Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Merasa Aneh


__ADS_3

Setelah selesai berganti seragam olahraga, mereka semua berkumpul di lapangan untuk melakukan pemanasan.


Guru olahraga mereka yang bernama Pak Satya memimpin pemanasan itu di depan barisan.


Airin hanya mengernyitkan dahinya saat menyadari tatapan mengerikan Siska pada Pak Satya. Siska menatap tajam Pak Satya, seolah ada kebencian yang mendalam di matanya.


Kenapa Siska melihat Pak Satya sampai kayak gitu? Apa sebelumnya dia mengenal Pak Satya?


Airin semakin merasa aneh dengan Siska. Apalagi aura negatif masih sangat terasa saat dia berada di dekat Siska.


Setelah pemanasan selesai, mereka belajar bermain basket. Mulai dari men-drible sampai memasukkan bola ke dalam ring.


"Ai, sini aku ajarin nge-shoot bola." Azka menarik Airin agar berdiri di depan ring basket. Kemudian dia mengambil bola basket dan diberikan pada Airin. Azka kini berdiri di belakang Airin. Tangan Azka memegang tangan Airin lalu mengarahkan tangannya agar bola itu pas kena sasaran. "Kamu tatap ring itu, kamu fokus. Arahkan bola tepat pada ring..."


Belum selesai Azka menjelaskan, tiba-tiba Siska mendekat dan menarik Airin agar terlepas dari Azka, lalu dia mengambil bola basketnya. "Azka, aku juga mau kamu ajarin masukin bola."


Awalnya Azka menahan tangan Airin tapi setelah menatap wajah Siska dan senyuman manisnya, dia melepas tangan Airin lalu beralih mengajari Siska.


Airin hanya bisa berjalan menepi. Dia menatap Azka yang kini berdiri di belakang Siska sambil mengarahkan tangan Siska.


Apa mimpi aku semalam ada hubungannya dengan ini? Aura yang aku rasakan dari Siska benar-benar beda. Sekarang Azka seolah terpesona dengan Siska.


Terlihat Siska tertawa karena satu tembakannya berhasil masuk ke dalam ring. Kemudian dia mencoba mengulanginya lagi.


"Daripada cuma bengong aja, sini aku ajarin." Revan melempar bola basketnya yang langsung ditangkap oleh Airin. Mereka kini berdiri di samping Siska dan Azka.


Entah mengapa dada Airin rasanya lebih berdebar dibanding dengan Azka tadi, saat Revan berdiri di belakangnya dan mengarahkan tangannya.


"Fokus, biar tangan kamu gak tremor."


Jelaslah, tangan Airin tak bisa diam. Kedua tangannya bergetar saat disentuh Revan. "Hmm, aku bisa sendiri." Rasanya Airin tidak sanggup menghadapi posisi ini bersama Revan.


Mendengar suara Airin seketika Azka menoleh dan melepas tangannya dari Siska. "Ai, kan aku yang mau ajarin kamu." Azka menarik lengan Airin hingga terlepas dari Revan.


"Lo ajarin Siska aja, biar Airin sama gue." Revan kembali menarik Airin.

__ADS_1


"Gak bisa gitu."


Airin menghela napas panjang, lagi-lagi mereka bertengkar. Kemudian Airin melepas tangan mereka berdua lalu mengambil bola basket dan mendrible nya sesaat, lalu memasukkannya ke dalam ring. Setelah itu dia pergi meninggalkan Azka dan Revan yang masih saja bertengkar.


Siska hanya menatap tajam Airin lalu tersenyum miring.


"Mereka berdua itu bertengkar terus kerjaannya. Pusing aku dengerinnya."


Melodi tertawa melihat ekspresi wajah Airin yang terus mendumel. "Kan mereka suka sama kamu. Makanya cepat pilih salah satu biar salah satu diantara mereka bisa merelakan. Selama kamu gak ada yang memiliki ya mereka akan terus bersaing."


Airin justru mengajak Melodi duduk di pinggir lapangan. "Ssstt, jangan buat aku ke-GR-an. Revan aja gak pernah ungkapin perasaannya. Lagian Azka juga sahabat aku. Jadi aku belum bisa memilih."


