
Nyonya Edward sangat bahagia dengan kelahiran anaknya Ziva itu, begitu juga dengan Adryan merasa bahagia namun ntah kenapa dilubuk hatinya yang terkecilnya tidak senang. Nyonya Edward juga merasa aneh, karena sedikitpun tidak ada kemiripan bayi itu dengan Adryan maupun Ziva.
"ntah kenapa aku merasa bahagia tapi di sisi lain aku merasa tidak bahagia... " batin Adryan
"kenapa??? kenapa seperti ada sesuatu yang aneh..." batin Adryan
"baby... kenapa??? kok kelihatan nya kamu tidak bahagia gitu." tanya Ziva
"tidak kok baby... aku sangat senang... akhirnya anak kita sudah lahir..." Adryan
"emmm... siapa nama anak itu kita itu... apa kamu sudah menemukan nya" Ziva
"belumm.... aku belum terpikirkan.." Adryan
"bagaimana dengan Maximilian... Maximilian Edward." Nyonya Edward
"bunda sudah lama memikirkan nya sejak lama" Nyonya Edward
"wahh... nama yang bagus bun... itu sangat cocok..." Ziva
"gimana baby... baguskan namanya..." Ziva
"emm.. iya nama yang bagus..." Adryan
Ziva hari itu sangat senang sekali namun disisi lain dia juga ketakutan dengan apa yang pernah Liora ucapkan padanya.
hari kedua pasca Ziva selesai melahirkan dan masih dirawat dirumah sakit, Liora mendapatkan kabar jika Bima akan berangkat hari ini. Liora akan pergi menemui Bima dan tidak akan membiarkannya pergi.
Liora sudah berkali kali menghubungi Bima namun tidak ada respon dari panggilan itu.
"astaga... please kak angkat kali ini aja." Liora masih dalam perjalanan ke bandara.
"ya ampun..." Liora yang kesal karena panggilannya masih tak ada balasan
begitu sampai dibandara Liora langsung berlari masuk dan mencari nya.
"permisi... penerbangan ke amerika apa sudah berangkat." tanya Liora pada petugas dibandara itu.
"belum... mungkin sekitar dua puluh menitan lagi." petugas bandara
"baiklah terimakasih..." Liora
dengan semangat Liora setelah mendengar penerbangan nya masih cukup lama lagi dan mencari Bima sampai masuk menerobos ke ruang tunggu (boarding roam).
__ADS_1
"Liora..." ucap seseorang yang Liora cari cari.
"astaga... kak bima... hah.... hah... hah..." Liora ngosngosan
"kamu kenapa disini..." Bima
"kenapa kakak tidak mengangkat panggilan ku" Liora
"ponselku tertinggal di apartemen ku... dan aku akan mengganti nya nanti setelah di amerika." Bima
"kak please jangan pergi.... aku mohon" Liora
"apa maksud kamu lio... aku harus pergi..." Bima
"aku tau... aku tau jika anak itu bukan anak kak Ryan melainkan anak kak Bima..." Liora
Bima terdiam karena terkejut mendengar nya.
"kak aku tau semuanya... bahkan sudah sejak lama...." Liora
"hanya saja aku tidak ada bukti..." Liora
"bagaimana bisa kamu tau..." Bima
"aku tidak bisa...." Bima
"kak... bagaimana bisa kakak setega ini... sudah mengkhianati persahabatan dengan kak Ryan. sekarang ikut Ziva membohongi semuanya. kak please... jangan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya lagi... dengan kakak pergi ke amerika itu tidak akan menyelesaikan masalah. yang ada masalah baru nantinya." Liora
"lio... aku tetap tidak bisa... aku akan akan berangkat pergi." Bima dengan keras kepalanya
"bagaimana bisa kakak membiarkan darah daging sendiri diklaim menjadi anak orang lain. aku juga tau kak Bima begitu mencintai Ziva... kak please ikut denganku... mungkin kak Ryan akan marah tapi lebih baik mengatakannya sekarang." Liora
"maaf Lio tapi aku harus tetap pergi..." Bima hendak meninggalkan Liora
"aku tetap tidak akan membiarkan bayi itu menjadi bermarga Edward... aku akan mengungkapkan nya sendiri pada kak Ryan dan bunda... karena anak kak Ryan sesungguhnya sudah ada... ada di kandungannya Anna. istri kak Ryan..." Liora
"apa katamu... Anna hamil" Bima
"yaa... anak dari kak Ryan... dan anak Ziva aku akan mengungkapkan nya meskipun kak Bima bersikeras untuk pergi." Liora
"apa kalian tidak berfikir bagaimana konsekuensi nya setelah berselingkuh dibelakang kak Ryan..." Liora
"terserah kakak mau pergi atau tidak... aku tetap akan mengungkapkan nya... apa kakak tega membiarkan Ziva menghadapinya sendirian... pikirkan baik baik kak... aku tidak berbohong... aku bersungguh-sungguh." Liora lalu pergi meninggalkan Bima
__ADS_1
"bagaimana ini..." batin Bima. Bima semakin kacau dengan pikiran nya setelah mendengar semua penjelasan dari Liora.
"ya ampun... apa yang harus aku lakukan..." Bima bingung sampai menggarut kepalanya yang tidak gatal.
"Halo. Para penumpang penerbangan nomor 56 tujuan New York dengan pemberhentian di Amsterdam dan Dubai mohon melakukan boarding dari gerbang C2, dan mohon pembebasan pas naik Anda dan pastikan Anda membawa semua barang bawaan Anda. Terima kasih)." pengumuman dari petugas bandara.
"ya Tuhan apa yang harus aku lakukan..." Bima semakin bingung karena mereka juga akan memasuki pesawat.
Bima lalu pergi mencari Liora yang belum lama pergi, Bima tidak mau membiarkan Ziva menghadapinya sendirian seperti kata Liora.
"ya... aku tidak boleh sepengecut ini... aku akan tetap mengakui bahwa itu adalah anak ku... darah dagingku..." Bima
Liora yang berjalan lemas karena tidak berhasil membujuk Bima untuk ikut bersamanya dan mengungkapkan semua.
"lio... tunggu..." Bima yang melihat Liora dari kejauhan
"lio...." teriak Bima
"hehh..." Liora berbalik
"kak Bima..." Liora
"aku akan ikut seperti yang kamu bicarakan..." Bima
"baiklah ayo... kak bima tidak perlu takut.... " Liora
mereka pun pergi meninggalkan bandara itu, namun Bima sudah sangat gugup jika mengingat apa yang Ziva katakan padanya.
"jika sampai mereka tau... jika mereka mengetahui ini aku akan bunuh diri.. aku tidak mau menikah denganmu... makanya kamu harus pergi jauh dari kehidupan ku... sampai tidak ada orang yang mencurigai ini." ucapan Ziva terakhir kalinya
Bima tiba tiba ngerem mobil sampai Liora terkejut.
"kak... apa apaan ini..." Liora
"maaf... aku tidak sengaja... " Bima
"kenapa?? apa yang kak bima khawatir kan..." Liora
"aku takut... Ziva pernah mengancamku dia akan bunuh diri jika sampai semua orang tau..." bima
"ckk... dasar wanita itu... dulu dia wanita yang baik... namun dengan kuasa seketika mata dan hatinya tertutup." Liora
"kak bima tak perlu takut... itu hanya sebuah ancaman... mau bagaimana pun kebohongan tidak bisa di tutupi selamanya." Liora
__ADS_1
"baiklah..." mereka pun kembali melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.