Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Masa Lalu Satya dan Lisna


__ADS_3

Sore hari itu, kala hujan turun dengan derasnya. Satya yang baru selesai bermain basket, dia langsung menuju UKS karena lututnya terasa sakit setelah terjatuh. Tentu saja dia ditemani Lisna, gadis yang berstatus pacarnya sejak satu tahun ini.


"Ini memar loh," kata Lisna sambil mengoles lutut Satya dengan minyak urut.


"Gak papa. Aku udah biasa. Nanti juga sembuh."


Setelah selesai mengoles, Lisna mengembalikan minyak itu pada tempatnya. Tiba-tiba petir menggelegar dengan keras. Seketika lampu pun padam.


"Satya!" Lisna berlari dan memeluk Satya dengan erat. "Kok lampunya mati."


"Kayaknya ada pemadaman karena hujannya deras banget. Kita nunggu reda dulu ya, lalu kita pulang."


"Ya udah, ayo keluar." Lisna melepaskan pelukannya tapi Satya justru menariknya hingga mereka berdua duduk dilantai di belakang pintu yang tertutup rapat.


Satya semakin memeluk Lisna dan mencium bibirnya. Awalnya ciuman itu lembut tapi semakin lama semakin menuntut. Hawa dingin dari hujan yang deras itu seketika berubah menjadi panas. Napas mereka semakin memburu. Bahkan satu tangan Satya telah berani menyusuri punggung Lisna.


"Lis, aku cinta sama kamu," kata Satya saat melepas ciumannya.


"Aku juga cinta sama kamu."


Satya kembali melabuhkan ciumannya. Tanpa sadar, Lisna kini sudah berada dalam kungkungan Satya. Perlahan tangan Satya melepas satu per satu kancing seragam Lisna.


"Sat, jangan. Kita masih kelas dua SMA."


"Gak akan terjadi apa-apa. Kalaupun iya, aku akan tanggung jawab sama kamu."


Tatapan Satya di bawah sinar temaram itu seolah menghipnotis Lisna. Lisna begitu terbuai dengan sentuhan jemari Satya hingga membuat suara de sah tertahan di bibirnya. Napas mereka semakin berat, bahkan sentuhan jemari Satya sudah berubah menjadi kecupan-kecupan hangat di sekujur tubuhnya.


Lisna kembali menahan tangan Satya saat Satya akan membuka celana pendeknya. "Mau apa?"


"Sekali ini saja, aku ingin merasakannya sama kamu." bujuk rayu Satya lebih ampuh daripada pendirian Lisna, hingga membuatnya pasrah dengan setiap sentuhan Satya.


Suara rintih tertahan itu memenuhi ruang UKS yang gelap. Keringat telah membasahi tubuh mereka berdua. Hari itu adalah awal kehancuran hidup Lisna.

__ADS_1


Satu bulan telah berlalu, Satya dan keluarganya tiba-tiba pindah ke Singapura. Karena terlalu Ayahnya dipindah tugaskan terlalu mendadak, Satya tidak ada waktu untuk memberi kabar pada Lisna. Minimnya alat komunikasi waktu itu membuat Satya sulit menghubungi Lisna.


Setelah tiga tahun berlalu, dia kembali lalu mencari Lisna tapi dia justru diusir oleh ibunya Lisna dan bilang jika Lisna merantau jauh.


Cekikan di lehernya kini menyadarkan Satya dari lamunannya.


"Kamu gak tahu bagaimana menderitanya aku setelah kamu meninggalkanku. Aku sendiri menahan malu dari hinaan orang lain. Hamil di luar nikah tanpa ada yang bertanggung jawab. Aku berusaha bertahan sampai anak ini lahir. Tapi aku gak sanggup mengurusnya karena hinaan dari orang lain semakin menjadi, bahkan aku dan ibu hampir saja diusir dari kampung. Seandainya aku tidak mengakhiri hidup aku, pasti mereka tidak akan menerima ibu dan Siska dimanapun berada." Siska yang berada dibawah pengaruh Lisna terus mencekik leher Satya. Tatapannya penuh amarah dan kepedihan.


Mata Satya memerah. Bahkan air mata itu tanpa sadar telah membasahi pipinya. "Lisna, kamu boleh mengakhiri hidup aku karena aku memang sudah tidak pantas hidup di dunia ini setelah semua yang aku lakukan sama kamu. Aku memang pria ba ji ngan yang pergi begitu saja meninggalkan kamu tanpa tahu keadaan kamu."


