
Setelah dua keluarga bertemu, mereka memutuskan untuk mempercepat hari pernikahan mereka dua minggu lagi pernikahan mereka akan digelar dengan mewah di hotel pilihan keluarga Revan.
Hanya rentan waktu dua minggu itu mereka akan menyiapkan semuanya. Tentu saja semua akan selesai tepat waktu dengan bantuan anak buah keluarga Revan.
"Ai, kita fitting baju ya. Setelah itu kita jalan-jalan sebentar." kata Revan saat mengendarai mobilnya. Dia memang sengaja meluangkan waktu sehari bersama Airin. Dia akan fitting baju dan membelikan Airin cincin pernikahan, karena kali ini momen spesial dia ingin memilihnya bersama Airin.
Mereka menuju kawasan mall yang elit karena butik dan toko perhiasan yang Revan pilih berada di mall itu. Setelah memarkir mobil, Revan dan Airin masuk ke dalam mall. Pengunjung mall itu tidak terlalu ramai karena hanya dari golongan menengah ke atas saja yang mengunjungi mall itu.
Revan kini masuk ke sebuah butik. Dia memang sudah mengenal pemilik butik itu karena butik itu adalah langganan keluarganya.
Airin mencoba beberapa gaun pengantin. Semua gaun yang Airin coba terlihat bagus dan Airin sangat terlihat cantik sampai mereka bingung memilih model yang mana.
"Perempuannya cantik, jadi semua terlihat cantik saat dipakai. Begini saja, saya buatkan edisi spesial untuk kalian berdua. Dijamin limited edition."
"Dalam waktu dua minggu apa sudah selesai?" tanya Revan memastikan.
"Kami akan menyelesaikannya dalam waktu satu minggu. Setelah jadi silakan dilihat terlebih dahulu agar kami ada waktu untuk merevisi."
"Baik, terima kasih."
Setelah menyelesaikan urusan di butik, mereka berdua kini menuju toko perhiasan. Mereka berdua disambut dengan hangat oleh karyawan toko itu. Revan berhenti di deretan cincin diamond.
"Van, ini berlian kita ke..."
Revan menahan tangan Airin. Tentu saja dia akan membelikan sebuah cincin yang spesial untuk pernikahan mereka. "Diamond couple rings ada?"
Karyawan itu menunjukkan beberapa couple rings.
"Kamu mau yang silver atau gold?" tanya Revan.
"Aku mau yang silver saja. Ini simple dan cantik." Airin menunjuk sebuah cincin dengan satu mata yang berkilau.
"Oke, kalau kamu mau yang itu."
"Size berapa, Pak? Untuk ukiran nama dan tanggal free dari kami."
"Size 6 dan 9."
"Baik, Pak. Silakan tulis di kertas ini untuk nama dan tanggal pernikahannya. Bisa ditunggu."
Revan menulis nama mereka berdua dan tanggal pernikahan mereka. Setelah itu mereka duduk sambil menunggu kedua cincin itu diukir.
Airin menghela napas berulang kali karena dadanya terus berdebar tak karuan. Belum hari H tapi dia sudah panas dingin tak karuan.
__ADS_1
"Kenapa?" Revan mengenggam tangan Airin yang terasa dingin.
"Aku deg-deg an banget."
Revan justru tertawa. "Belum juga harinya, tangannya udah tremor gini. Semoga semua lancar ya. Aku sudah gak sabar ingin hidup sama kamu dan setiap hari bertemu kamu."
Pipi Airin semakin merona. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya bersama Revan setiap harinya.
Kemudian Revan mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga Airin. "Nanti kita lanjut adegan kita yang terlewat dulu."
"Ih." Airin mencubit pinggang Revan. Dia semakin tersipu malu.
Beberapa saat kemudian cincin mereka telah selesai. Setelah melakukan pembayaran mereka keluar dari toko perhiasan itu dan berjalan menuju restoran. Satu tangan Revan masih setia di pinggang Airin saat berjalan.
Mereka kini masuk ke dalam sebuah restoran dan duduk di meja dekat jendela.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Revan saat waitress memberikan menu makanan untuk Revan.
"Terserah kamu saja. Apa aja mau."
"Oke."
