
Airin, aku minta maaf. Aku salah telah menganggap Della sudah tidak ada, padahal dia masih ada di hati kamu sebagai sahabat kamu. Memang aku yang tidak bisa mengerti perasaan kamu. Andai aku bisa mengulangi waktu, aku tidak ingin mengungkapkan perasaanku tadi. Biarkan saja perasaanku hanya tersimpan dalam hati. Pasti sekarang kamu tidak akan marah sama aku dan kita masih bisa dekat seperti biasanya.
Airin, aku mohon jangan marah. Sekali lagi aku minta maaf. Tapi jika memang kamu tidak mau memaafkanku, tidak apa-apa. Anggap saja aku adalah Revan yang dingin seperti dulu, yang tidak pernah bicara denganmu...
Airin kembali menyimpan kertas itu. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Apakah dia harus menerima Revan?
"Airin, melamun aja!" Ayla masuk ke dalam kamar Airin dan mengejutkan adiknya yang sedang melamun.
"Kak Ayla ngapain ke kamar aku? Aku mau tidur."
Ayla justru naik ke atas ranjang adiknya dan tidur di sebelahnya. "Aku tahu kamu gak bisa tidur karena mikirin Revan."
Airin hanya terdiam. Iya, dia memang sedang memikirkan Revan.
"Kamu cinta gak sama Revan? Kalau cinta ya udah terima aja, gak usah mikirin perasaan Della, kan Della juga udah tenang di sana. Atau kamu juga mikirin perasaan Azka?"
Terkadang kakaknya yang jahil itu memang bisa diajak curhat. "Iya."
"Sulit sih emang. Azka juga punya perasaan sama kamu, dia juga udah jadi sahabat kamu sejak lama. Hmm, gimana kalau kamu jalan aja sama dua-duanya." Ayla tertawa saat mengajarkan hal yang buruk pada adiknya.
"Ih, gak bisa gitu Kak." Airin terdiam beberapa saat lalu dia melanjutkan kalimatnya. "Hmm, iya sih sebenarnya aku suka sama Revan."
"Nah, nunggu apalagi. Jadian gih, ntar kamu nyesel loh kalau Revan menjauh. Kalau soal Azka pasti dia bisa menerima, kan cinta gak bisa dipaksa."
"Tapi aku udah terlanjur diemin Revan."
"Dasar, gengsi amat." Ayla mengambil guling milik Airin lalu memeluknya.
"Kak, itu guling aku."
"Kamu kan udah ada yang bisa kamu peluk dalam mimpi, sedangkan aku gak ada. Mengenaskan ternyata Pak Aslan udah nikah sama Fara." cerita Ayla.
"Loh, Kak kan masih sekolah."
__ADS_1
"Aduh, kalau Pak Aslan punya banyak uang urusan surat-suratnya sih gampang. Lagian kita kan udah 18 tahun, bentar lagi kita juga lulus sekolah. Makanya mumpung cinta kamu dibalas gitu terima aja. Nanti kamu bakal nyesel kalau udah ditinggalin." Setelah itu Ayla mulai memejamkan matanya.
Airin menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Dia masih saja memikirkan Revan.
...***...
Pagi hari itu, Airin berjalan sendiri di koridor kelas setelah sampai di sekolah.
"Ai!" panggil Azka sambil berlari mengejarnya. Azka menarik tangan Airin agar mengikutinya ke lorong samping kelas. Dia ingin berbicara serius agar tidak ada teman lain yang mendengarnya.
Tidak tahukah mereka sepasang mata sedang mengintai?
"Ai, aku dapat satu info penting tentang Siska."
"Apa?" tanya Airin sambil menatap Azka.
"Aku kemarin nganterin Siska pulang." Azka semakin memelankan suaranya. "Ternyata benar, Siska dipengaruhi energi negatif. Dia dirasuki ibunya sendiri dan ingin mendekatkan Siska dengan Ayahnya."
"Ayahnya? Siapa?"
Airin mengernyitkan dahinya, meski sebenarnya dia bingung dengan perkataan Azka tapi Airin mengiyakan ajakan Azka. "Oke." Kemudian mereka berdua keluar dari lorong kelas.
Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Revan. Revan hanya menatap Airin lalu melangkahkan kakinya pergi mendahului mereka.
Airin hanya menatap punggung Revan yang menjauh. Dia juga tidak bisa memulai pembicaraan.
"Kenapa kamu sama Revan? Berantem gara-gara masalah kemarin?" tanya Azka.
Airin hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak mungkin bercerita pada Azka bahwa Revan sudah mengungkapkan perasaannya. Dia kini masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya.
Revan hanya terdiam, begitu juga dengan Airin.
Anggap saja aku adalah Revan yang dingin seperti dulu, yang tidak pernah bicara denganmu...
__ADS_1
Airin menghela napas panjang saat mengingat isi surat Revan. Dia tidak ingin seperti ini, tapi bagaimana caranya memulai pembicaraan dengan Revan?
"Revan," Siska mendekati Revan dan berdiri membungkuk di dekat meja Revan. "Ajarin aku PR Matematika yang ini dong. Aku gak bisa."
"Oke, aku ajari mumpung masih ada waktu 15 menit sebelum jam masuk." Revan menarik kursi yang kosong agar Siska duduk di sebelahnya.
Airin menghela napas panjang. Dadanya semakin terasa sesak. Akhirnya dia mengambil tasnya dan pindah tempat duduk di tempatnya Melodi. "Mel, aku duduk sini ya."
"Loh, Ai." Melodi berdiri dan membiarkan Airin duduk di bangkunya. "Kamu jealous sama Siska?" tanya Melodi sambil berbisik.
Airin menggelengkan kepalanya. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa perasaannya bisa berantakan seperti ini.
"Ya udah, gak papa. Biar aku duduk di sana." Melodi akhirnya berpindah ke tempat duduk Airin yang berada di depan Revan.
Airin menghela napas panjang. Dadanya terasa semakin sesak saat Revan dekat dengan Siska. Meski dia tahu itu bukan keinginan Revan tapi tidakkah ada Airin di hati Revan agar Revan tidak terpengaruh oleh Siska?
Ujung mata Revan melirik Airin yang sedang menundukkan wajahnya. Apa hubungannya dan Airin akan berakhir seperti ini?
Revan, Revan, tatap aku! Ternyata Revan sama sekali tidak bisa dipengaruhi.
Siska tersenyum miring lalu menyentuh tangan Revan, tapi dengan cepat Revan menarik tangannya.
"Aku mau ke toilet." Revan berdiri dan berjalan keluar dari kelas.
Ternyata sedang patah hati. Apa mau aku sembuhkan?
Tiba-tiba saja tubuh Siska melemas.
"Siska kamu kenapa?"
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...