Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Aura Pemikat


__ADS_3

"Kalian ngapain di sini?" tanya Pak Satya pada Airin dan Melodi yang berdiri di dekat pintu.


"Eh, itu Pak, kita mau melihat kondisi Siska," jawab Melodi.


"Ya sudah, sebentar saja. Pelajaran olahraga masih belum selesai. Setelah itu kalian kembali ke lapangan."


"Baik, Pak."


Kemudian Airin dan Melodi masuk ke dalam UKS dengan terpaksa.


"Siska gimana keadaan kamu? Masih sakit?" tanya Airin sambil duduk di samping Siska.


"Sudah gak sakit kok," jawab Siska. "Hmm, Ai, kamu sebenarnya pacar Revan atau Azka?" tanya Siska sambil menatap Airin.


Airin menggelengkan kepalanya. "Kita semua cuma teman."


"Oo, soalnya mereka perhatian sekali sama kamu. Takutnya nanti kamu salah paham."


Airin hanya tersenyum kaku. Kali ini dia merasa jika Siska itu bermuka dua. Sebenarnya makhluk seperti apa yang merasuki Siska?


"Ya sudah, kita mau kembali ke lapangan dulu ya. Kalau kamu masih sakit kamu istirahat aja." Airin menepuk bahu Siska. Tiba-tiba sebuah bayangan melintas di kepalanya.


"Aku cinta kamu..."


"Aku juga cinta sama kamu..."


Sepasang remaja yang memakai seragam putih abu-abu itu bercumbu mesra di dalam UKS. Tapi wajah mereka tidak terlihat jelas. Mereka siapa?


Seketika Airin turun dari brangkar. Dia menarik tangan Melodi keluar dari UKS.


"Kenapa, Ai?" tanya Melodi sambil menatap bingung Airin.


"Ada yang gak beres. Sepertinya raga Siska dikuasai oleh makhluk halus," bisik Airin sambil berjalan menuju lapangan.


"Hah? Yang bener?"


"Iya, tadi aku dapat bayangan ada sepasang kekasih yang sedang bercumbu di UKS itu." Airin berusaha mengingat bayangannya. "Sepertinya udah lama banget. Model seragam dan dasinya beda dengan kita. Sayang sekali, aku juga gak bisa lihat wajahnya dengan jelas."


Melodi kini juga ikut berpikir. "Jadi Siska kerasukan?"


"Maybe. Aku gak tahu motifnya apa. Ya, semoga saja dia gak mengganggu kita." Airin dan Melodi kini kembali bergabung dengan teman-temannya di lapangan.


"Ai, gimana keadaan Siska? Aku merasa bersalah karena kena lemparan bolaku dia pingsan," tanya Azka.


"Gak papa, dia udah sadar kok," jawab Airin.


"Ya udah, nanti biar aku minta maaf."


Airin hanya mengernyitkan dahinya. Lagi-lagi dia teringat mimpinya semalam. Apakah Revan dan Azka akan menjauhinya?


...***...


Saat istirahat akan usai, Azka masuk ke dalam kelas lalu meletakkan satu gelas plastik es coklat di atas meja Siska. "Sorry, soal tadi," kata Azka sambil menarik kursi dan duduk di dekatnya.

__ADS_1


"Iya gak papa. Aku aja yang terlalu lemah. Kena bola sedikit langsung pingsan," kata Siska sambil tersenyum.


Azka menggeser minuman itu agar diminum Siska. "Buat kamu."


"Iya, makasih." Kemudian Siska menusuk tutup es coklat itu dengan sedotan dan mulai meminumnya.


Beberapa saat kemudian, Airin dan Melodi masuk ke dalam kelas. Mereka menatap Azka yang sedang mengobrol dengan Siska. Bahkan obrolan mereka terlihat sangat seru. Sesekali terdengar tawa Azka dan juga Siska.


Melodi beberapa kali menyenggol lengan Airin.


"Udah biarin aja," bisik Airin lalu dia duduk di bangkunya.


"Jadi lo udah bosan kejar Airin, makanya sekarang deketin Siska. Gue kira lo itu tulus, ternyata lo sama aja cuma mandang fisik!" kata Ria dengan keras.


Seketika Azka berdiri. Dia kembali ke tempat duduknya yang berada di dekat Airin. Dia garuk tengkuk lehernya seolah dia baru tersadar dengan apa yang dia lakukan.


Aku ngapain deketin Siska ya? Sudah dua kali dalam sehari ini aku merasa aneh.


"Kenapa?" tanya Airin dan menyadarkan lamunan Azka.


