Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Semua Terungkap


__ADS_3

"Berhenti!"


Seketika Pak Diki menghentikan kepalan tangannya yang berada di depan wajah Revan. Dia menoleh ke ambang pintu ada Pak Satya dan Pak Widodo yang berdiri di ambang pintu bersama Airin.


Di saat itulah, Revan kembali memiting Pak Diki agar tidak kabur.


"Pak Satya, Pak Widodo, lihat anak murid kita. Kurang ajar sama saya."


Revan semakin mengencangkan pitingannya hingga Pak Diki merasa tercekik. "Bapak yang tidak pantas menjadi guru. Pak Diki sudah banyak melecehkan siswi di sekolah ini."


"Benar itu Pak Diki?" tanya Pak Satya.


"Pak Satya jangan percaya dengan cerita mereka."


"Pak Diki sudah cukup sandiwaranya! Saya tahu semuanya, Pak Diki memaksa Nita menggugurkan kandungannya. Padahal janin yang dikandung Nita adalah darah daging Pak Diki sendiri. Bukan hanya itu, Pak Diki juga melakukan tindak asusila dengan siswi lain di lab ini. Bahkan saya sendiri Bapak sentuh dengan seenaknya, jangan kira saya akan diam seperti yang lainnya," kata Airin. Dia akan mengakhiri masalah itu sekarang juga.


Mendengar hal itu Revan semakin mencekik leher Pak Diki dengan lengannya. "Masih gak mau ngaku!"


"Kalian gak punya bukti!" Pak Diki masih berusaha mengelak.


"Gak punya bukti? Pak Satya panggil Pak Kepala Sekolah dan juga guru lain agar mereka bisa menjadi saksi mata betapa kejamnya Pak Diki," pinta Airin.


Pak Satya segera menuju ruang kepala sekolah. Sedangkan Pak Widodo kini ikut menahan Pak Diki karena Pak Diki terus memberontak dan berusaha melepas tangan Revan.


Akhirnya mereka semua berkumpul dan mengikuti Airin berjalan menuju tanah kosong yang berada di belakang sekolah. Airin menunjuk tanah yang terlihat basah.


"Semalam, di sini Pak Diki mengubur janin yang tak berdosa itu." tunjuk Airin.


"Kamu cuma ngarang. Jangan percaya omongan dia Pak."


"Mari kita buktikan saja!" Airin semakin menantang Pak Diki yang terus mengelak.


Pak Satya akhirnya membongkar tanah itu. Benar saja, di kedalaman 50cm ada kain putih. Pak Satya mengambil kain itu dan membukanya. Seketika mereka semua yang ada di tempat itu terkejut.


"Astaga, ini janin siapa?"

__ADS_1


Pak Diki akhirnya tak bisa mengelak lagi.


"Nita, yang telah dihamili Pak Diki dan masih banyak lagi korban Pak Diki yang lainnya."


Seketika Pak Widodo memukul perut Pak Diki. "Berapa siswi yang sudah Bapak lecehkan. Hem!! Tindakan Bapak ini sangat memalukan. Anda guru di sini, harus menjadi contoh yang baik."


Pak Satya mengambil alih tempat Revan, dia juga ingin menyumbang satu pukulan. "Pak Robi, panggil polisi sekarang juga!"


"Tadi ada panggilan dari orang tua Nita yang mencari Nita, katanya Nita izin melakukan penelitian. Sekarang Nita dimana?" tanya Bu Prapti.


"Di tempat kos Pak Diki. Tolong cepat selamatkan Nita sebelum terlambat," kata Airin karena dia yakin Nita dibiarkan begitu saja oleh Pak Diki di tempat kosnya.


Beberapa guru segera menuju tempat kos Pak Diki yang tidak jauh dari sekolah. Kini semua guru bergerombol termasuk murid lainnya. Beberapa di antara mereka juga melayangkan pukulan di tubuh Pak Diki.


"Anda sudah mencoreng nama baik sekolah kita. Hajaran kita di sini tidak ada apa-apanya dibanding di penjara nanti karena kasus pelecehan itu kasus yang sangat rendahan dan pasti akan habis oleh napi lain."


Setelah polisi datang, Pak Diki segera dibawa ke kantor polisi.


Setelah itu mereka semua bubar karena kegiatan belajar mengajar akan tetap dilanjutkan hari itu.


Revan kini menahan tangan Airin dan memberikan satu botol air mineral pada Airin yang terlihat pucat. "Duduk sini. Kamu minum dulu."


Airin akhirnya duduk di depan kelas sambil meminum air mineral pemberian Revan.


"Aku tadi sudah mengusulkan untuk melakukan bimbingan konseling bagi para siswi. Untung Bu Prapti langsung bertindak cepat. Dia melakukan bimbingan secara tertutup agar mereka yang mau speak up identitasnya bisa disembunyikan."


"Untunglah masalah ini cepat selesai. Aku gak bisa bayangkan kalau kasus ini berlarut-larut sampai lama."


Revan mengusap puncak kepala Airin sambil tersenyum. "Sekarang kamu tahu kan, bahwa kelebihan kamu itu sangat bermanfaat bagi orang lain."


Airin menganggukkan kepalanya. "Tapi tetap aja aku takut. Tadi aja arwah janin itu terus nempel di punggung Pak Diki. Kasihan ya, janin yang tidak bersalah harus jadi korban."


"Iya, kadang seseorang yang bertitle dan sudah cukup umur tidak ada jaminan bisa bersikap baik. Dimanapun kamu berada kamu harus hati-hati, sebisa mungkin aku juga akan selalu menjaga kamu."


Airin hanya tersenyum sambil menatap Revan.

__ADS_1


"Airin." panggil Melodi dan Siska yang ikut menyusul Airin karena Airin belum juga masuk ke dalam kelas. "Kamu gak papa kan?"


"Aku gak papa. Untung ada Revan."


"Kasihan, Nita masuk rumah sakit. Katanya dia masih pendarahan. Terlambat sedikit saja pasti dia tidak akan tertolong. Duh, ngeri banget." Melodi menunjukkan percakapan di grup sekolah yang ada di ponselnya.


"Kasihan banget. Untung gak sampai terlambat. Nanti kita jenguk Nita yuk," ajak Airin.


"Oke, rencananya kita juga mau jenguk. Pantesan akhir-akhir ini dia gak pernah ikut paduan suara. Aku semakin takut mau dekat dengan cowok. Harus benar-benar tahu mana cowok yang baik atau cowok yang hanya mau memanfaatkan kita saja." kata Melodi.


"Iya, ngeri banget. Tapi Airin sih tenang, dia udah nemuin cowok yang tepat."


Airin hanya tersenyum kecil. Ya, dia berharap hubungannya dan Revan bisa bertahan lama.


"Ya udah yuk ke kelas, jangan pacaran terus." Melodi menarik tangan Airin. "Kirain ada tragedi ini kita bakal pulang cepat, gak tahunya tetap lanjut pelajaran. Ih, ngeselin."


"Iya sih. Aku ngarepnya juga pulang cepat. Badan aku lemes banget lagi." Airin menggandeng tangan Melodi. Setelah apa yang dilihatnya menembus batas ruang dan waktu, Airin merasa lemas. Dia bukan hanya bisa melihat sosok makhluk tak kasat mata itu tapi dia juga bisa melihat kejadian yang belum terjadi lewat mimpi dan kejadian yang telah terjadi lewat bayangan masa lalu ketika dia memegang suatu benda.


Airin kini duduk di bangkunya sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing.


"Ai, kalau kamu gak enak badan kamu istirahat di UKS saja ya." kata Revan.


Airin menggelengkan kepalanya. "Aku gak papa."


"Nanti kalau kamu jadi menjenguk Nita aku antar."


Airin hanya menganggukkan kepalanya.


Sedangkan Azka hanya menatap Airin diam-diam. Dia tidak bisa bertanya apa-apa pada Airin meskipun sebenarnya dia ingin tahu tentang Airin. Dia menahan dirinya. Dia sudah sangat menjaga jarak dengan Airin tapi rasa hatinya tetap sama. Cintanya hanya untuk Airin. Walau telah berusaha menghilangkan rasa itu tapi tetap tidak bisa. Entah sampai kapan rasa cinta itu tersimpan di hati Azka.


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya..


__ADS_2