Selama Revan memesan makanan, Airin terus menatap kaca jendela. Tiba-tiba terdengar suara ledakan dan ada pantulan api di kaca jendela itu. Seketika Airin menutup telinganya.
Airin kini menatap Revan dan melihat sekeliling restoran. Tidak ada ledakan dan tidak ada api. Airin mengusap pelipisnya yang berkeringat lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa." Dia kini menundukkan pandangannya dan memikirkan apa yang dia lihat barusan. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.
"Kamu kenapa? Gak enak badan?" tanya Revan lagi sambil menggenggam tangan Airin.
Airin kini meluruskan pandangannya. Tiba-tiba dia melihat ledakan lalu api yang menyambar restoran itu. Semua orang panik dan terbakar. Airin menoleh ke belakang. Dia melihat ada satu keluarga yang di kelilingi asap hitam. Mereka semua menatap tajam ke arahnya dengan mata merahnya. Wajah mereka berubah menjadi hancur terkena luka bakar.
Airin kembali menundukkan pandangannya. "Gak mungkin."
"Kenapa? Bilang sama aku, apa yang kamu lihat."
Napas Airin tidak beraturan dia sangat ketakutan suara ledakan dan teriakan itu kembali terulang. "Nggak!" Akhirnya Airin berdiri dan berteriak. "Kalian semua keluar dari sini. Di sini ada bom yang akan meledak!"
Semua orang hanya menatapnya dan tertawa.
Revan kini berdiri dan berusaha menenangkan Airin. "Ai, kamu lihat apa?"
"Van, restoran ini akan meledak. Tolong bilang sama mereka semua agar keluar dari restoran ini." Airin menghampiri keluarga yang ada di belakangnya. "Kalian keluar dari sini, tempat ini akan meledak." Kemudian Airin berpindah ke meja lainnya.
Orang-orang semakin menganggapnya aneh dan memanggil satpam agar Airin diusir dari restoran.
__ADS_1
"Orang gila jangan makan di restoran."
"Jaga mulut kalian!" Revan menggenggam tangan Airin yang masih panik. "Dia sudah memperingatkan kalian semua, ingat itu!"
Kemudian satpam restoran itu mengusir mereka keluar.
"Cewek gila dipacari. Mana ada bom di sini."
Mereka semua masih menganggap Airin gila.
"Ai, sudah biarkan saja kalau mereka memang tidak percaya dengan kamu. Lebih baik kita keluar dari tempat ini."
"Tapi mereka semua akan mati, Van."
"Ai, tapi mereka hanya menganggap itu omong kosong. Lebih baik kita sekarang keluar dari sini." Revan merengkuh pinggang Airin agar Airin mau keluar dari mall.
Saat menaiki eskalator, Airin kembali menutup telinga dan matanya.
"Sayang, ada aku. Kamu tenang." Revan semakin mendekap tubuh Airin yang ketakutan.
"Akan ada ledakan lagi di lantai dasar." Airin mengusap pelipisnya yang berkeringat lalu dia melepas tangan Revan. Dia segera menghampiri orang-orang yang berada di lantai satu. Tapi tetap saja lagi-lagi satpam mengusirnya dan lebih kasar dari sebelumnya.
"Jangan buat berita hoax." Satpam itu mendorong Airin hingga dia terjatuh di depan mall.
"Bapak jangan kasar!" Revan sudah emosi. Dia mendorong balik satpam itu lalu membantu Airin berdiri. "Dia berusaha untuk memperingatkan kalian semua tapi tidak ada yang percaya. Terserah kalian! Ayo Ai, kita pulang." Revan menarik tangan Airin agar mengikutinya meski Airin terus menoleh menatap mall yang tinggi itu.
"Van, mereka semua akan mati. Apa aku gak bisa mencegahnya."
"Kita gak punya bukti, Ai."
Beberapa saat kemudian terdengar ledakan yang sangat keras dari lantai atas lalu disusul ledakan lagi di lantai bawah. Seketika lutut Airin terasa lemas. Dia kini jatuh terduduk dan menatap mall yang mengepul asap hitam. Teriakan orang-orang di dalam sana terdengar keras dan mengerikan.
"Buat apa aku bisa lihat kejadian yang akan datang kalau aku tidak bisa mencegahnya!"
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
.
Konflik memuncak di episode akhir ya biar Airin nantinya bisa hidup normal.. 😂
__ADS_1