Aku Baik-baik Saja

Aku Baik-baik Saja
Anna Depresi


__ADS_3

Anna yang stres memikirkan kehidupan nya kedepan, Anna tetap kukuh untuk bercerai dengan Adryan. karna Anna berfikir tidak akan mungkin bisa menjadi rumah tangga yang harmonis. mereka tidak saling mengenal satu sama lain, bahkan Adryan memiliki seorang kekasih yang kini tengah hamil tua.


sedangkan Anna menginginkan sebuah rumah tangga yang harmonis, dimana kedua sepasang suami istri harus saling mencintai dan menyayangi. Anna juga sudah menanam dalam dirinya bahwa dia hanya akan melakukan pernikahan sekali seumur hidup.


namun Anna kini berfikir lagi bagaimana nasip anaknya jika melangkah dari rumah ini, tidak memiliki apa apa bahkan untuk mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. ditambah Anna tengah mengandung perusahaan mana yang mau menerima seorang yang sedang mengandung.


sempat terfikir untuk menggugurkan nya namun Anna tidak tega dan tidak mau menyakiti seorang janin yang tidak bersalah sama sekali. saat saat seperti itu tidak ada yang mendampingi dan tidak ada yang menguatkan nya. belakangan ini Liora pun tengah sibuk dengan dunia perkuliahan nya.


"apa yang harus ibu lakukan nak... ibu sekarang sangat bingung." ucap Anna sambil mengelus elus perut nya yang masih rata.


"kamu juga tidak bersalah sama sekali... ibu tak tega untuk menyakiti mu." Anna


"hhuuuuhhh..." Anna menghela nafas panjang.


Anna terfikir lagi dengan cindy, jika meminta bantuan nya Cindy tidak mungkin menolak dan membiarkan nya dalam keadaan terpuruk. namun Anna tidak ingin lagi merepotkan orang orang terdekat nya, saat ini Anna dalam keadaan buntu memikirkan ini bingung memikirkan itu juga bingung.


"aduhh..." Anna kesakitan karena perutnya nyeri.


"ada apa nak... tolong jangan menyakiti ku... pikiran ku sedang kacau." Anna


didalam mansion semua orang disibukkan dengan merias kamar sang buah hati Ziva padahal masih ada waktu sebulan lagi. tapi karna Nyonya Edward begitu bersemangat dengan cucunya itu dan ingin segera mempersiapkan segala keperluan dari bayi Ziva.


"wahhh... ini sangat bagus bunda..." puji Ziva


"hallo nak... semoga nanti kamu menyukainya" ucap Nyonya Edward yang mendekatkan kepalanya keperut Ziva


"astaga... dia menendang nendang bunda.." Ziva


"hahaha... cucuku memang pintar... dia langsung menjawab Omanya" Nyonya Edward


Ziva yang mendengar itu sangat bahagia dan berharap tidak ada yang menghancurkan kebahagiaan itu.


Liora yang melihat itu tidak suka sama sekali, dulu dia sangat menyukai Ziva bahkan berharap menjadi kakak iparnya. namun dengan kebusukan nya yang selingkuh di belakang kakaknya dan bahkan hamil yang bukan anak dari kakaknya.


"Ziva.. aku tidak akan membiarkan mu menikmati yang bukan hak mu... kesempatan mu untuk menjadi bagian dari keluarga ku sudah lenyap... salam mu sendiri mengkhianati kakak ku.... aku akan berusaha mencari bukti jika bayi yang kamu kandung itu bukan darah daging kakak ku." batin Liora

__ADS_1


"Lio... kamu sudah pulang nak..." ucap Nyonya Edward yang menyadari kehadiran Liora.


"iya bunda... wahh... ini bagus sekali... " Liora


"wahhh... sebentar lagi aku akan ada saingan... aku sangat iri... bunda ku akan kamu rebut... dan aku tidak akan terima." ucap Liora sambil menundukkan kepalanya menghadap perut Ziva namun itu hanya sandiwara yang Liora ucapkan.


"maafkan aku janin... aku tidak akan membiarkan mu menikmati yang bukan hak mu... jangan menyalahkan aku... tapi salahkan kebusukan ibumu." batin Liora yang masih mengelus perut Ziva


"hahaha... bunda tidak akan melupakan mu..." Nyonya Edward


"sudahlah... lagian aku sudah dewasa aku akan mencari seorang kekasih supaya aku tidak kesepian." Liora lalu pergi meninggalkan mereka.


