayo aku antar pulang."
"Aduh, gimana ya?" Airin bingung, karena sepertinya rok abunya sudah kotor. Dia malu kalau Revan atau orang lain sampai melihatnya.
"Kenapa?" tanya Revan lagi. Dia sama sekali tidak mengerti dengan kondisi Airin.
"Hmm, aku boleh pinjam jaket kamu gak?"
"Sebentar aku ambilkan di depan." Revan segera berlari keluar ruangan untuk mengambil jaketnya yang dia letakkan dia penitipan tas.
Airin hanya menggigit bibir bawahnya karena merasa malu dengan Revan.
Beberapa saat kemudian ada beberapa mahasiswa yang masuk dan membereskan soal beserta lembar jawaban.
"Kenapa dek, kok belum keluar?" tanya salah satu mahasiswi itu. Dia terlihat cantik dan memakai kacamata. Senyumnya juga ramah.
"Anu, ini kak." Airin membisikkan sesuatu pada mahasiswi itu.
"Ooo, ya udah pinjam almamater aku aja." Belum juga melepas almamaternya, Revan masuk ke dalam ruangan sambil membawa jaketnya.
"Ini jaket aku." Revan justru memakaikan jaketnya di tubuh Airin karena dia mengira Airin sedang kedinginan.
"Van, aku gak kedinginan." Airin melepas jaket Revan lalu dia lingkarkan di pinggangnya.
__ADS_1
"Loh, emang kenapa?" Revan masih saja tak mengerti.
"Revan, ih, malu." Airin mendorong Revan saat akan melihat roknya.
Revan menepuk jidatnya sesaat ketika menyadari apa yang dimaksud Airin. "Maaf, aku gak ngerti. Maaf banget ya."
Sedangkan mahasiswi cantik itu hanya tertawa melihat mereka berdua. "Kalian pacaran?"
Mereka berdua hanya tersenyum malu.
"Kalian serasi banget, moga langgeng ya."
"Iya Kak, makasih." Airin kini membaca name tag yang menggantung di leher mahasiswi itu. "Kak Fani?"
"Iya nama aku Fani. Semoga kalian berdua dapat juara ya. Karena dua bulan lagi akan ada OSN tingkat provinsi."
Airin mengernyitkan dahinya, apakah dia Fani yang dicari Azka. Tapi nama Fani tidak hanya satu. Bisa saja itu Fani yang lain. Dia sendiri juga tidak tahu bagaimana wajah Fani.
"Ai, ayo, kita pulang sekarang," ajak Revan.
"Hmm, iya."
Kemudian Revan menggandeng tangan Airin menuju tempat parkir. Sebenarnya Airin ingin mencari Azka tapi keadaannya saat ini sangat tidak memungkinkan.
Setelah sampai di tempat parkir, Revan memakaikan helm di kepala Airin.
Setelah mereka naik ke atas motor, beberapa saat kemudian motor Revan segera melaju meninggalkan tempat parkir kampus. Kedua tangan Airin langsung memeluk Revan dan menyandarkan dagunya di bahu Revan. "Aku nyerah. Aku gak mungkin jadi juara. Aku tadi gak konsen banget ngerjain soal-soalnya. Yang setengah aku jawab asal," cerita Airin.
"Iya, gak papa. Mau gimana lagi. Sekarang perut kamu masih sakit?" tanya Revan. Dia usap sesaat tangan Airin yang ada di perutnya.
"Ya, lumayan sih. Aku malu sama kamu."
"Gak papa. Sorry, justru aku yang gak ngerti soal perempuan." Motor Revan melaju dengan kecepatan sedang. Tidak mengambil jalan memutar juga, agar mereka cepat sampai di rumah Airin.
Beberapa saat kemudian Revan sudah menghentikan motornya di depan rumah Airin. Airin turun dari motor Revan dan melepas helmnya. "Makasih ya. Gak mampir dulu?"
"Kapan-kapan aja. Sekarang kamu istirahat saja biar cepat pulih." kata Revan sambil mengaitkan helmnya pada sepeda motornya.
"Oke. Jaket kamu nanti aku cuci dulu ya."
"Gampang, kapan-kapan aja kamu balikin. buat kamu juga gak papa." Revan mencubit hidung Airin karena merasa gemas.
"Ih, Revan."
"Salam buat Ayah dan Bunda kamu ya." Kemudian Revan memutar motornya tapi sempat terhenti karena ada Ayla.
__ADS_1
"Gak salam buat kakaknya Airin juga nih. Nanti aku pecat jadi calon adik ipar." kata Ayla sambil berkacak pinggang.
Revan hanya tersenyum, "Iya kak. Salam buat Kak Ayla." Kemudian motor Revan melaju meninggalkan rumah Airin.
"Kak Ayla, malu-maluin aja sih." Airin masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Ayla.
"Ih, cuma godain dikit. Eh, nanti malam kita ke kafe yuk! Ada anak pejabat yang ulang tahun dan undang penyanyi terkenal."
"Males ah, aku lagi PMS."
"Dih, dek, nanti malam, sekarang masih siang. Buat tidur juga hilang."
"Ya udah, lihat nanti malam aja kak." Airin kini masuk ke dalam kamarnya, lalu segera membersihkan diri dan istirahat.
...***...
Setelah sampai rumah, Azka merebahkan dirinya di atas ranjangnya karena merasa capek. Dia sudah mencari Fani di hampir seluruh penjuru kampus, bahkan dia juga membawa foto Fani yang lebih jelas yang sedang bersama Kakaknya, tapi tetap tidak ada yang mengenalnya.
Dia kini mengambil ponselnya lalu mengirim chat pada Airin.
"Aku tadi melihat Fani di kampus. Tapi waktu aku cari, aku gak nemuin dia."
Beberapa saat kemudian Airin menghubunginya.
"Ka, tadi juga ada mahasiswi yang masuk kelas namanya Fani. Kamu punya fotonya gak yang lebih jelas. Soalnya aku juga gak hafal wajahnya."
"Sebentar, aku foto." Azka mematikan panggilan Airin lalu dia memotret foto Fani dan dia kirim ke Airin.
Beberapa saat kemudian Airin membalas chat itu. "Iya, itu Fani yang tadi aku temui. Tapi sekarang dia pakai kacamata."
Azka menghela napas panjang. Mengapa tadi dia tidak menunggu saja di dalam kelas.
"Aku harus tetap mencari Fani karena ini pesan dari Kak Arka."
Kemudian Azka mengambil jaketnya dan keluar dari rumahnya. Dia menuju alamat rumah Fani untuk menemui tetangganya yang akan memberinya informasi alamat kerja Fani.
Setelah sampai di tempat itu, Azka segera menemui tetangga itu. Untunglah alamat tempat Fani bekerja kini sudah dia ketahui.
"Nanti malam, aku akan ke tempat itu."
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya