
semua orang yang tinggal di mansion pun tau jika Anna tengah mengandung, Adryan yang juga penasaran pergi menemui Anna. sedangkan Liora yang ingin memastikan Anna baik baik saja meminta Anna tinggal dikamarnya dan tidur bersamanya.
"tok....tok...tok..." Adryan mengetuk pintu kamar Anna namun tidak ada jawaban dari dalam hingga Adryan memutuskan masuk. namun Adryan sama sekali tidak melihat ada Anna disana.
Adryan pergi bertanya pada pelayan dimana Anna
"Anna dimana?" Adryan
Liora yang sedang mengambilkan jus untuk Anna dan mendengar nya.
"ada dikamarku..." Liora
"aku ingin bicara dengannya..." Adryan pergi ke kamar Anna
"bicarakan padaku... aku tidak mengijinkan siapa pun menemuinya." Liora
Adryan tidak mendengarkan dan langsung naik kekamar Liora.
"ck..." Liora pun mengikuti Adryan.
tanpa ketak ketuk Adryan langsung masuk ke kamar Liora dan menemukan Anna sedang rebahan dikasur. Anna pun melihat kearah pintu yang terbuka dan melihat Adryan yang berdiri dipintu sambil memandangi nya.
Adryan lalu pergi tanpa bicara satu dua kata Anna pun bingung datang dengan membuka pintu tanpa bicara lalu pergi.
"sudah umur berapa usia kandungannya." tanya Adryan saat berpapasan dengan Liora
"kenapa tidak tanya langsung padanya... bukankah kakak harus bertanggung jawab juga atas bayi itu." Liora
"aku tidak sanggup bicara langsung dengannya." Adryan
"kenapa??? bukanya belakangan ini kakak dibantu nya bekerja...":Liora
"ntahlah..." Adryan lalu meninggalkan Liora
Nyonya Edward pun tak berkata kata saat mendengar Anna mengandung anak Adryan, bagaimana pun itu juga darah daging nya. sementara Ziva seperti cacing kepanasan setiap saat merasa gelisah setelah tau Anna tengah mengandung.
"aku harus mencari cara menyingkirkan bayi nya itu.... bagaimana pun caranya..." Ziva yang dulunya sangat polos tidak ingin menyakiti orang lain. namun demi sebuah harta juga ingin status yang tinggi Ziva menjadi gelap mata. Adryan dulunya menyukai Ziva karena kepolosan nya juga punya hati yang lemah lembut.
tiga hari kemudian Ziva yang merasa perutnya sakit sakitan dan air ketubannya pun sudah pecah. sementara dirumah itu hanya ada Anna, Ziva dan Nyonya Edward saja.
"aduhhh.... tolong sakit.... tolong...." teriak Ziva
"aduhhh.... bunda... tolong" teriaknya
Anna yang mendengar teriakan itu langsung menghampiri nya.
"Ziva... ada apa... gawat ketubannya sudah pecah." Anna
"mari aku babtu" Anna mencoba membantu Ziva untuk turun kebawah. namun tak disangka disaat saat kesakitan nya Ziva masih sempat sempatnya untuk berfikir mendorong Anna supaya jatuh dan keguguran.
"ehhh....." Anna yang panik karena Ziva malah mendorong nya yang berniat membantu.
__ADS_1
namun tak disangka ternyata kepala pelayan yang mendengar teriakan itu juga segera menghampiri. dan melihat dengan jelas Ziva mendorong Anna dan kepala pelayan dengan sigap menangkap Anna.
"hati hati nyonya..." kepala pelayan.
"bi... hah.... hahh.... terimakasih..." Anna yang sudah sangat panik tidak menyangka akan ada kepala pelayan yang menolongnya.
"sialan... dia masih selamat..." batin Ziva
"ya ampun... kenapa... ada apa??" Nyonya Edward panik saat melihat Anna yang hampir terjatuh.