"Bima... apa yang dimaksud nya itu Bima..." batin Ziva.


mendengar ucapan Liora Ziva sedikit merasa sakit apalagi yang pertama Ziva pikirkan adalah Bima. dan melihat belakang ini mereka sangat dekat.


sebenarnya Ziva lebih menyukai Bima dibanding Adryan, Ziva lebih nyaman bersama Bima karena Bima memiliki sifat hangat, penyabar, pengertian, juga penyayang. siapa pun yang berhadapan dengan Bima akan merasa nyaman.


sedangkan Adryan yang selalu fokus dengan pekerjaan dan mengutamakan bisnis dan usahanya. bahkan jarang meluangkan waktu bersama dengan keluarga juga sang kekasih. membuat Ziva berpaling darinya, namun karena Bima hanya sekelas menengah bukan seperti Adryan seorang pewaris tunggal kaya nomor tiga. membuat Ziva memilih Adryan meski hatinya sudah memilih bima.


"ceklek..." Liora langsung membukakan pintu tanpa mengetuk karena sudah terbiasa seperti itu.


Liora sangat terkejut melihat Anna hendak meminum begitu banyak obat, Liora terkejut dan langsung saja Liora menjatuhkan mangkuk gelas berukuran sedang yang berisikan buah itu. membuat Anna terkejut dan langsung menyembunyikan obat obat itu dalam genggamannya.


"pranggggg...." suara pecahan mangkuk gelas.


"apa yang sedang kamu lakukan..." Liora


"buang... buang itu semua... jangan berlaku bodoh." Liora kesal


"apa kamu sudah gila..." Liora


"aku bingung... aku tidak tau harus apa.." ucap Anna sambil senggugukan.


"apa yang kamu khawatirkan... ayo cerita padaku... apa yang membuatmu bingung." Liora

__ADS_1


suara pecahan itu cukup keras sehingga terdengar oleh beberapa pelayan dan langsung saja mencari sumber suara itu.


"sepertinya dari arah kamar Nyonya Anna." pelayan 1


"iya... tapi barusan non Liora pergi kesana membawakan beberapa buah... apa mereka bertengkar." pelayan 2


"sebaiknya kita lihat apa yang terjadi... aku takut terjadi sesuatu pada non Liora." pelayan 3


mereka pun bergegas pergi kearah kamar Anna yang mereka yakini suara itu berasal dari sana.


Liora dengan sigap menutup pintu kamar supaya tidak terlihat oleh orang lain.


"tok...tok...tok..."


"non... Nyonya... apa kalian di dalam.." pelayan


"apa terjadi sesuatu... tadi kami mendengar ada suara pecahan... sepertinya berasal dari sini.." pelayan


"tidak ada apa apa... kalian pergilah..." Liora


"tapi non.." pelayan masih dengan yakin suara itu dari sini


"aku bilang pergi pergilah... apa kalian tidak mendengar... disini tidak terjadi apa apa." Liora


"baiklah non... kami pergi." para pelayan itu pergi dengan rasa curiga. karena pintu tertutup dan Liora sama sekali tidak menginjinkan untuk melihat kedalam.


"apa yang kami pikirkan... kenapa kamu sampai nekat melakukan ini." tanya Liora yang sudah memastikan tidak ada lagi orang diluar.


"ceritakan padaku... aku akan membantu mu." Liora


"aku bingung... aku tidak ingin merusak kebahagiaan orang lain... aku ingin bercerai tapi bagaimana dengan janin ini... aku tidak ingin membiarkan nya lahir tanpa seorang ayah... tapi pria itu pun sudah memiliki seorang anak dari wanita lain." Anna


"kamu dengarkan aku baik baik... kamu tidak boleh lemah seperti ini... kamu harus semangat... anak yang Ziva kandung itu bukan anaknya kak Ryan... aku tidak akan membiarkan anak itu yang mewarisi semua ini... kamu percayakan sama ku... biarkan kamu melahirkan janin ini. sesuai apa yang ayah katakan kalau pewaris penerus perusahaan itu anak dari mu juga kak Ryan. setelah anak nama anak ini sah menjadi pewaris terserah kamu mau kamu cerai atau menetap. paham... aku mohon Anna yang gegabah seperti ini." Liora


Anna pun menangis setelah mendengar ucapan yang Liora ada benarnya juga

__ADS_1


__ADS_2