"Ai, Azka itu masih suka sama kamu. Dia masih mengharapkan kamu. Kamu beneran gak ada perasaan apa-apa sama dia?" tanya Melodi. Baru kali ini dia berani bertanya tentang perasaan Airin.


Airin terdiam lalu mengalihkan pandangannya. "Ya, aku... Aku juga gak tahu."


Melodi melingkarkan tangannya di lengan Airin. "Kamu jangan memikirkan aku, aku udah gak mikirin Azka lagi. Kalau semisal kamu memang mau meresmikan status sama Azka, aku ikut seneng "


Seketika Airin tertawa. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana rasanya dia pacaran dengan Azka. "Mel, aku gak bisa bayangin gimana rasanya pacaran sama Azka. Kita udah bersahabat lama. Aduh, geli banget."


Seketika pipi Airin bersemu merah. Dia kini menatap Azka dan Revan yang sedang bermain basket dan saling berebut bola.


Tapi Airin hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Ciee, kenapa pipinya merah."


"Gak tahulah, kita baru kehilangan Della. Gak mungkin bagi Revan mengalihkan perasaannya secepat itu. Justru aku takut kalau Revan hanya butuh pelarian saja."


"Pelarian atau bukan, yang penting rasa yang ada di hati kamu."


Begitulah Airin dan Melodi, disaat yang lainnya sibuk latihan olahraga, mereka hanya bersantai berdua di pinggir lapangan sambil curhat.


Mereka kini melihat Siska yang masih saja menatap Revan dan Azka, meskipun teman lelaki yang lainnya juga mendekatinya.


"Ai, kamu merasa aneh gak sama Siska?" tanya Melodi.

__ADS_1


Airin menganggukkan kepalanya. "Iya, aku merasa dia sengaja mendekati Revan dan Azka tapi anehnya tiap kali Azka atau Revan melihat Siska, tatapan mereka menjadi berubah. Mereka seolah terpesona dengan Siska. Ya emang sih Siska cantik, wajar saja kalau mereka juga suka sama Siska." Meski Airin juga merasa aneh tapi dia menepis pikiran buruknya. Ya, mungkin saja Azka ataupun Revan tertarik dengan Siska.


"Tapi menurut aku sih gak wajar."


Mereka berdua kini menatap Siska yang masih saja ingin mendekati Revan dan Azka. Sampai tak sengaja bola itu mengenai kepala Siska. Tubuh Siska limbung dan dia pun pingsan.


"Syukurin!! Makanya jangan tebar pesona terus!" Ria dan teman-temannya tertawa dengan keras. Mereka puas sekali melihat kepala Siska terkena bola basket dengan keras.


"Sudah, sudah. Diam! Yang lainnya lanjutkan latihannya." Pak Satya mengangkat tubuh Siska lalu menggendongnya menuju UKS.


Airin membulatkan matanya saat sekelabat bayangan hitam keluar dari tubuh Siska lalu masuk lagi. Dia kini mengikuti Pak Satya yang membawa Siska ke UKS.


"Ai, mau kemana?" Melodi juga mengikuti langkah Airin. Sampai di depan UKS, mereka mengintip di dekat pintu. Terlihat Pak Satya membaringkan Siska di atas brangkar UKS lalu mengambil minyak kayu putih.


Beberapa saat kemudian Siska membuka matanya.


"Untung kamu sudah sadar. Kepalanya masih sakit?" tanya Pak Satya.


Siska menatap Pak Satya beberapa saat lalu memegang kepalanya dan merintih kesakitan. "Iya Pak, sakit sekali."


"Yang mana?" Pak Satya, sosok guru yang tampan dan masih berumur 35 tahun itu meraba kepala Siska untuk memastikan apa ada yang benjol atau tidak.


Tapi Siska justru menarik lengan Pak Satya lalu melingkarkan tangannya di leher Pak Satya. "15 Oktober di UKS."


Deg!


Pak Satya sangat terkejut mendengar itu. Dia melepas paksa tangan Siska lalu membalikkan badannya dan keluar dari UKS.


"Kalian ngapain di sini?" tanya Pak Satya pada Airin dan Melodi yang berdiri di dekat pintu.


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2