"kamu tidak apa apa..." tanya Nyonya Edward pada Anna
"bunda tolong.... ketuban ku sudah pecah..." Ziva
"ohhh astaga.... kita harus segera kerumah sakit... pelayan bantu dia turun." Nyonya Edward meminta pelayan membantu nya turun.
"Nyonya tinggal saja dirumah... takut kejadian seperti tadi terjadi lagi..." ucap kepala pelayan pada Anna.
"baiklah bi... aku akan mendengarkan mu." Anna
mereka pun lalu membawa Ziva kerumah sakit, Anna yang langsung menghubungi Liora untuk mengabarinya.
"apa ada masalah" Liora
"tidak kok.... aku cuma mau ngabari Ziva akan melahirkan dan sudah dibawa kerumah sakit." Anna
"oh iya.. ok ok aku akan kesana." Liora
"kak bimm... kakak dimana. bisa jemput aku dikampus..." Liora
"emangnya mau kemana..." Bima
"kak Ziva melahirkan... aku harus kesana menemani bunda." Liora
"tapi aku sedang..." Bima
"kak ayolah... please..." Liora
"baiklah... tapi aku hanya mengantar saja ya." bima
"baiklah... tidak apa kak." Liora.
Bima pun dengan cepat sudah tiba didepan kampus dan Liora pun sudah masuk kedalam, mereka kini menuju rumah sakit.
"kakak beneran ingin ke Amerika..." Liora
"emm..." Bima
"kenapa??? kakak bisa bekerja disini bersama kak Ryan... kenapa harus ke amerika... " Liora
Bima hanya tersenyum saja tidak menjawab apa yang Liora pertanyakan.
__ADS_1
"kak antar sampai disini saja ya..." Bima
"kak... bagaimana bisa... kak Ziva kan juga teman kakak... kenapa tidak melihat nya.." Liora berusaha keras supaya Bima bisa melihat darah daging nya itu.
"aku..." Bima masih terus menolak
"kak... besok juga kakak akan pergi... kenapa tidak menyempatkan sedikit waktu." Liora
"baiklah... baiklah." Bima pun akhirnya mengalah.
mereka masuk ke rumah sakit dan melihat Nyonya Edward sendirian sedang menunggu operasi nya.
"bunda..." Liora
"Lio..." Nyonya Edward
"ada nak bima juga..." Nyonya Edward
"iya bibi..." Bima
setelah setengah jam mereka menunggu akhirnya anaknya dibawa keluar untuk di pindahkan ke tempat nya.
"bu... ini anaknya laki laki... kami akan membersihkan nya dulu." ucap dokter itu
setelah dua puluh menitan akhirnya Ziva pun dipindahkan ke ruang inap. sedangkan anaknya juga sudah bersih dan keluarga sudah diperbolehkan melihatnya.
"wahhh... cucuku... dahhh..." nyonya Edward dengan senang nya menggendong bayi itu.
"bund... gantian Liora juga ingin menggendong nya." Liora
"hai... ponakahku yang tampan..." Liora.
"kak tolong gendong dulu perutku mules.." ucap Liora
"ehhh tapi..." Bima yang belum pernah menggendong bayi merasa takut.
Bima tidak menyadari jika Liora sengaja menyerahkan bayi itu padanya, padahal Nyonya Edward ada disana. Liora sengaja supaya Bima bisa merasakan dan melihat langsung darah daging nya itu.
"nak... kamu sangat menggemaskan... maafkan ayahh... ayah harus pergi... ini demi kebahagiaan ibumu..." batin Bima
"owekkk....owekkk...owekkk..." bayi itu menangis
"ehh... bibi ini.." Bima panik saat bayi itu
"sini biar bibi saja." Nyonya Edward mengambil bayi itu
"ooo cup...cup..cup..." Nyonya Edward
namun bayi itu masih menangis dan menambah keras suaranya, Liora pun langsung keluar dari kamar mandi dan meminta Nyonya Edward menyerahkan bayi itu lagi pada Bima.
dan bayi itu pun berhenti menangis, bayi itu ternyata mendengar suara batin Bima.
__ADS_1