
Ziva yang semakin hari semakin khawatir karena Bima semakin sering datang ke mansion Edward.
"apa yang sedang kamu lakukan... kamu sudah berjanji untuk tidak mengganggu ku lagi." pesan Ziva pada Bima.
"ayolah sayang... aku merindukan mu.." balas Bima.
"aku tidak akan mengganggu mu. tapi aku mau kita ketemuan malam ini. untuk yang terakhir kalinya." Bima
"bim.... kamu jangan macam macam denganku... jangan berani mengancam ku." Ziva
"tidak... kali ini aku berjanji tidak akan mengganggu mu lagi asalkan kamu mau bertemu denganku malam ini." Bim
"aku tunggu di apartemen ku." pesan terakhir Bima.
"sialan... lagi lagi dia mencoba mengancamku..." ucap Ziva
"huaaaaa...." teriak Ziva tidak sadar jika dirinya tinggal di mansion Edward.
"non Ziva ada apa??.." ucap pelayan yang lewat dan mendengar teriakan Ziva
"tok...tok...tok..." pelayan itu mengetuk pintu karena Ziva tidak menjawab.
"non..." pelayan
"aku baik baik saja... kamu boleh pergi" Ziva
"baiklah non..." pelayan itu langsung pergi.
setelah berfikir panjang Ziva memutuskan untuk tidak menemui Bima.
"aku tidak akan datang..." pesan Ziva
"dan jangan berharap kali ini aku mau mengikuti perkataan mu."
"tolong kali ini Bima jangan mengganggu ku... silahkan katakan semua pada Adryan. tapi ingat... jika Adryan tau semuanya aku akan bunuh diri."
"tolong jangan rusak kebahagiaan ku... aku sudah bahagia sekarang... dan kamu selalu datang merusak dan menghantuiku." pesan Ziva lalu memblokir semua nomor ataupun yang bersangkutan dengan Bima.
disebuah cafe Liora sedang nongkrong dengan teman teman geng nya.
"Lio... kamu kenapa sih... belakangan ini suka melamun. kamu ada masalah." tanya teman Lio
"iya benar... trus seperti orang kebingungan lagi." teman 2
"tidak kok... aku baik baik saja. hanya ada sedikit masalah dirumah." Liora
"kamu bisa ceritakan pada kami... siapa tau kami bisa membantu" teman 1
__ADS_1
"maaf tapi ini masalah keluarga..." ucap Liora yang tidak ingin temannya bertanya lebih dalam
"baiklah.. kami mengerti... tapi jika kamu butuh bantuan kami siap.." teman 3
"aku pulang dulu ya... maaf tidak bisa berlama lama..." Liora
"baiklah... kamu hati hati ya... ingat... jika butuh sesuatu tinggal kabari saja." teman 2
"ok" Liora pun langsung pulang.
Liora baru saja pulang dan tiba di mansion, saat hendak masuk kekamar nya tapi dihentikan oleh ibunya.
"Lio... kamu baru pulang sayang.."Nyonya Edward
"bisa kamu temani Ziva USG... bunda ada urusan buru buru..." Nyonya Edward
"maaf bun... tapi Lio sangat capek dan ingin istirahat." ucap Liora
"sebentar saja nak... kasihan Ziva jika pergi sendirian." Nyonya Edward
"bunda... Ziva tidak apa apa jika pergi sendirian. Lio kan ingin istirahat jadi aku tidak mau mengganggu nya." ucap Ziva
"tuh kan... bunda dengar sendiri dia bisa sendirian kesana." Liora
"kenapa Liora terlihat tidak menyukai ku ya... tidak seperti dulu... dulu dia sangat ingin dekat denganku trus.." batin Ziva
"aku akan pergi menemani nya.. barang kali aku bisa menemukan sedikit bukti." ucap Liora yang kembali bersemangat dan langsung bergegas turun.
"bunda..." teriak Liora dari atas.
