Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Kepulangan Azka


__ADS_3

Setelah sampai di depan rumah Azka, Airin mendorong kursi roda Azka masuk ke dalam rumahnya. Di dalam rumah Azka sudah ada beberapa teman-teman yang menyambut kedatangan Azka.


"Selamat datang di rumah," teriak Tomi. "Sorry gue gak jenguk lo di rumah sakit."


Azka tersenyum mendapat sambutan dari teman-temannya. "Makasih. Kalian udah datang ke rumah gue."


Mereka semua kini berkumpul di ruang tamu rumah Azka dengan berbagai makanan yang mereka bawa.


"Ai, kalau kamu masih lama Ayah pulang dulu. Ayah ada janji sama pelanggan." kata Alvin yang kini menghampiri putrinya.


"Iya, Ayah. Nanti biar Airin pulang sendiri saja."


"Nanti aku anterin, Ai." kata Melodi yang baru datang bersama Papanya dan ikut membantu membawa barang bawaan Azka dari rumah sakit.


"Ya udah, Ayah pulang dulu." kata Alvin lalu dia keluar bersama Papanya Melodi.


"Kita makan-makan dulu. Wah, ini ada menu spesial dari kafenya Airin." kata Tomi dan Riki yang kini mulai menyantap hidangan yang tersaji.


Kemudian Melodi duduk di sebelah Airin yang sedang mengobrol dengan Azka. "Ka, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Kan rumah kita dekat. Papa juga senang bisa bantu."


"Iya, kamu dan Papa kamu juga sudah banyak bantu aku dan Ibu."


"Sebagai tetangga dan sahabat kita juga harus saling membantu."


Azka sangat bersyukur memiliki sahabat yang baik seperti mereka. "Revan berangkat sekarang, Ai?" tanya Azka sambil menatap Airin yang sedang berbalas pesan dengan Revan.


"Iya, satu jam lagi pesawatnya berangkat."


"Semoga saja dia menang." Meski Azka menyimpan rapi kesedihannya tapi masih terlihat dari sorot matanya.


Airin mengusap bahu Azka, dia tahu pasti Azka kecewa tidak bisa mengikuti olimpiade itu. "Nanti pasti ada kesempatan buat kamu. Kamu harus tetap semangat."

__ADS_1


Azka menganggukkan kepalanya. Ya, dia memang harus tetap semangat menjalani hidupnya. Dia tidak boleh menyerah, masih ada kesempatan meski harus menunggu waktu yang tidak sebentar.


Beberapa saat kemudian ada Ayah Azka yang masuk ke dalam rumah. Dia hanya melewati Azka dan teman-temannya tanpa berkata apapun.


Azka menghela napas panjang. Ingin rasanya dia tidak melihat Ayahnya saat ini, tapi bagaimana bisa. Rumah yang dia tumpangi itu milik Ayahnya.


Semua teman Azka tak berani bertanya tentang Ayahnya. Apalagi melihat raut wajah Azka yang masam.


Beberapa saat kemudian, Ayah Azka kembali keluar dengan membawa tas. Dia masih tetap tidak bertanya apapun pada Azka. Sampai dia pergi dengan motornya.


"Maaf ya, Ayah memang seperti itu." Azka menundukkan pandangannya lalu dia berusaha memutar kursi rodanya tapi kesulitan.


"Mau kemana? Aku bantu." Airin berdiri dan membenarkan posisi roda agar kursi roda itu bisa berbelok.


"Aku mau ke kamar. Biar dibantu Ibu saja."


"Ibu kamu masih di dapur. Ayo, aku bantu." Airin mendorong kursi roda Azka sampai masuk ke dalam kamar Azka. "Kamu butuh apa, aku ambilkan."


Azka tak menjawab. Dia semakin menundukkan pandangannya dan menangis terisak.


"Kamu keluar Ai, aku gak mau terlihat cengeng di depan kamu."


Airin mengulurkan tangannya dan menghapus air mata Azka yang menetes di pipinya. "Aku ngerti apa yang kamu rasakan. Kamu pasti sedih dengan Ayah kamu. Gak papa, kamu luapkan kesedihan kamu agar rasa sesak di hati kamu berkurang."


"Ayah sama sekali tidak peduli sama aku. Bahkan tanya keadaanku saja tidak." Azka menyusut air matanya agar berhenti mengalir. "Padahal aku punya Ayah tapi rasanya aku seperti tidak punya Ayah."


Seketika Airin memeluk Azka. Hatinya berkabut mendengar keluh kesah Azka. Di saat Azka sedang terpuruk seperti ini pasti dia sangat butuh banyak dukungan terutama dari kedua orang tuanya.


"Kamu cowok yang kuat. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua. Semoga suatu saat nanti Ayah kamu sadar dan bisa menyayangi kamu."


Azka mengeratkan pelukannya pada Airin. Pelukan Airin selalu berhasil membuat perasaannya lebih tenang. "Makasih, kamu selalu ada di saat aku terpuruk."

__ADS_1


"Sama-sama, kamu juga sudah banyak menolongku." Airin melepas pelukannya dan menghapus sisa-sisa air mata di pipi Azka. "Jangan sedih lagi, masih banyak yang sayang sama kamu."


Perlahan Azka memegang tangan Airin yang ada di pipinya. "Ai, apa sampai nanti kita masih bisa sedekat ini?" tanya Azka. Dia tahu, entah berapa tahun lagi Airin pasti akan menjadi milik Revan sepenuhnya.


Airin tak menjawabnya.


"Aku tahu kamu milik Revan, setelah aku sembuh Revan tidak akan membiarkanmu dekat dengan aku lagi."


Airin tidak tahu harus berkata apa karena memang begitulah adanya.


"Ai, aku sayang sama kamu. Rasa cintaku sama kamu tidak bisa hilang, dan semakin bertambah seiring berjalannya waktu."


"Tapi Azka, aku..."


"Iya, aku tahu kamu milik Revan," potong Azka. "Aku gak berharap memiliki kamu. Biarkan saja cinta ini tersimpan di hati aku."


Airin hanya mampu menatap Azka. Dia sudah lama berteman dengan Azka, tapi dari dulu dia tidak punya perasaan apapun pada Azka. Dia justru jatuh cinta dengan Revan dan ternyata cintanya dibalas oleh Revan.


"Sorry, aku gak bermaksud mengungkit perasaan. Lupakan apa yang aku katakan barusan. Kita keluar, kumpul lagi sama teman-teman."


Airin membantu Azka keluar dari kamarnya. Mereka kembali bergabung dengan teman-temannya. Perasaan Azka sudah sedikit membaik.


"Kalian makan dulu seadanya," suruh ibunya Azka. "Azka, ayo kita makan dulu."


Azka mengangguk. Kemudian mereka makan bersama sambil sesekali bercanda.


Sesekali Azka melirik Airin dari samping. Andai saja aku bisa memilikimu walaupun hanya sebentar pasti aku akan sangat bahagia.


.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya....


__ADS_2