"Eh, gak papa." Azka mengeluarkan bukunya untuk mempersiapkan mata pelajaran selanjutnya.


"Ai, nanti kita belajar bareng di perpustakaan aja ya," kata Revan sambil menepuk bahu Airin.


"Hmm, iya." Airin menganggukkan kepalanya. Dia kini juga mengeluarkan buku pelajarannya. Tapi ketika dia membuka buku tulisnya, buku itu penuh dengan coretan.


Jangan sok cantik!


Mereka tidak akan mau dekat dengan lo lagi!


Mereka akan menjauh dari lo!


Dan masih banyak lagi ancaman-ancaman di dalam buku itu.


Seketika Airin merobek tulis-tulisan itu.


"Ai, kenapa?" Azka, menahan tangan Airin yang terus merobek bukunya.


Kali ini, emosi Airin terpancing. Dia tidak pernah mengusik siapapun, mengapa hidupnya selalu diusik seperti ini. Dia tak peduli jika memang dia makhluk tak kasat mata sekalipun, kali ini dia akan melawannya.


Airin membawa bukunya lalu berjalan mendekati Siska. Dia menarik kasar buku tulis Siska. Tidak salah lagi, tulisan Siska sama persis dengan tulisan yang ada di bukunya.


"Maksud kamu apa!"


Mendengar suara keras Airin seketika semua teman sekelasnya menatap Airin. Airin yang terkenal kalem dan lembut ternyata dia bisa membentak dan marah.


"Kenapa?" tanya Siska dengan santai.


"Ini tulisan lo kan!" Airin menaruh bukunya dengan kasar di atas meja.


Siska hanya terdiam dan menatapnya santai.


"Aku gak nyangka kamu itu hanya baik di depan tapi busuk di belakang. Kalau kamu memang suka sama Revan ataupun Azka, silakan deketi mereka, gak usah bawa-bawa aku!"

__ADS_1


Siska berdiri sambil tersenyum miring. "Playing victim banget."


"Kamu yang playing victim!" Airin menjambak rambut Siska lalu memelankan suaranya. "Kamu jangan mempengaruhi Siska! Kamu keluar dari tubuh Siska!"


Siska hanya berpura-pura lemah dan kesakitan tanpa melawan.


"Ai, udah." Azka dan Revan melerai mereka dan menahan Airin agar tidak menyerang lagi.


Airin menghela napas panjang agar emosinya mereda. Baru kali ini dia tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Kenapa?" tanya Azka.


"Dia..." Belum selesai Airin berkata tapi Siska sudah memotongnya.


"Aku gak ngapa-ngapain. Airin yang tiba-tiba nyerang aku. Mungkin Airin gak suka lihat aku dekat dengan kalian berdua."


Airin kembali mendorong Siska hingga dia terjatuh. Dia sangat emosi mendengar perkataan Siska.


"Airin, udah! Kamu jangan kasar!" bentak Azka.


Seketika Airin menatap Azka. Ekspresi dan tatapan mata Azka berubah.


"Ada apa ini?" tanya Pak Heru yang baru saja masuk ke dalam kelas.


"Airin, dorong saya, Pak." Siska berdiri dan berpura-pura kesakitan.


"Apaan sih!" Airin semakin mengernyitkan dahinya.


"Benar itu Airin?" tanya Pak Heru untuk memastikannya.


"Iya, benar Pak. Airin yang mendorong Siska," kata Revan yang justru membela Siska.


Airin membulatkan matanya. Ada satu goresan luka di hatinya mendengar pembelaan itu dari Revan dan Revan justru menyalahkannya.


"Airin, kamu tidak boleh kasar dengan teman kamu. Apalagi dia murid baru di sini. Bapak akan beri hukuman pada kamu. Bersihkan toilet perempuan sampai bersih! Sekarang!"


Airin kini keluar dari kelas tanpa permisi. Aura pemikat Siska benar-benar kuat. Sudah dipastikan tidak akan ada yang membelanya saat itu.


"Loh, Airin!" Azka akan melangkahkan kakinya keluar dari kelas tapi terhenti karena larangan Pak Heru.


"Azka mau kemana? Kembali duduk!"


Akhirnya Azka kembali duduk di tempatnya. Dia benar-benar merasa aneh. Bisa-bisanya tadi dia membentak Airin.


Begitu juga dengan Revan. Antara sadar dan tidak sadar dia menyalahkan Airin.


Sebenarnya apa yang terjadi dengan aku?


💕💕💕


.


Like dan komen ya ..

__ADS_1


__ADS_2