
"paman tidak akan memaksamu." ucap Edward yang tiba tiba membuka pembicaraan.
Anna pun yang mendengar itu sedikit tersentuh, orang sebaik dia bahkan menyayangi Anna seperti putri kandungnya meskipun hanya 6 bulan bersama. tapi Anna merasakan ketulusan mereka, hingga tanpa pikir panjang lagi Anna langsung menjawab.
"aku mau paman. tapi aku ingin mengenal nya lebih dulu." ucap Anna
"tolong tinggalkan kami berdua" ucap Edward dengan tegas.
mendengar itu pun mereka semua pergi kecuali Anna.
"nak... paman mengerti perasaan mu. tapi paman takut jika kamu ingin perkenalan dulu dan ingin mengenal nya lebih dekat usia paman tidak cukup." Edward
"paman.... berhenti mengucapkan kata itu. paman pasti panjang umur." Anna
Edward hanya menggeleng kan kepala menandakan tidak akan ada harapan dan hanya pasrah saja. dan Anna pun yang melihatnya seperti seorang yang putus asa.
"jika dia menolak bagaimana?" tanya Anna
"dia tidak akan menolak nak... percaya lah pada paman." Edward
"apa paman yakin demikian?" tanya Anna lagi.
"yaaa paman yakin nak... (tersenyum. mencoba mengharap pada Anna)" Edward
"apa paman akan bahagia jika aku menikah dengan putra sulungmu itu" Anna
"iya sayang. paman akan sangat bahagia dan paman akan pergi dengan tenang." ucap Edward.
"baiklah paman. aku menerima. tapi aku melakukan ini demi kebahagiaan paman." ucap Anna
"lalu kebahagiaan ku sudah terkubur sangat dalam, aku harap keputusan ku ini. keputusan yang tepat dan tidak sia sia." batin Anna
mendengar itu pun Edward meneteskan air matanya dia sangat senang dengan jawaban Anna sampai tidak bisa membendung rasa bahagia nya.
"paman kenapa menangis???" Anna
"paman sangat bahagia mendengar jawaban mu nak... paman bahagia" Edward
"sudah paman tidak perlu menangis lagi. " Anna
__ADS_1
siang itupun Anna sama sekali tidak keluar dari kamar nya. Anna masih ragu dengan keputusan yang sudah dia ucapkan. namun Anna sudah tidak bisa menariknya lagi, mengingat betapa bahagianya Tuan Edward.
"astaga... aku tidak menyangka akan menikah dengan seorang yang tak ku kenali." batin Anna
tiba tiba Anna teringat dengan ucapan Jho.
"sayang aku takut... aku bermimpi aku melihat mu menikah dengan pria lain"
"ya ampun apa ini maksud dari mimpinya. Jho......"
"apa kamu baik baik saja sekarang.... aku merindukan mu...." batin Anna
Anna menangis kini perasaan nya kacau balau. dia masih mencintai sosok Jho. dan kini dia akan menikah dengan pria lain, bahkan Anna tidak tau seperti apa watak dari calon pendamping nya itu. hingga Anna tertidur, merry yang mengetuk pintu kamarnya Anna. namun pemilik kamar tidak merespon sama sekali hingga merry akhirnya memutuskan untuk masuk saja. merry melihat Anna tertidur sangat pulas, dan merasa kasihan padanya.
"apa dia baru saja menangis." batin Merry
"sungguh malangnya nasip mu non.. bi tau ini pasti membuatmu tidak merasa senang. namun non menerima nya. maafkan aku non tidak bisa membantu mu." Merry
Disisi lain Jho menjalani hari harinya dengan bekerja, tidak memperdulikan apapun lagi. Jho masih belum bisa melupakan Anna bahkan sampai saat ini dia masih mencari keberadaan Anna. Jho ingin mempertahankan hubungan nya, Jho berencana akan meninggalkan keluarga nya itu dan memutuskan hubungan. namun Anna belum kunjung ketemu.
