
Airin terbangun di pagi hari itu dengan matanya yang terasa masih lengket karena sangat sembab. Dia kini melihat ponselnya yang dipenuhi chat grup dan beberapa panggilan dari Melodi dan Revan. Hal pertama yang dia buka adalah chat dari Revan.
"Ai, kamu gak papa kan?" Satu pesan dari Revan. Setelah itu ada beberapa panggilan yang masuk.
Belum juga membalasnya, Revan sudah memanggilnya.
"Ai, kamu gak papa kan?" tanya lagi.
Pertanyaan itu lagi yang diungkapkan Revan.
"Emang kenapa?" tanya Airin. Dia masih belum mengerti apa maksud Revan.
"Kamu belum tahu kalau ada seseorang yang menyebar video kamu dan Azka saat berada di klub malam. Video itu sudah aku hapus di semua sosial media. Hanya yang terlajur tersebar di gc yang gak bisa aku hapus."
"Udah tersebar?" Seketika air mata yang telah surut itu kini terjatuh lagi. "Aku malu, Van."
"Ai, jangan sedih lagi. Aku akan bantu kamu. Hari ini kamu gak usah masuk sekolah dulu. Biar aku urus masalah ini di sekolah."
"Van, apa kamu masih bisa menerimaku setelah apa yang dilakukan Azka. Ya meskipun Azka hanya mencium dan menyentuh tapi bagaimanapun juga aku..."
"Ai, jangan bilang seperti itu. Ini bukan mau kamu. Aku bisa mengerti. Apa kamu lupa yang dilakukan Guntur dulu. Lebih parah dari itu, tapi kamu juga masih mau menerima aku kan."
Kemudian Airin menghapus sisa-sisa air matanya.
"Jangan sedih lagi ya. Semua pasti akan berlalu."
"Makasih ya, Van."
Setelah itu Revan menutup panggilannya. Dia kini melihat grup chat kelasnya. Dia melihat ada beberapa temannya yang mengirim videonya ke grup. Kemudian dia membuka video itu. Meski hanya 15 detik tapi sangat jelas ketika Azka menciumnya dengan paksa setelah itu masuk ke dalam room.
Gak nyangka Azka dan Airin berani main ke klub.
Eh, gila! Berapa permainan tuh!
Woy, diam! Kita gak tahu yang sebenarnya.
Itu video asli. Kelihatan banget kalau Azka udah gak tahan dan main sosor.
Iya tuh, ayo dek cepat main, mas udah gak tahan.
Wkwkwkwk. Mana tahan tiap hari dekat kalau gak dicoba.
Airin terus menscroll percakapan itu meski hatinya terluka.
Jangan pernah salahkan Airin. Ini semua salah aku! Aku yang memaksa dia. Hapus video itu dari sini!
__ADS_1
Ada satu balasan dari Azka yang langsung diserbu teman sekelasnya.
Azka, jadi itu beneran.
Wah, lo udah perkaos Airin?
Wey, denger-denger Airin kan udah jadian sama Revan. Bisa-bisanya lo cicipi dulu.
Apaan tuh berkedok sahabat ternyata mengincar yang lain.
Airin sudah tidak sanggup lagi membaca chat itu. Kini dia beralih pada chat lainnya, ada satu pesan dari wali kelasnya yang membuat matanya membulat.
Airin, ada video kamu dan Azka yang tersebar di dunia maya. Ibu memutuskan memanggil orang tua kamu dan Azka untuk menindaklanjuti video itu. Ibu harap kamu datang bersama orang tua kamu pagi ini.
Airin menghela napas panjang. Mengapa semua masalah bisa jadi serumit ini. Dia keluar dari kamarnya dan turun menuju kamar kedua orang tuanya. Airin akan mengetuk pintu itu tapi Bundanya sudah membukanya.
"Airin kenapa?"
"Bunda." Seketika Airin memeluk Rili. "Bunda video Airin dan Azka tersebar."
"Tersebar gimana?" tanya Alvin setelah menyisir rambutnya yang basah.
"Ini." Airin memberikan ponselnya pada Ayahnya. "Ayah disuruh ke sekolah untuk menyelesaikan masalah ini."
