
"Ai, kita mau kemana?" tanya Azka karena Airin terus mendorong kursi roda Azka melewati koridor kelas sepulang sekolah hari itu.
"Ke ruang latihan basket." Airin masih saja mendorong kursi roda Azka.
"Ngapain? Aku gak mau." Azka menoleh Airin dan menahan tangan Airin. Dia sudah tidak mau ke tempat itu setelah dia tidak bisa bermain basket lagi.
Airin tak menggubris omongan Azka. Dia tetap mendorong kursi roda itu. Mereka kini sampai di ruang latihan basket. Di dalam ruangan itu ada teman-teman Azka yang sedang latihan basket.
Azka hanya bisa mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa lagi bermain basket, entah hanya sesaat atau selamanya.
"Azka!" panggil Tomi. Mereka semua menghentikan latihannya. Tomi kini mendekat dan mendorong kursi roda Azka ke tengah lapangan.
"Ngapain lo bawa gue ke sini. Gue mau pulang!" Azka berusaha menepis tangan Tomi, tapi Tomi masih kekeh membawa Azka ke tengah lapangan.
"Azka, lo tetap kapten basket kita."
Azka menggelengkan kepalanya. "Gue udah undur diri jadi kapten basket. Udah gue mau balik!" Azka memegang rodanya dan akan berputar tapi Revan menahannya.
"Lo pakai, agar lo bisa gerak lebih leluasa." Revan memberikan sepasang alat bantu berjalan dengan model crutch.
Azka hanya menatap Revan. Hanya sesaat lalu dia mengalihkan pandangannya. Baginya tetap saja dia merasa sudah cacat.
"Ka, gue tahu hidup yang lo jalani ini berat. Gue dan yang lainnya juga gak bisa kurangi beban hidup lo." kata Revan. "Kita hanya bisa memberi perhatian yang tidak seberapa ini buat lo."
Azka menghela napas panjang. Lalu dia meraih pegangan crutch itu dan berusaha berdiri.
__ADS_1
Revan kini membantu Azka berdiri setelah kedua crutch itu terselip di kedua ketiak Azka, dia berusaha mengimbangkan dirinya. Lalu belajar berjalan dengan bantuan kedua crutch itu.
"Azka, lo harus yakin kalau lo itu bisa kembali seperti semula. Kita semua akan selalu bantu lo." Tomi kini duduk di kursi roda Azka. Dia justru mencoba kursi roda itu kesana kemari.
Revan memberikan bola basket pada Azka. "Gue yakin lo masih bisa menembak bola ini tepat sasaran."
Awalnya Azka ragu tapi tiga detik kemudian dia melempar bola itu dan masuk ke dalam ring meskipun dia tidak mengangkat tangannya terlalu tinggi
"Wee, memang kapten ter the best."
Tomi berdiri dan mengambil bola itu lagi lalu memberikannya pada Azka. "Masukkin lagi."
Azka kembali memasukkan bola basket itu. Setidaknya rasa rindunya pada bola basket sedikit terobati.
Airin kini duduk di kursi penonton. Dia tersenyum melihat senyum Azka mengembang di bibirnya.
"Van, akhirnya Azka kembali semangat lagi." kata Airin.
"Iya. Semoga saja kakinya cepat pulih tidak sampai 6 bulan."
Airin menganggukkan kepalanya. "Iya, semoga saja."
Setelah puas bermain basket, Azka kini duduk dan meminum air mineralnya. Airin dan Revan masih setia menunggunya.
"Ai, kamu belum pulang?" tanya Azka saat Airin berpindah duduk di sampingnya.
__ADS_1
Airin menggelengkan kepalanya. "Belum, aku nunggu kamu."
"Ya udah kita pulang yuk."
"Oke, sebentar aku chat Ayah dulu." Airin mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Ayahnya. Setelah itu dia kembali menatap Azka. "Aku ikut senang lihat kamu tersenyum seperti ini."
Azka menganggukkan kepalanya. "Makasih ya. Kalian semua sahabat yang sangat baik."
"Kita akan selalu ada untuk kasih support buat kamu." Airin kini membantu Azka berdiri lalu berjalan keluar dari ruang latihan basket.
Sedangkan Revan melipat kursi roda Azka yang tidak dipakai itu lalu dia bawa mengikuti Azka dan Airin di belakangnya.
"Mulai sekarang aku mau pakai ini terus." kata Azka yang merasa senang dia sudah bisa berjalan meski masih menggunakan bantuan.
"Iya, gak papa. Kemarin Ayah sudah tanya ke Dokter kamu boleh pakai itu, dan kamu juga harus rajin check up ya. Semoga tidak sampai 6 bulan gipsnya bisa dilepas."
Azka menganggukkan kepalanya.
"Jadi semangat."
"Iya." Azka tersenyum sambil menatap Airin.
Di belakang mereka berdua ada Revan yang mengikuti mereka. Selalu saja dia bisa menangkap cinta dari tatapan Azka untuk Airin.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen...