
"Ai, lihat latihan basket yuk? Kayaknya seru deh lagi ada pemilihan anggota tim baru," ajak Melodi saat pulang sekolah. Dia berjalan dengan Azka mendekati Airin yang sepertinya buru-buru.
"Maaf, aku gak bisa. Aku harus cepat pulang." Tanpa menunggu jawaban dari Azka dan Melodi, Airin melangkahkan kakinya pergi keluar dari kelas.
Merasa penasaran, Azka diam-diam mengikuti Airin. Dia kini menghentikan langkahnya saat melihat Airin naik ke boncengan Revan.
Jadi, kamu lebih memilih Revan.
Rasanya sangat sakit tapi tak berdarah. Dia sudah mencintai Airin lebih dulu, tapi dia juga yang tidak bisa mendapatkan Airin.
Perlahan Azka membalikkan badannya. Dia terkejut ketika melihat Melodi berdiri tepat di belakangnya. Mereka sama-sama terdiam dan saling menatap.
"Maaf, aku gak jadi lihat kamu main basket. Aku mau pulang karena gak enak juga gak ada Airin." Melodi melangkahkan kakinya melewati Azka.
"Mel, aku minta maaf sama kamu," kata Azka tiba-tiba.
"Buat apa?" Melodi kembali membalikkan badannya dan menatap Azka.
Azka berjalan mendekatinya. "Aku tahu sendiri rasanya cinta bertepuk sebelah tangan itu sakit." Kemudian Azka menghela napas panjang. "Aku tahu masalah hati itu rumit. Seandainya saja aku bisa membalas perasaan kamu, pasti semua lebih mudah." Kemudian Azka membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya.
Melodi hanya terdiam. Iya, masalah hati itu memang sangat rumit. Dia yang menyukai Azka sejak pertama kali bertemu tapi Azka justru jatuh cinta dengan Airin. Sampai sekarang Melodi saja tidak tahu bagaimana perasaan Airin yang sebenarnya. Dia memang pernah mengungkapkan perasaannya pada Azka, tapi Azka menolak dengan alasan dia menyukai Airin, sedangkan Airin juga menolak Azka karena Airin tidak mau melukai perasaannya.
Memang lebih baik cinta segitiga itu berakhir hanya sebatas sahabat. Jika memang Airin menyukai Revan, ya semoga saja dia bahagia bersama Revan.
Melodi kini naik ke atas motornya dan beberapa saat kemudian, motornya melaju meninggalkan tempat parkir sekolah.
...***...
"Ai, di jalan apa alamat rumahnya?" tanya Revan yang sedang membonceng Airin.
"Di jalan flamboyan nomor 10," jawab Airin. Si hantu Aditya itu sekarang tidak mengikutinya lagi, sepertinya dia langsung menunggunya di lokasi.
"Itu perumahan elit. Terus kita ke sana bilang apa?" tanya Revan lagi.
"Nanti aku pikir lagi. Tuh hantu pasti udah nunggu di sana."
Revan tersenyum kecil. Dipikir-pikir lucu juga rasanya ketika harus menolong hantu seperti ini. "Lucu."
__ADS_1
Airin mendekatkan dirinya hingga dagunya hampir menempel di bahu Revan. "Lucu apanya?"
"Ya lucu aja. Seumur-umur baru kali ini aku nolong hantu."
Airin hanya tersenyum kecil. Ternyata ketika di luar sekolah, sikap Revan sedikit berbeda. Dia lebih hangat daripada saat di sekolah yang terlewat dingin.
Revan kini menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang mewah dan luas. Pagar yang menjulang tinggi itu terbuka lebar karena ada beberapa orang yang sedang wara wiri memasang dekor. Sepertinya akan ada sebuah acara di sana.
Airin melihat Aditya sedang menatap nanar sebuah foto banner yang ada di dekat pintu masuk.
"Engagement Irene dan Fajar? Besok," kata Airin setelah membaca tulisan di banner itu.
"Aku gak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku juga tidak terlalu ingat. Yang jelas, dua minggu yang lalu aku akan memberi kejutan pada Irene dan melamarnya di sebuah kafe tapi di jalan ada yang mencegatku dan memukul punggung aku sampai aku terjatuh dari motor. Lalu semua gelap," cerita Aditya singkat.
"Apa sebelumnya kamu mengenal Fajar?" tanya Airin.
Beberapa orang dekor melihat aneh Airin dan Revan yang berdiri di dekat gerbang.
"Dia teman aku. Aku juga gak menyangka dia akan bertunangan dengan Irene. Aku ingin tahu apa Irene terpaksa bertunangan dengan Fajar, mengingat orang tua Fajar dan orang tua Irene satu rekan bisnis. Tapi kalau mereka memang saling mencintai, aku bisa ikhlas."
Airin dan Revan masih memikirkan alasan yang tepat. Beberapa saat kemudian ada mobil box yang masuk dan bertuliskan Resto And Cafe Ria. Tentu saja itu catering milik Ayahnya Airin.
"Tidak, kita cuma mau bertemu, hmm, itu yang antar alat catering buat acara besok." Airin menghampiri tiga orang yang baru saja keluar dari mobil box itu.
"Om Malik," panggil Airin. Malik adalah salah satu anak buah Ayahnya di kafe.
"Loh, Airin ngapain di sini?" tanya Malik.
"Yang handle catering di acara ini, Om kan?" tanya Airin sedikit berbisik.
"Iya, kebetulan Ayah kamu handle di kafe." Malik memerintah yang lainnya untuk menurunkan peralatan catering.
"Om, jangan bilang Ayah ya kalau aku ada di sini. Hmmm," Airin kini nampak berpikir. "Om, boleh gak besok aku ikut jadi waitress di acara ini?"
"Jadi waitress? Jangan, nanti aku dimarahi Ayah kamu. Kalau di kafe gak papa." Malik menolak permintaan Airin karena Ayahnya Airin memang tidak memperbolehkan anak-anaknya ikut membantu diluar kafe.
"Ayolah, Om. Sekali ini saja. Cuma bentar." Airin memelankan suaranya. "Aku cuma nyamar aja karena ada misi penting yang harus aku ungkap."
__ADS_1
Seketika Malik tertawa, putri-putri sahabatnya itu memang unik-unik, yang satu kelewat lucu, yang satu kelewat serius. "Tapi kalau Ayah kamu sampai marah, Om gak mau tanggung jawab ya. Udah kamu pulang aja sekarang. Nanti dicariin Bunda sama Ayah kamu."
Airin tak menjawab. Dia kini justru menatap rumah besar yang berlantai tiga itu.
"Ai, kita pulang sekarang?" tanya Revan.
"Sebentar, aku masih sangat penasaran dengan kasus ini." Airin akan masuk ke dalam rumah itu dengan alasan menumpang ke kamar mandi.
"Ai, aku tunggu depan aja?" tanya Revan saat Airin akan masuk ke dalam.
"Iya, kamu tunggu diluar aja. Aku cuma sebentar." Airin mengendap-endap masuk ke dalam rumah yang luas itu. Dia mengikuti Aditya menuju lantai dua.
Setelah sampai di lantai dua, Aditya berhenti di depan sebuah kamar. "Ini kamar Irene."
Airin mengernyitkan dahinya.
"Jangan berpikiran buruk dulu. Aku gak pernah masuk ke kamar dia."
Tanpa ditanya, Aditya sangat peka. Benar-benar hantu yang masih memiliki perasaan. Mungkin setengah hatinya masih tertinggal pada Irene.
Kebetulan sekali pintu itu sedikit terbuka, dia mengintip, terlihat Irene sedang duduk di tepi ranjang sambil menangis. Kamudian Airin mendorong pintu itu pelan.
"Siapa kamu?" tanya Irene saat melihat Airin masuk ke dalam kamarnya.
"Aku, hmm, aku adiknya Kak Aditya," jawab Airin asal
"Adik? Mas Adit gak punya adik."
Seketika Airin menggigit bibir bawahnya. "Adik keponakan."
"Kamu selingkuhannya Aditya?"
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1