"Astaga, mereka tega sekali menyebar tanpa tahu kebenarannya. Airin tenang saja, Ayah pasti akan selesaikan masalah ini. Lebih baik kamu hari ini di rumah dulu."
"Airin, mata kamu sampai sembab banget gini. Kamu menangis semalaman."
Airin semakin mengeratkan pelukan Bundanya.
"Ayo, sini tidur lagi sama Bunda." Rili menuntun putrinya masuk ke dalam kamarnya.
"Ya sudah, biar Ayah yang buat sarapan dan bekalnya Ayla."
Airin kini merebahkan dirinya di samping Bundanya dan memeluknya.
"Kamu tenang ya. Semua pasti akan berlalu."
"Bun, tapi Airin malu."
"Iya, Bunda mengerti. Nanti masalah ini biar diurus sama Ayah di sekolah. Kamu tenang saja."
Airin hanya menganggukkan kepalanya.
...***...
__ADS_1
Setelah berganti seragam sekolah, Azka kini keluar dari kamar dan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di meja makan.
"Azka, sarapan dulu," kata Bu Isti.
Azka hanya terdiam sambil menatap takut Ayahnya. "Ayah, disuruh ke sekolah pagi ini karena aku kena masalah."
Seketika Rahman menatap tajam putranya. "Masalah apa?"
Azka tidak boleh takut, biarkan saja Ayahnya tahu dan marah sekalian. "Ada yang menyebar video Azka saat ke klub semalam."
Seketika Rahman menampar pipi Azka. "Kamu ngapain ke klub! Mabuk atau main perempuan!" Rahman merampas ponsel Azka lalu melihat video itu. "Kamu benar-benar ya! Umur kamu masih berapa sudah berani mempermainkan perempuan. Ayah gak mau ke sekolah, biarkan saja kamu dikeluarkan dari sekolah sekalian."
Azka hanya menundukkan kepalanya sambil mengeraskan rahangnya. Meskipun dia sendiri tidak salah, dia tidak mungkin melakukan pembelaan itu.
"Ayah, dengarkan dulu penjelasan Azka. Azka tidak mungkin melakukan itu."
"Ya udah, urus sendiri saja anak kamu." Rahman berdiri dan berjalan ke kamar untuk mengambil jaketnya.
"Ayah, Azka itu anak kita." Isti kini mengikuti suaminya.
"Anak? Kamu tidak ingat apa yang kamu lakukan dulu bersama Edi."
"Astaghfirullah Ayah, aku sama Edi gak pernah ngapa-ngapain. Waktu itu dia menunggu Ayah pulang sampai malam karena ada keperluan. Kebetulan waktu itu aku jatuh di kamar mandi makanya dia bantu aku."
"Tapi sebulan kemudian kamu hamil Azka."
"Iya, aku ngelakuin itu juga sama Ayah. Azka itu anak Ayah. Sumpah demi Allah."
"Lalu dia meniru siapa tingkah lakunya seperti ini?"
Kedua orang tua Azka masih saja bertengkar. Tidak tahukah Azka mendengar semua perkataan mereka. Azka sudah beranjak dewasa, jelas dia mengerti apa yang dikatakan kedua orang tuanya.
Azka berdiri dan menghadang langkah Ayahnya saat akan keluar rumah. "Jadi selama ini Ayah menganggap ibu selingkuh dan tidak menganggap aku anak Ayah. Baik, suatu saat nanti kalau aku sudah punya uang, aku akan buktikan kebenaran ini." Azka menahan air mata yang terbendung di pelupuk matanya lalu dia melangkah menuju kamarnya untuk mengambil tasnya.
"Azka, biar ibu saja yang ke sekolah kamu. Ibu yakin, kamu tidak bersalah." Bu Isti mengikuti langkah Azka dan kini berdiri di belakangnya.
Seketika Azka membalikkan badannya dan memeluk ibunya. Dadanya terasa sangat sesak. Bolehkah dia mengeluh sekali saja, bahwa dia sudah lelah mejalani kehidupannya yang seperti ini.
"Azka, jangan dengarkan Ayah kamu. Kamu anak ibu dan Ayah." Bu Isti mengusap punggung putranya yang bergetar karena rasa sesak di dadanya yang tertahan.
💕💕💕
.
Azka... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
.
Like dan komen ya...