
Anna pun sudah pulih dan sudah bisa pulang kerumah, Anna sangat senang karena Adryan yang menemani nya selama di opname.
"sepertinya kalian sangat menikmati nginap dirumah sakit... wajah kalian tampak berseri seri..." Ziva masuk ke kamar Adryan
"apa yang kamu bicarakan..." Adryan
"aku belakang ini merasa seperti kamu abaikan... kamu jadi tidak perduli lagi dengan ku... apa kamu sudah mencintai nya" Ziva
"siapa yang kamu maksud... tolong lah ziv... jangan berfikiran buruk" Adryan
"aku tidak berfikiran buruk... aku bicara fakta... hanya disentuh pria lain saja kamu sudah seperti terbakar api cemburu... hanya mendengar nya demam saja kamu sangat khawatir." Ziva
"ayolah ziv... itu tidak seperti yang kamu fikirkan... aku khawatir karena dia sedang mengandung saja... aku tidak mencintai nya... aku hanya khawatir pada janin nya saja." Adryan
"bagaimana denganku sewaktu hamil... bahkan menemani ku pemeriksaan saja kamu tidak ada waktu... berarti kamu tidak peduli dengan anak ku..." Ziva
"ziv... please... jangan seperti ini... dengar sayang.... dengar aku baik baik... aku tidak akan menghianati mu... aku akan tetap selalu bersamamu dan mencintaimu..." Adryan mencoba memeluk Ziva tapi Ziva menepis
"apa buktinya... apa jaminannya... aku sudah tidak percaya semua perkataan mu... dulu kamu bilang akan segera menceraikan nya... tapi kamu malah menghamili nya... sekarang apa lagi... setelah anaknya lahir kamu akan menceraikan nya.." Ziva
"sekarang aku hanya perlu pembuktian Ryan... jika tidak bisa membuktikan nya maka lepaskan saja aku.." Ziva lalu hendak keluar dari kamar Adryan
"sayang... ayolah jangan bicara seperti itu... aku berjanji akan membuktikan nya padamu... percayalah padaku... jangan bicara seperti itu lagi..." Adryan
__ADS_1
"baiklah... aku tunggu pembuktian nya." Ziva lalu pergi
Adryan yang tadinya merasa relax dan baik baik saja, kini merasa seperti berhadapan dengan ujung pisau yang sewaktu waktu bisa melukainya.
"apa apaan ini... " kini Adryan bingung memikirkan nya dan mengacak acak rambutnya yang rapi dan menghisap sebatang rokok untuk menghilangkan sedikit beban pikiran nya.
sambil mengingat ingat pembicaraan nya dengan Anna beberapa waktu lalu itu, dimana Adryan mengatakan untuk tidak ingin bercerai. namun kini Adryan dihadapkan lagi dengan Ziva dan berjanji untuk tidak akan meninggalkan dan menghianati nya.
"aku bisa menyelesaikan semua permasalahan di perusahaan... tapi kenapa dengan ini aku tidak bisa... ada apa denganku... apa yang sudah aku lakukan... bagaimana caraku menyelesaikan masalah ini... siapa yang akan aku pilih dan siapa yang akan aku pertahankan..." pikiran Adryan
"tapi... aku bingung... kenapa aku berat melepaskan Anna... padahal aku tidak mencintai nya... dan aku yakin... aku perhatian padanya karena dia sedang mengandung anakku... tapi benar juga kata Ziva... kenapa aku cemburu saat melihat pria lain menyentuh nya." pikiran Adryan
"apa jangan jangan aku sudah mencintai nya... tapi aku tidak merasa seperti itu..." Adryan bahkan kini bingung dengan perasaan nya sendiri.
seseorang datang mengantarkan paket surat untuk Anna, para pelayan yang menerima nya dan memberikan lagi pada Anna
"emm... masuk" Anna
"ini ada surat untuk Nyonya... sepertinya dari pengadilan. masalah tentang perceraian Nyonya." kepala pelayan menyerahkan amplop surat itu
"baiklah... tinggalkan aku sendiri bi..." Anna
"baiklah Nyonya... jika ada keperluan lain segera panggil saja Nyonya" kepala pelayan
__ADS_1
"emm..." Anna
Ziva yang melihat ada paket surat dan langsung bertanya karena penasaran.
"surat apa itu... dan untuk siapa?" Ziva
"jangan terlalu ikut campur dengan urusan pribadi orang lain Nyonya..." kepala pelayan
"kalian kenapa kurang ajar sekali padaku... apa kalian tidak takut jika aku mengadukan ini pada Adryan... kalian terlalu menyepelekan ku kan... " Ziva sudah semakin kesal karena selalu dicuekin dan dianggap sepele oleh para pelayan itu.
"aku juga bagian dari keluarga ini... ingat jangan lupa aku ini kekasih dari Tuan kalian... dan akan segera menjadi Nyonya juga... saat itu juga aku akan mengusir kalian dari sini..." Ziva meninggalkan mereka dengan penuh amarah.
"kalian tidak perlu takut... dia tidak akan bisa mengusir kalian dari sini..." kepala pelayan mencoba menenangkan bawahannya yang seperti nya ketakutan dengan ucapan Ziva
"baik bu.." mereka pun sedikit tenang karena kepala pelayan juga mendukung mereka.
"sialan... mereka hanya seorang pelayan tapi berani beraninya menganggap ku sepele... seperti tidak menganggap ku ada dirumah ini... jika didiami maka akan seterusnya berbuat seperti itu... lihat saja aku akan balaskan dua kali lipat setelah aku sudah sah jadi nyonya dirumah ini." Ziva dengan kesalnya dan sudah menahan nya beberapa waktu.
"bagaimana ini... ini surat panggilan pertama... bagaimana caraku memberikan padanya." Anna bingung sendiri
"jujur... saat dirumah sakit itu aku merasa senang dan nyaman dia menemani ku dan membantu ku selama disana. apa ini karena bawaan janin ku ya... merasa nyaman jika ayahnya ada disamping nya." Anna
"ya ampun... kenapa aku jadi bimbang seperti ini sih... ayolah Anna jangan jadi orang plin plan... kamu apa mau selamanya seperti ini menjadi istri yang disembunyikan dari semua orang. " Anna
__ADS_1
keesokan harinya Adryan yang mengingat Cindy sahabat Anna yang Adryan yakini jika Cindy tau tentang keluarga Anna. Adryan pergi menemui Cindy ditempat yang sudah mereka tentukan.
Cindy mengiyakan karena penasaran juga dengan suami dan keluarga dari suami sahabatnya itu. karena yang Cindy perhatikan selama dirumah sakit Adryan dan Anna tidak seharmonis yang Anna ceritakan pada cindy.