"Siska berhenti!!" Airin dan Revan masuk ke dalam ruangan itu karena melihat Siska yang sudah hilang kendali.


Revan dan Airin berusaha melepas tangan Siska tapi tangan Siska sangat kuat.


"Siska! Eh, maksud aku Ibu, lepaskan Pak Satya. Biarkan Pak Satya merawat Siska, pasti Siska ingin merasakan kasih sayang seorang Ayah juga. Pasti Siska sangat bahagia bisa hidup bersama dengan Ayahnya." kata Airin.


Seketika Siska melepaskan tangannya, dia kini menangis.


Satya terbatuk lalu menghirup udara dalam-dalam karena napasnya sempat terhenti. "Lisna, sampai sekarang tidak ada yang bisa menggantikan kamu. Aku belum menikah karena aku masih sangat mengharapkan kamu." Lutut Satya melemas, dia terjatuh dan duduk di lantai.


"Pasti! Aku pasti akan menjaga anak kita. Selamanya, di sisa hidup aku, aku akan selalu menyayanginya."


Siska terduduk lalu dia memeluk Satya. "Selamat tinggal Satya. Aku akan selalu mencintaimu..."


"Aku juga selalu mencintai kamu..." Satya semakin menangis tersedu. Dia memeluk erat tubuh Siska yang kini melemas. Dia tidak menyangka, dia sudah memiliki seorang putri yang sekarang sudah berumur 17 tahun.


Airin merasa tersentuh, pipinya kini telah basah karena air mata.


"Kok nangis?" Revan mengambil selembar tisu yang ada di atas meja lalu menyusut air mata Airin.


"Penyesalan memang selalu ada di akhir. Satu pesan buat kalian berdua, jika memang kalian saling mencintai, jangan merusak cinta itu dengan kesalahan seperti saya, jangan melakukan perbuatan di luar batas. Karena jika sudah seperti ini, semua sudah tidak bisa diulangi dan diperbaiki lagi." Satya mengusap air matanya lalu dia usap puncak kepala Siska. "Selama 17 tahun, Siska tidak pernah merasakan kasih sayang aku. Betapa berdosanya aku selama ini."


Beberapa saat kemudian Siska tersadar. "Pak Satya..." Dia berusaha melepas tangan Pak Satya.

__ADS_1


"Siska, ini Ayah..."


"Ayah?" Siska menatap Pak Satya bingung.


"Iya, ini Ayah. Maafkan Ayah, selama ini Ayah tidak tahu jika kamu putri Ayah bahkan Ayah sama sekali tidak tahu kehadiran kamu."


"Pak Satya beneran Ayah Siska?" tanya Siska memastikan lagi.


"Iya, mulai sekarang Ayah akan selalu menjaga dan melindungi kamu."


Siska kembali memeluk Pak Satya. "Ayah." Dia kini bisa merasakan hangatnya pelukan dari seorang Ayah.


Airin masih saja terharu. Kemudian dia keluar dari ruangan Pak Satya bersama Revan.


"Udah, jangan nangis."


Airin mengusap air matanya asal. "Iya, aku terharu banget."


Langkah mereka terhenti saat ada Azka yang menghadang mereka. "Ai, kamu kenapa nangis?" Tatapan mata Azka kini beralih pada Revan. "Lo yang buat Airin sedih!" Kemudian Azka menyergap kerah jaket Revan.


"Azka, ini bukan salah Revan. Aku nangis karena terharu lihat Siska yang akhirnya menemukan Ayahnya."


"Jadi, Pak Satya dan Siska sudah tahu?" Azka melepaskan sergapannya pada Revan.


Airin menganggukkan kepalanya. "Untunglah mereka akhirnya bahagia dan ibunya Siska juga sudah tenang di alam sana."


"Ya, syukurlah."


Setelah itu Airin dan Revan pergi meninggalkan tempat latihan basket.


Azka hanya menatap nanar kepergian Airin dan Revan. Rasa cemburu itu semakin membakar hatinya. Dia merasa tidak dibutuhkan lagi. Lalu untuk apa lagi dia berada di dekat Airin?


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya..


__ADS_2