Cindy pun yang begitu dirinya masih mencari keberadaan sahabatnya itu. saat mendengar kabar jika Anna pergi, cindy mengabaikan nya dan merasa Anna pasti akan kembali dia hanya ingin mendinginkan kepalanya. namun hingga saat ini Anna belum kembali.
siang itu Selena yang sudah sembuh total dan merasa merindukan putranya. karena sejak dirinya siuman hingga saat ini Jho tidak pernah mengunjungi nya. bahkan Jho tidak mengangkat telepon dari keluarganya.
"masuk" ucap Jho yang mengira itu seorang karyawan.
"Jho" ucap selena.
mendengar itu pun Jho mengangkat wajahnya dan melihat orang yang menyebut namanya.
"mah" ucap Jho sambil mengerutkan dahinya.
"mamah merindukan mu nak.... kenapa kamu tidak pernah menghubungi dan mengunjungi kami lagi." ucap Selena.
"keluar dari ruanganku" ucap Jho.
"nak....kamu ada masalah apa??? apa kamu masih marah pada mamah karena masalah Anna?" Selena
"keluarlah aku tidak ingin berdebat dengan mamah." Jho
__ADS_1
"lihatlah dia sudah pergi meninggalkan mu. jika dia men." Selena
"dia pergi karenamu." Jho memotong pembicaraan selena.
"apa maksudnya nak... mamah hanya.." Selena
"karena kamu membuangnya." Jho kini emosinya sudah melunjak
"apa yang kamu bicarakan nak" Selena
tanpa berkata kata Jho mengeluarkan sebuah ampol.
"buka dan bacalah dengan baik. dan jangan pernah menemuiku lagi" ucap Jho dengan nada dingin
selena penasaran dengan amplop ini yang membuat Jho marah. dan sungguh itu sangat mengejutkan nya.
"bagaimana bisaa" Selena
"kamu tidak taukan jika dia menjalani kehidupan dengan sangat menderita. dia kesepian." ucap Jho
"bagaimana ini bisa" ucap Selena yang masih mempertanyakan bagaimana bisa surat ini ada.
"dia yang sudah menyelamatkan hidupmu. dia yang mendonorkan darahnya untukmu. jika tidak.." ucap Jho
mendengar itu Selena semakin terkejut.
"bahkan dia pergi meninggalkan ku karenamu. dia tidak mau menghancurkan kebahagiaan mu. dia tidak ingin mengacaukan kehidupan mu. dan diaaa..." Jho
"aku bahkan tidak tau dia ada dimana sekarang. aku tidak tau bagaimana dia menjalani kehidupan nya sekarang." Jho
"tidakkk.... bagaimana bisa ini terjadi.." Selena
"aku sungguh kecewa padamu. aku berfikir kamu adalah seorang ibu yang sempurna. seorang ibu yang berhati mulia. kamu menyayangi aku dan Davin dengan sangat tulus dan bahkan kamu merawat Davin dengan penuh kasih sayang dari kami kecil. tapi disisi lain kamu membuang seorang anak... dimana dia juga masih membutuhkan kasih sayang darimu." Jho
"keluar....." teriak Jho
"mulai saat ini jangan pernah menemuiku." Jho
"nak... dengarkan mamah dulu." Selena
__ADS_1
"apa??? apalagi yang akan kamu jelaskan aku sudah tau semua. dia mempertaruhkan kebahagiaan nya demi kebahagiaan mu. keluar... aku tidak akan mengatakan apa pun pada ayah atau yang lain. tapi jangan pernah lagi mencoba menemuiku. jika melihatmu aku melihat setiap luka yang diderita Anna dan itu membuatku marah, itu kenapa aku tidak pernah mengunjungi maupun menghubungi mu." Jho
"keluar......." ucap Jho dengan sangat marah. karena sedari tadi Jho sudah mengatakan keluar namun tak kunjung keluar.