
"Ai, kamu yang mengusulkan ke Bu Sonya agar aku ikut olimpiade itu?" tanya Azka saat pelajaran terakhir telah usai.
Airin hanya menggeleng kecil. "Kamu memang pantas ikut olimpiade itu. Tunjukkan pada Ayah kamu kalau kamu memang bisa."
Azka tersenyum sambil menatap Airin. Gadis yang ada di depannya itu selalu membuatnya terpesona dan kagum.
"Kita belajar bareng di perpustakaan aja yuk. Anak Fisika dan Geografi juga belajar di sana," ajak Revan.
"Oke." Kemudian Airin mengemasi barang-barangnya.
Sedangkan Azka kini berjalan mendahului mereka berdua.
Airin dan Revan masih saja saling lirik dan tersenyum. Mereka kini berjalan berjajar sambil sesekali kedua tangan mereka saling bersentuhan kecil.
Setelah sampai di perpustakaan, mereka bertiga duduk dalam satu meja. Ada Bu Sonya yang membimbing mereka belajar. Azka dan Revan tidak kesulitan dalam menerima materi. Mereka sudah jago dan mungkin tanpa belajar mereka sudah bisa mengerjakan semua soal itu. Sedangkan Airin beberapa kali dia menggaruk tengkuk lehernya tak mengerti.
Revan mengulang penjelasan yang lebih simple pada Airin tapi bukannya mengerti, pipi Airin semakin bersemu merah. Apalagi saat diam-diam mereka saling menatap.
Azka hanya terdiam sambil menopang kepalanya. Dia membuka asal buku-buku paket Matematika. Rasanya dia seperti obat nyamuk jika berada di posisi sekarang. Tiba-tiba dia menemukan sebuah surat di selipan buku tebal itu kemudian dia membukanya.
To My Beloved Arka.
Aku mengerti kamu masih fokus dengan olimpiade. Oke, i'll wait for you. Nanti setelah kita lulus, kita lanjutkan cerita cinta kita.
"Fani? Fani kan teman Kak Arka waktu SMA dulu. Jadi sebenarnya mereka ada hubungan spesial." gumam Azka pelan. Dia kini membolak-balik buku matematika lama itu.
Pandangan mata Airin yang awalnya tertuju pada Revan, kini beralih menatap Azka. Dia membulatkan matanya saat sosok Arka muncul lagi di dekat Azka.
"Kenapa?" tanya Revan sambil menoleh arah pandangan Airin.
"Aku belum baca surat itu. Apakah Fani masih menungguku?"
__ADS_1
Airin mengernyitkan dahinya mendengar suara itu. Dia kini berdiri dan mendekati Azka. Dia ambil surat yang ada di genggaman Azka, barulah dia mengerti apa maksud perkataan Arka.
"Fani, pacar kakak kamu?"
Azka menggelengkan kepalanya. "Dulu Kak Arka memang punya teman dekat, tapi aku gak tahu kalau mereka pacaran."
"Bilang sama Azka, bongkar kardus yang ada di atas lemari kamarnya. Ada sebuah barang yang belum sempat aku berikan ke Fani."
"Azka, ada kakak kamu," bisik Airin.
Seketika Azka menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan kakaknya meski dia tahu, dia tidak mungkin bisa melihatnya.
"Kata kakak kamu, kamu suruh bongkar kardus yang ada di atas lemari. Ada barang yang belum sempat dia kasihkan ke Fani."
"Baik Kak, aku akan kasihkan ke Fani." Azka mengemasi buku-buku yang ada di atas meja lalu dia beralih ke rak yang bersisi buku kenangan murid dari tahun ke tahun. Dia mencari buku kenangan lulusan tahun kakaknya. Ada tujuh buku dari tujuh kelas.
"Van, aku bantu Azka dulu ya." Airin melangkahkan kakinya mendekati Azka.
Airin berjongkok dan membantu Azka mencari nama Fani di buku itu.
"Azka, Fani yang ini?" tanya Airin sambil menunjukkan biodata Fani pada Azka.
"Iya, seingat aku dia yang pernah Kak Arka ajak ke rumah." Azka mengambil ponselnya lalu memotret biodata lengkap Fani. "Biar aku cari barang apa yang akan diberikan ke Fani. Makasih ya. Kamu sudah banyak membantu aku." Satu usapan kecil mendarat di puncak kepala Airin. Satu hal yang seringkali Azka lakukan ketika dia berterima kasih atau sedang bahagia bersama Airin.
Kenapa rasanya aku masih saja cemburu seperti ini? Memang hati tak bisa dibohongi.
"Kamu dijemput kan? Aku duluan ya." Azka bergegas keluar dari UKS. Sepertinya Azka sangat bersemangat membantu Kakaknya.
Airin menganggukkan kepalanua lalu dia mengembalikan buku-buku itu pada tempatnya. Revan kini berdiri di belakang Airin dengan satu tangan yang memegang rak buku.
"Eh, hmm, Van." Berada sedekat itu jelaslah membuat dada Airin berdebar tak karuan. Dia membalikkan badannya tapi posisinya semakin membuat salah tingkah. Kedua tangan Revan justru menapak pada rak buku hingga membuat Airin tak bisa berkutik.
__ADS_1
"Van, nanti ada yang lihat."
Revan hanya tersenyum kecil. "Aku boleh jujur gak sama kamu."
"Iya, apa?"
"Jujur, dari dulu sampai sekarang setiap kamu dekat dengan Azka, aku selalu cemburu."
Airin tersenyum kecil lalu menyingkirkan satu tangan Revan agar dia lepas dari penjara tangan itu tapi Revan justru menahan lengannya.
"Aku dan Azka hanya sahabat. Aku gak ada perasaan apa-apa sama Azka."
"Iya, aku mengerti. Aku akan berusaha menerima persahabatan kamu." Tangan Revan kini beralih menggenggam tangan Airin. "Kamu dijemput gak?"
"Hmm, hari ini aja deh, pulang sama kamu ya."
"Oke, tapi nanti kalau Ayah kamu marah lagi?"
Airin nampak berpikir lalu dia mengambil ponselnya dan bilang jika akan pulang dengan Revan. "Iya, kamu benar sih. Lebih baik memang jujur sama Ayah. Nih, aku udah bilang kalau pulang sama kamu."
Setelah memakai tasnya, mereka keluar dari perpustakaan dan berjalan berdua menuju tempat parkir.
Setelah menaiki motor, Revan segera melajukan motornya meninggalkan tempat parkir sekolah. Seperti biasa Revan selalu menarik tangan Airin agar berpegangan di pinggangnya.
Kali ini Airin memeluk Revan dari belakang tanpa ragu lagi. Beberapa kali Revan mengusap tangan Airin yang ada di perutnya. Untuk sesaat, mereka menikmati masa indah remaja mereka.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1