"bunda... apa Ziva sudah pergi.." tanya Liora begitu turun dari atas
"masih di kamarnya.. kenapa??" Nyonya Edward
"biar aku temani saja... sekalian aku mau mampir ke suatu tempat." ucap Liora beralasan
"baiklah... kalian hati hati ya.mm bunda keluar dulu." Nyonya Edward
Liora pun pergi bersama Ziva namun sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja. Liora bingung mau memulai pembicaraan dari mana, karena kecurigaan itu Liora jadi sedikit tidak menyukai Ziva. sedangkan Ziva yang bingung dengan perubahan sikap Liora padanya. dan tidak tau mau memulai pembicaraan dari mana.
"maaf merepotkan mu Lio." akhirnya Ziva membuka suara.
"tidak masalah kak... aku juga mau ke suatu tempat.. jadi sekalian saja." Liora
pemeriksaan pun dilaksanakan dan Liora ikut masuk bersama dengan Ziva. Liora memperhatikan perut Ziva yang sudah membesar itu.
"apakah itu sungguh anaknya kak Ryan..." batin Liora
__ADS_1
"apakah ibu mau mendengarkan detak jantungnya." ucap dokter.
"boleh dok... aku ingin mendengarnya." Ziva
"sungguh itu suara jantungnya dok." ucap Ziva sambil menangis terharu.
"benar... alangkah baiknya jika kedepannya suami ibu yang mengantar. jadi bisa mendengar bersama sama." dokter.
Liora pun yang mendengar nya juga terharu, dan sesaat melupakan kecurigaan nya pada Ziva.
"kamu mendengar nya." ucap Ziva pada Liora
"emm..." Liora hanya mengangguk.
sudah sore hari Anna disibukkan dengan tanaman bunga bunga nya. setiap hari pagi dan sore Anna akan menyirami bunga bunga nya. Anna sangat senang jika berurusan dengan tanaman, ditengah tengah keasyikan Anna seseorang datang menemuinya.
"ehemm..." ucap Ziva yang datang menemui Anna
"ya... ada perlu apa???" tanya Anna
"tidak... aku hanya ingin menikmati suasana sore hari... apa aku boleh duduk disini." Ziva
"silahkan... tidak ada yang ngelarang." ucap Anna sambil melanjutkan aktivitas nya menyiram bunga.
"taman nya sangat indah... kamu sangat rajin mengelola nya." Ziva
"bagaimana jika kamu tidak lagi tinggal disini.. aku takut tidak ada yang merawatnya." lanjut Ziva
tidak tau apa maksud tujuan Ziva berbicara seperti itu, namun Anna sama sekali tidak memperdulikan perkataan Ziva.
"boleh aku yang melanjutkan nya jika kamu sudah tidak lagi tinggal disini." tanya Ziva
"tidak perlu... nanti tangan mulus kamu akan rusak..." jawab Anna
"aku sudah selesai... jika kamu masih ingin duduk disana silahkan." ucap Anna yang sudah selesai menyirami bunga bunga nya.
"kamu tidak ingin menemani ku disini. aku butuh teman untuk bercerita." Ziva
"kamu masuklah... hari akan semakin gelap.." ucap Anna lalu meninggalkan Ziva sendirian.
"aku butuh teman untuk bercerita tapi tidak ada yang ingin menemani ku" ucap Ziva
"aku takut... bagaimana jika ada yang tau kalau ini bukan anak Adryan." batin Ziva
"semakin hari ketakutan ku semakin besar..."
"apa yang sudah aku lakukan.... membohongi orang banyak... aku takut sekali" batin Ziva.
__ADS_1
Ziva sengaja datang ketaman belakang karena banyak pelayan yang bercerita disana sangat indah dan sejuk. kita bisa rileks kan pikiran begitu cerita pada pelayan disana. Ziva pun pergi namun yang ada ketakutan Ziva semakin besar.